SURABAYA, JurnalPost.com– Transformasi digital tidak lagi hanya menyasar perusahaan besar. Kelompok tani pun mulai memanfaatkan teknologi untuk memperkuat tata kelola usaha mereka. Tantangannya bukan sekadar menguasai aplikasi, melainkan mengubah kebiasaan mengelola usaha berdasarkan pencatatan manual menjadi keputusan yang bertumpu pada data.
Semangat itu terlihat dalam pelatihan yang digelar tim dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UPN Veteran Jawa Timur bersama Kelompok Tani Barokah, Surabaya Barat pada 28 Juni 2026. Pelatihan menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital kelompok tani melalui pemanfaatan aplikasi pencatatan keuangan berbasis web yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna di lapangan. Pelatihan ini menjadi rangkaian kegiatan dari program pendanaan hibah UPN Mengabdi yang diselenggarakan oleh LPPM UPN Veteran Jawa Timur.
Kelompok Tani Barokah selama ini telah memproduksi dan memasarkan sayuran hidroponik secara rutin. Namun pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual sehingga informasi mengenai biaya produksi, harga pokok produksi (HPP), titik impas (Break Even Point/BEP), maupun keuntungan usaha belum terdokumentasi secara utuh.
"Kami sudah terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi belum sampai menganalisis apakah usaha ini benar-benar memberikan keuntungan atau bagaimana kondisinya jika menghadapi risiko," ujar Ketua Kelompok Tani Barokah.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen mengembangkan AK USAHA, aplikasi yang memungkinkan pengguna mencatat transaksi usaha sekaligus memperoleh analisis mengenai HPP, BEP, profitabilitas, hingga laporan keuangan. Aplikasi juga dilengkapi fitur rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membantu pengguna mengevaluasi kondisi usahanya berdasarkan data yang telah dimasukkan. Fitur-fitur tersebut merupakan bagian dari sistem AK USAHA sebagaimana dijelaskan dalam modul pelatihan.
Dr. Akbar Haripura S.T., S.Agr., M.Agr selaku ketua tim pengabdian mengatakan, teknologi tersebut dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif agar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
"Digitalisasi tidak cukup hanya menyediakan aplikasi. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi itu benar-benar dipahami dan digunakan oleh masyarakat. Karena itu sistem ini kami bangun dari persoalan yang disampaikan langsung oleh kelompok tani."
Selain praktik menggunakan aplikasi, seluruh peserta memperoleh modul penggunaan sebagai panduan mandiri setelah pelatihan selesai. Modul tersebut juga mengingatkan bahwa rekomendasi AI merupakan alat bantu pengambilan keputusan sehingga tetap perlu ditelaah secara kritis dengan mempertimbangkan kondisi usaha di lapangan.
Menurut Nurul Komar, anggota Kelompok Tani Barokah, pendekatan tersebut membuat teknologi terasa lebih mudah diterapkan.
"Biasanya kami hanya mencatat transaksi. Sekarang kami mulai memahami bagaimana data itu bisa membantu melihat kondisi usaha dan merencanakan langkah berikutnya."
Di tengah percepatan digitalisasi UMKM yang terus didorong pemerintah, tantangan terbesar bukan lagi sekadar memperluas akses terhadap teknologi. Yang lebih menentukan adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengambil keputusan usaha secara lebih baik. Di titik itulah kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas menjadi bagian penting dari transformasi digital.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda