SEMARANG, JurnalPost.com – Lahan di belakang SD Negeri Nongkosawit 01, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, kini tidak lagi sekadar menjadi ruang kosong. Area tersebut dimanfaatkan sebagai kebun produktif sekaligus laboratorium pembelajaran bagi murid melalui inovasi Lumbung Petani Cilik Berbantuan PERISEMAR.
Program ini mengajak murid mengenal proses pertanian sekaligus belajar melakukan penelitian sederhana dengan memanfaatkan potensi lingkungan di sekitar sekolah.
Ide Lumbung Petani Cilik berawal dari rasa ingin tahu murid mengenai makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Setelah mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG), sejumlah pertanyaan muncul, mulai dari asal bahan pangan hingga proses dan pihak yang memproduksi makanan tersebut.
Rasa penasaran itu kemudian dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan lahan belakang sekolah. Area yang sebelumnya belum digunakan secara maksimal tersebut diubah menjadi kebun yang dapat digunakan murid untuk mengamati tanaman, lingkungan, hingga proses pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan.
Melalui kegiatan ini, murid Fase C tidak hanya belajar melalui buku pelajaran. Mereka terlibat langsung dalam proses pengamatan lingkungan, mengenali tanaman, mencatat kondisi sekitar, melakukan penelitian sederhana, mengolah data, hingga mempresentasikan hasil temuannya.
Kebun sekolah pun menjadi ruang belajar terbuka yang memungkinkan murid menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan berbagai fenomena yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Didukung Media Digital PERISEMAR
Proses pembelajaran dalam program tersebut diperkuat dengan PERISEMAR atau Pembelajaran Mini Riset Berbasis Potensi Lokal Semarang.
PERISEMAR merupakan media digital yang dirancang untuk membantu murid menjalankan tahapan pembelajaran berbasis riset. Berbagai fitur tersedia di dalamnya, seperti materi pembelajaran, video, aktivitas interaktif, permainan edukatif, virtual laboratory, pencatatan tanaman, analisis data, hingga aktivitas refleksi.
Penggunaan teknologi dalam program ini tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan pembelajaran dalam format digital. Teknologi digunakan sebagai sarana membantu murid mencari informasi, mencatat hasil pengamatan, menganalisis data, serta membangun pemahaman berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh secara langsung.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), misalnya, murid dapat mempelajari konsep ekosistem dengan mengamati komponen biotik dan abiotik yang terdapat di kebun sekolah.
Mereka kemudian diajak memahami hubungan antarkomponen ekosistem, aliran energi, siklus materi, sumber daya alam, teknologi, serta berbagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Pembelajaran tersebut juga diintegrasikan dengan sejumlah mata pelajaran lain.
Pada Matematika, murid melakukan pengukuran serta mengolah data hasil pengamatan. Dalam Bahasa Indonesia, mereka berlatih melakukan wawancara, menyusun laporan penelitian, dan mempresentasikan hasil kegiatan. Sementara pada pembelajaran Seni, murid dapat menuangkan gagasan melalui poster maupun karya kreatif lainnya.

Dari Kompos hingga Eco-Enzyme
Pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan pengamatan dan penelitian. Murid juga diarahkan menghasilkan berbagai karya sederhana yang berhubungan dengan persoalan lingkungan.
Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain membuat alat penyiram tanaman dari botol bekas, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mengenal proses pembuatan eco-enzyme dari limbah kulit buah.
Hasil dari berbagai kegiatan tersebut selanjutnya dapat diperkenalkan melalui kegiatan Market Day di sekolah.
Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana pengetahuan yang mereka pelajari dapat digunakan untuk menciptakan karya dan solusi sederhana yang memiliki manfaat.
Melatih Kemampuan Riset Sejak Dini
Program Lumbung Petani Cilik sekaligus menjadi sarana untuk mengembangkan berbagai kompetensi murid.
Melalui kegiatan mengamati, meneliti, berdiskusi, membuat karya, hingga menyampaikan hasil penelitian, murid mendapatkan kesempatan untuk melatih kemampuan bernalar kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Aktivitas di kebun sekolah juga memberikan pengalaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta mengenal sektor pertanian dan potensi sumber daya lokal yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.
Pengenalan terhadap dunia pertanian menjadi penting, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perkembangan kawasan perkotaan dan semakin terbatasnya interaksi langsung dengan aktivitas produksi pangan.
Inovasi yang dikembangkan SD Negeri Nongkosawit 01 menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis riset tidak selalu harus dilakukan menggunakan fasilitas laboratorium yang kompleks.
Lingkungan terdekat dapat menjadi sumber belajar ketika dimanfaatkan secara terencana dan dihubungkan dengan materi pembelajaran.
Kebun sekolah yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari lingkungan sekolah kini berkembang menjadi ruang belajar tempat murid mengenal alam, teknologi, pengolahan data, hingga proses menghasilkan suatu karya.
Melalui Lumbung Petani Cilik Berbantuan PERISEMAR, rasa ingin tahu murid dipertemukan dengan pengalaman nyata dan pemanfaatan teknologi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat proses belajar menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, sekaligus relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda