Oleh: Muhammad Tegar Qolbi
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost.com - Pernahkah kita merasa sedikit heran saat membuka TikTok atau Instagram? Baru saja tertarik pada suatu hal, tidak lama kemudian konten mengenai topik tersebut mulai bermunculan. Baru beberapa hari mencari sebuah produk, iklannya tiba-tiba hadir di berbagai platform. Bahkan ketika kita sedang mencari informasi tertentu, rasanya media sosial sudah lebih dulu memahami apa yang ingin kita lihat.
Situasi seperti itu sering membuat kita bertanya, “Kok algoritmanya tahu banget, sih?”
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun jika dipikirkan lebih jauh, ada persoalan menarik di baliknya. Apakah algoritma memang benar-benar mengenal kita? Atau sebenarnya selama ini kitalah yang tanpa sadar terus memberikan informasi kepada algoritma tentang siapa diri kita dan apa yang kita sukai?
Internet dan media sosial saat ini telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang atau sekitar 80,66 persen dari total populasi Indonesia telah menggunakan internet pada akhir 2025. Sementara itu, jumlah identitas pengguna media sosial tercatat sekitar 180 juta atau 62,9 persen dari populasi.
Angka tersebut memperlihatkan betapa besarnya ruang yang ditempati internet dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk berkomunikasi. Kita menggunakannya untuk mencari informasi, menikmati hiburan, mengikuti perkembangan tren, membangun relasi, hingga menentukan barang apa yang ingin dibeli.
Namun, setiap aktivitas itu meninggalkan sesuatu: jejak digital.
Kita Sendiri yang Mengajari Algoritma
Ketika menekan tombol suka, membagikan sebuah video, mengikuti akun, mengetik sesuatu di kolom pencarian, atau hanya menonton sebuah video sampai selesai, sebenarnya kita sedang memberikan informasi kepada platform.
TikTok, misalnya, menjelaskan bahwa sistem rekomendasinya mempertimbangkan berbagai bentuk interaksi pengguna. Konten yang kita tonton, konten yang dilewati, akun yang diikuti, hingga informasi yang terdapat dalam sebuah video dapat menjadi bagian dari pertimbangan sistem dalam menentukan rekomendasi berikutnya.
Artinya, ketika kita merasa algoritma sangat mengetahui apa yang kita sukai, sebenarnya sebagian informasi itu berasal dari tindakan kita sendiri.
Masalahnya, proses tersebut berlangsung begitu halus sehingga sering tidak kita sadari.
Bagi kita, aktivitas di media sosial mungkin hanya berupa scrolling, menonton video, tertawa, memberikan like, lalu berpindah ke konten berikutnya. Namun bagi sistem digital, tindakan-tindakan tersebut merupakan data.
Dari data itulah algoritma mulai membaca pola.
Jika kita sering menonton konten traveling, kemungkinan konten perjalanan akan semakin banyak muncul. Jika kita sering berinteraksi dengan topik pekerjaan dan karier, beranda kita perlahan akan dipenuhi konten serupa.
Begitu juga ketika kita sering mencari informasi mengenai olahraga, musik, teknologi, pendidikan, atau topik tertentu lainnya.
Dari sinilah terbentuk sebuah siklus.
Kita memilih konten. Algoritma membaca pilihan tersebut. Algoritma kemudian menawarkan konten yang mirip. Kita kembali tertarik dan berinteraksi dengan konten tersebut.
Proses itu terus berulang.
Pada titik tertentu, algoritma bukan hanya membaca apa yang kita sukai, tetapi juga ikut menentukan apa yang akan kita lihat berikutnya.
“For You” Belum Tentu Benar-Benar Tentang Kita
Tulisan “For You” atau “Untuk Anda” menjadi salah satu istilah yang sangat akrab di berbagai platform media sosial.
Seolah-olah platform sedang mengatakan, “Konten ini dibuat khusus untuk kamu.”
Dalam batas tertentu, pernyataan tersebut memang benar. Konten yang muncul biasanya telah disesuaikan berdasarkan pola aktivitas pengguna.
Namun personalisasi tidak berarti algoritma benar-benar memahami diri kita.
Algoritma tidak mengetahui secara utuh alasan seseorang menyukai sebuah video. Sistem hanya membaca perilaku yang dapat diukur.
