Malang, JurnalPost — Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan Prosodi Down, sebuah purwarupa aplikasi yang dirancang untuk membantu mengenali pola emosi anak dengan Down syndrome melalui karakteristik suara dalam tuturan.
Teknologi tersebut bekerja dengan menganalisis sejumlah karakteristik akustik suara, antara lain tinggi-rendah nada atau pitch, kuat-lemah suara atau intensitas, serta durasi tuturan. Data suara kemudian diproses menggunakan teknologi deep learning untuk mengenali pola yang berkaitan dengan kategori emosi tertentu.
Pengembangan Prosodi Down berangkat dari kebutuhan akan informasi tambahan yang dapat membantu orang tua maupun pendidik memahami kondisi emosi anak dengan Down syndrome melalui cara mereka bertutur.
Down syndrome merupakan kondisi genetik yang disebabkan adanya salinan tambahan kromosom 21. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan fisik, kemampuan kognitif, hingga kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomunikasi.
Dalam lingkungan sekolah luar biasa (SLB), kemampuan komunikasi verbal anak dengan Down syndrome tetap dapat berkembang. Namun, karakteristik tuturan tertentu terkadang membuat pesan yang ingin disampaikan perlu dikonfirmasi kembali oleh lawan bicara.
Hal tersebut juga ditemukan tim Prosodi Down ketika melakukan wawancara dengan salah seorang guru kelas di SLB C Autis Negeri Kedungkandang, Kota Malang.
Guru tersebut menjelaskan bahwa peserta didik dengan Down syndrome mampu mengembangkan komunikasi verbal, tetapi dalam situasi tertentu cara penyampaian tuturannya membuat guru atau orang di sekitar anak perlu memastikan kembali maksud yang sedang disampaikan.
Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi tim untuk mempelajari karakteristik emosi yang muncul melalui tuturan anak dengan Down syndrome.
Tidak hanya memperhatikan kata-kata yang diucapkan, tim juga mengamati unsur prosodi atau karakteristik suara yang menyertai tuturan, seperti perubahan tinggi-rendah nada, intensitas suara, dan durasi.
Kumpulkan 528 Segmen Tuturan
Dalam proses penelitian, tim Prosodi Down mengumpulkan sebanyak 528 segmen tuturan dari lima anak dengan Down syndrome.
Data tersebut diperoleh melalui pemberian stimulus audiovisual yang sebelumnya telah melalui proses validasi untuk memunculkan tuturan anak.
Seluruh tuturan yang terkumpul kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori emosi, yakni netral, senang, marah, dan sedih.
Ketua tim Prosodi Down, Fahmi Aditia Tauri, mengatakan kategori senang, marah, dan sedih dipilih karena termasuk emosi dasar yang digunakan dalam penelitian. Sementara kategori netral digunakan sebagai pembanding dalam pengembangan sistem.
“Emosi senang, marah, dan sedih kami pakai untuk diimplementasikan ke dalam pengembangan purwarupa aplikasi karena ketiga emosi tersebut merupakan emosi dasar. Sementara emosi netral dipakai sebagai garis dasar dalam pengembangan purwarupa aplikasi,” ujar Fahmi, Senin (1/9/2026).
Data tuturan tersebut selanjutnya dianalisis untuk melihat perbedaan karakteristik suara yang muncul pada masing-masing kategori emosi.
Analisis inilah yang kemudian digunakan tim untuk menentukan pola suara yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan sistem klasifikasi emosi.
Dengan demikian, penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada pemetaan karakteristik prosodi, tetapi dilanjutkan menjadi dasar pengembangan sebuah purwarupa teknologi yang dapat digunakan oleh calon pengguna.

Manfaatkan Teknologi Deep Learning
Tim PKM-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) kemudian memanfaatkan teknologi deep learning untuk mengolah pola-pola yang ditemukan dalam data suara menjadi sistem pada Prosodi Down.
Secara sederhana, teknologi tersebut memungkinkan sistem mempelajari pola tertentu dari sekumpulan data suara. Setelah proses pembelajaran dilakukan, sistem dapat memberikan klasifikasi berdasarkan karakteristik suara yang telah dikenali sebelumnya.
Pada purwarupa Prosodi Down, suara anak dapat direkam melalui aplikasi. Rekaman tersebut kemudian diproses oleh sistem untuk menghasilkan klasifikasi emosi secara real-time.
Aplikasi dirancang dengan alur penggunaan yang relatif sederhana agar dapat digunakan oleh pendidik maupun orang tua.
Pengguna terlebih dahulu merekam tuturan anak melalui aplikasi. Setelah data suara diproses, sistem akan menampilkan hasil klasifikasi emosi kepada pengguna.
Hasil klasifikasi tersebut juga tersimpan dalam fitur riwayat sehingga pengguna dapat melihat kembali data yang telah direkam sebelumnya.
Keberadaan fitur riwayat diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai pola emosi yang muncul dalam tuturan anak dari waktu ke waktu.
Meski demikian, tim menegaskan bahwa hasil yang diberikan Prosodi Down tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengamatan langsung dari orang tua, guru, ataupun pihak lain yang memahami kondisi anak.
Diuji Coba kepada Guru dan Orang Tua
Setelah purwarupa berhasil dikembangkan, tim membawa Prosodi Down ke tahap pengujian dengan melibatkan calon pengguna aplikasi.
Sebanyak 11 partisipan, terdiri atas lima orang tua dan enam guru kelas dari kelompok sasaran pengguna, mengikuti rangkaian uji coba yang dilaksanakan pada 14, 18, dan 20 Agustus 2026.
Dalam pengujian tersebut, para partisipan mencoba secara langsung sejumlah fitur yang tersedia di Prosodi Down.
Mereka kemudian memberikan penilaian terhadap aspek kemudahan penggunaan serta pengalaman selama berinteraksi dengan aplikasi.
Berdasarkan hasil pengujian, Prosodi Down memperoleh skor System Usability Scale (SUS) sebesar 80 persen.
Nilai tersebut menjadi salah satu indikator bahwa purwarupa sudah cukup mudah digunakan, meskipun masih terdapat sejumlah perbaikan minor yang perlu dilakukan.
Hasil uji coba tersebut selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi tim sebelum Prosodi Down dikembangkan dan diuji dalam skala yang lebih luas.
Tim juga menekankan bahwa Prosodi Down saat ini masih berada pada tahap purwarupa. Karena itu, klasifikasi yang diberikan oleh sistem harus dipahami sebagai informasi pendukung, bukan sebagai diagnosis terhadap kondisi emosi anak.
Pengamatan langsung dari orang tua, guru, serta pihak yang memahami karakter dan kondisi masing-masing anak tetap menjadi bagian penting dalam memahami perilaku maupun proses komunikasi secara menyeluruh.
Melalui Prosodi Down, tim mahasiswa UM berupaya mempertemukan kajian kebahasaan, khususnya karakteristik prosodi dalam tuturan, dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik suara berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu sumber informasi tambahan dalam memahami pola emosi yang muncul melalui tuturan anak dengan Down syndrome.
Meski masih membutuhkan penyempurnaan serta pengujian lanjutan dengan jumlah data dan partisipan yang lebih luas, Prosodi Down menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi yang diarahkan untuk mendukung proses komunikasi antara anak dengan Down syndrome, pendidik, dan keluarga.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda