By: Auliya Dina Khasanah Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, UIN Surakarta
JurnalPost.com - Selama 6 tahun hidup di lingkungan pesantren, membaca bukanlah sesuatu yang terasa asing bagi saya. Mulai dari kitab, buku, catatan harian, koran harian yang dipajang di mading, novel, dan masih banyak lagi. Membaca bukan cuma dilakukan ketika ada tugas atau ujian, tetapi juga menjadi salah satu cara saya mengisi waktu kosong. Pada saat itu, HP dan teknologi belum seperti sekarang. Jadi, kalau sedang tidak ada kegiatan, membaca adalah salah satu hal yang bisa dilakukan. Setelah keluar dari pesantren, ada hal yang membuat saya merasa cukup berbeda. Dulu saya sering sekali bisa membaca satu buku dalam waktu dua hari, tetapi setelah keluar, waktu saya malah lebih banyak habis di HP hanya untuk scrolling. Padahal, kalau dipikir-pikir, di luar pesantren akses untuk mendapatkan buku dan informasi justru jauh lebih mudah. Namun, kebiasaan untuk membaca secara mendalam tidak selalu saya temukan seperti ketika masih berada di pesantren.
Perbedaan itu membuat saya melihat kembali pengalaman selama menjadi santri. Dulu, membaca kitab, mempelajari pelajaran, mencatat, berdiskusi, sampai mencari informasi dari berbagai sumber terasa biasa saja. Saya juga tidak pernah berpikir bahwa semua itu sebenarnya sudah termasuk dalam budaya literasi. Karena hampir setiap hari dilakukan, ya rasanya memang biasa saja. Baru setelah keluar dari pesantren saya mulai berpikir, “Kok bisa budaya literasi di pesantren terasa lebih hidup?”
Selama di pesantren, saya juga tidak cuma membaca karena disuruh. Saya memang punya beberapa bacaan yang saya sukai, salah satunya novel. Kalau sedang punya waktu luang, saya sering pergi ke perpustakaan pesantren untuk mencari novel yang menarik. Kalau sudah menemukan novel yang ceritanya membuat penasaran, saya bisa betah membacanya sampai lupa waktu. Bahkan, saya pernah membaca novel sekitar 500 halaman dalam satu hari. Kalau sekarang dipikir-pikir, saya sendiri juga bingung bagaimana bisa membaca sebanyak itu, padahal kegiatan di pesantren cukup padat. Ternyata alasannya sederhana, saya cuma penasaran bagaimana ending dari novel tersebut.
Saking penasarannya, saya pernah membawa novel ke berbagai kegiatan. Bahkan pernah juga diam-diam membaca novel ketika ustazah sedang menjelaskan. Kalau dipikir sekarang memang tidak baik juga, karena saya malah tidak memperhatikan ustazah dan sibuk dengan novel saya. Tapi dari situ saya sadar, ternyata kalau sudah terbiasa membaca sesuatu yang kita sukai, kita bisa betah berlama-lama tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang berat. Kebiasaan membaca novel itu bahkan terbawa sampai saya hampir lulus dari pesantren.
Setelah lulus dari pesantren, saya baru sadar kalau kebiasaan tersebut perlahan mulai hilang. Dulu membaca novel sampai lupa waktu, sekarang malah bisa betah scrolling TikTok sampai berjam-jam. Untuk membaca beberapa halaman buku saja terkadang sudah merasa malas. Dari situ saya mulai sadar bahwa ternyata lingkungan memang punya pengaruh yang besar terhadap kebiasaan seseorang. Dulu saya selalu dikelilingi teman-teman yang membaca, kegiatan mengaji, perpustakaan, kitab, dan berbagai macam buku. Sekarang lingkungan saya sudah berbeda. Saya lebih sering melihat orang sibuk dengan HP dan media sosialnya, termasuk diri saya sendiri.
Menurut saya, mungkin inilah salah satu alasan kenapa budaya literasi di pesantren terasa lebih hidup. Bukan berarti orang di luar pesantren tidak suka membaca. Hanya saja, di pesantren membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada teman yang membaca, ada kegiatan mengaji, ada perpustakaan, ada kitab, dan ada berbagai macam kegiatan yang membuat kita terus berhubungan dengan bacaan. Karena dilakukan terus-menerus, akhirnya membaca terasa biasa dan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dipaksakan.
Dari pengalaman saya selama enam tahun menjadi santri, saya baru sadar bahwa kebiasaan yang dulu saya anggap biasa ternyata cukup berharga. Saya tidak pernah menyangka bahwa setelah keluar dari pesantren, saya justru akan merindukan kebiasaan membaca yang dulu saya jalani hampir setiap hari. Mungkin memang benar, kita terkadang baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kita tidak lagi berada di dalamnya.
Jadi, kalau ditanya “Kok bisa budaya literasi di pesantren lebih hidup?”, menurut saya jawabannya bukan karena santri lebih pintar membaca atau orang di luar pesantren lebih malas. Lingkungan dan kebiasaanlah yang membuat perbedaan itu terasa. Di pesantren, membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar, kebiasaan itu membentuk kita untuk terus membaca, mencari tahu, dan belajar. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang baru saya sadari setelah enam tahun menjadi santri dan akhirnya hidup di luar pesantren.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda