Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kok Bisa? Budaya Literasi di Pesantren Lebih Hidup

Kok Bisa? Budaya Literasi di Pesantren Lebih Hidup

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
10 Agustus 2026, 16.33 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Kok Bisa

By: Auliya Dina Khasanah Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, UIN Surakarta

JurnalPost.com - Selama 6 tahun hidup di lingkungan pesantren, membaca bukanlah sesuatu yang terasa asing bagi saya. Mulai dari kitab, buku, catatan harian, koran harian yang dipajang di mading, novel, dan masih banyak lagi. Membaca bukan cuma dilakukan ketika ada tugas atau ujian, tetapi juga menjadi salah satu cara saya mengisi waktu kosong. Pada saat itu, HP dan teknologi belum seperti sekarang. Jadi, kalau sedang tidak ada kegiatan, membaca adalah salah satu hal yang bisa dilakukan. Setelah keluar dari pesantren, ada hal yang membuat saya merasa cukup berbeda. Dulu saya sering sekali bisa membaca satu buku dalam waktu dua hari, tetapi setelah keluar, waktu saya malah lebih banyak habis di HP hanya untuk scrolling. Padahal, kalau dipikir-pikir, di luar pesantren akses untuk mendapatkan buku dan informasi justru jauh lebih mudah. Namun, kebiasaan untuk membaca secara mendalam tidak selalu saya temukan seperti ketika masih berada di pesantren.

IKLAN

Perbedaan itu membuat saya melihat kembali pengalaman selama menjadi santri. Dulu, membaca kitab, mempelajari pelajaran, mencatat, berdiskusi, sampai mencari informasi dari berbagai sumber terasa biasa saja. Saya juga tidak pernah berpikir bahwa semua itu sebenarnya sudah termasuk dalam budaya literasi. Karena hampir setiap hari dilakukan, ya rasanya memang biasa saja. Baru setelah keluar dari pesantren saya mulai berpikir, “Kok bisa budaya literasi di pesantren terasa lebih hidup?”

KKN Universitas Warmadewa
Baca Juga

KKN Universitas Warmadewa Perkuat Smart Village di Desa Mekar Bhuwana

Selama di pesantren, saya juga tidak cuma membaca karena disuruh. Saya memang punya beberapa bacaan yang saya sukai, salah satunya novel. Kalau sedang punya waktu luang, saya sering pergi ke perpustakaan pesantren untuk mencari novel yang menarik. Kalau sudah menemukan novel yang ceritanya membuat penasaran, saya bisa betah membacanya sampai lupa waktu. Bahkan, saya pernah membaca novel sekitar 500 halaman dalam satu hari. Kalau sekarang dipikir-pikir, saya sendiri juga bingung bagaimana bisa membaca sebanyak itu, padahal kegiatan di pesantren cukup padat. Ternyata alasannya sederhana, saya cuma penasaran bagaimana ending dari novel tersebut.

IKLAN

Saking penasarannya, saya pernah membawa novel ke berbagai kegiatan. Bahkan pernah juga diam-diam membaca novel ketika ustazah sedang menjelaskan. Kalau dipikir sekarang memang tidak baik juga, karena saya malah tidak memperhatikan ustazah dan sibuk dengan novel saya. Tapi dari situ saya sadar, ternyata kalau sudah terbiasa membaca sesuatu yang kita sukai, kita bisa betah berlama-lama tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang berat. Kebiasaan membaca novel itu bahkan terbawa sampai saya hampir lulus dari pesantren.

Setelah lulus dari pesantren, saya baru sadar kalau kebiasaan tersebut perlahan mulai hilang. Dulu membaca novel sampai lupa waktu, sekarang malah bisa betah scrolling TikTok sampai berjam-jam. Untuk membaca beberapa halaman buku saja terkadang sudah merasa malas. Dari situ saya mulai sadar bahwa ternyata lingkungan memang punya pengaruh yang besar terhadap kebiasaan seseorang. Dulu saya selalu dikelilingi teman-teman yang membaca, kegiatan mengaji, perpustakaan, kitab, dan berbagai macam buku. Sekarang lingkungan saya sudah berbeda. Saya lebih sering melihat orang sibuk dengan HP dan media sosialnya, termasuk diri saya sendiri.

Menurut saya, mungkin inilah salah satu alasan kenapa budaya literasi di pesantren terasa lebih hidup. Bukan berarti orang di luar pesantren tidak suka membaca. Hanya saja, di pesantren membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada teman yang membaca, ada kegiatan mengaji, ada perpustakaan, ada kitab, dan ada berbagai macam kegiatan yang membuat kita terus berhubungan dengan bacaan. Karena dilakukan terus-menerus, akhirnya membaca terasa biasa dan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dipaksakan.

2B SDN 02 Kalongan22
Baca Juga

Bukan Sekadar Teori, Siswa Kelas 2B SDN 02 Kalongan Praktik 6 Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

Dari pengalaman saya selama enam tahun menjadi santri, saya baru sadar bahwa kebiasaan yang dulu saya anggap biasa ternyata cukup berharga. Saya tidak pernah menyangka bahwa setelah keluar dari pesantren, saya justru akan merindukan kebiasaan membaca yang dulu saya jalani hampir setiap hari. Mungkin memang benar, kita terkadang baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kita tidak lagi berada di dalamnya.

Jadi, kalau ditanya “Kok bisa budaya literasi di pesantren lebih hidup?”, menurut saya jawabannya bukan karena santri lebih pintar membaca atau orang di luar pesantren lebih malas. Lingkungan dan kebiasaanlah yang membuat perbedaan itu terasa. Di pesantren, membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar, kebiasaan itu membentuk kita untuk terus membaca, mencari tahu, dan belajar. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang baru saya sadari setelah enam tahun menjadi santri dan akhirnya hidup di luar pesantren.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kok-bisa-budaya-literasi-di-pesantren-lebih-hidup/96771/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #Berita Mahasiswa
  • #UIN Surakarta

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital
  2. 2

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  3. 3

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  4. 4

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  5. 5

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.