Misalnya, ketika kita berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah konten, sistem mungkin menafsirkan tindakan itu sebagai tanda ketertarikan. Padahal bisa saja kita sedang melamun, menerima pesan dari seseorang, atau lupa melakukan scrolling.
Algoritma membaca tindakan, bukan selalu memahami alasan di balik tindakan tersebut.
Di sinilah muncul persoalan lain.
Ketika suatu jenis konten terus-menerus muncul di layar, kita bisa mulai merasa bahwa konten tersebut memang sesuai dengan diri kita. Padahal ketertarikan itu bisa saja semakin kuat karena kita terlalu sering terpapar hal yang sama.
Dengan kata lain, algoritma tidak hanya mengikuti preferensi kita. Dalam kondisi tertentu, algoritma juga dapat ikut memperkuat preferensi tersebut.
Ketika Beranda Terasa Seperti Gambaran Dunia
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan konsep filter bubble.
Sederhananya, pengguna semakin sering mendapatkan informasi yang sesuai dengan minat, kebiasaan, dan pola interaksi sebelumnya.
Sekilas, hal ini memang terasa nyaman. Kita tidak perlu mencari terlalu jauh karena konten yang dianggap menarik sudah tersedia di depan mata.
Namun ada risiko ketika kita mulai menganggap bahwa apa yang muncul di beranda merupakan gambaran lengkap tentang dunia.
Padahal belum tentu demikian.
Ketika seseorang terus mendapatkan konten dengan pendapat yang sama, ia bisa merasa seolah-olah semua orang memiliki pandangan serupa.
Ketika seseorang terus melihat gaya hidup tertentu, ia dapat menganggap bahwa kehidupan banyak orang memang seperti yang tampil di media sosial.
Padahal algoritma hanya menampilkan sebagian kecil informasi yang dinilai paling sesuai dengan pola perilaku pengguna.
Dunia tentu jauh lebih luas daripada halaman “For You” yang kita lihat setiap hari.
Perlu Lebih Kritis Menggunakan Media Sosial
Menurut saya, kondisi inilah yang membuat kita perlu lebih kritis saat menggunakan media sosial.
Bukan berarti teknologi atau algoritma harus selalu dicurigai.
Media sosial telah memberikan banyak manfaat. Melalui media sosial, seseorang dapat belajar, menemukan informasi baru, membangun komunitas, mempromosikan karya, membuka peluang usaha, hingga berkomunikasi dengan orang-orang yang berada jauh dari tempat tinggalnya.
Namun kita tetap perlu memahami bahwa apa yang muncul di layar tidak selalu hadir secara kebetulan.
Ada sistem yang bekerja di baliknya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat fenomena algoritma bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga bagian dari persoalan komunikasi.
Setiap hari kita seolah-olah terus berkomunikasi dengan platform digital melalui tindakan yang sangat sederhana. Setiap klik, pencarian, komentar, waktu menonton, dan interaksi menjadi bentuk informasi yang diberikan kepada sistem.
Data tersebut kemudian digunakan platform untuk “berkomunikasi kembali” kepada kita melalui rekomendasi konten yang dianggap paling relevan.
Hubungan antara manusia dan media digital akhirnya tidak lagi berlangsung satu arah.
Kita memilih konten, tetapi konten yang ditampilkan juga dapat memengaruhi pilihan kita berikutnya.
Karena itu, mungkin sesekali kita perlu berhenti scrolling dan bertanya kepada diri sendiri:
“Aku benar-benar menyukai hal ini, atau aku menyukainya karena terlalu sering melihatnya?”
Pertanyaan sederhana tersebut penting karena di tengah sistem digital yang semakin pintar, kemampuan untuk memahami diri sendiri menjadi semakin berharga.
Mungkin algoritma sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri.
Algoritma hanya memiliki begitu banyak data tentang kebiasaan kita, termasuk kebiasaan kecil yang terkadang bahkan tidak kita sadari.
Pada akhirnya, tantangan di era digital bukan hanya tentang bagaimana kita menggunakan algoritma.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana kita tetap memiliki kesadaran atas pilihan, minat, dan cara berpikir sendiri ketika algoritma semakin pandai mempelajari setiap jejak yang kita tinggalkan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda