Oleh: Abdul Muis, S.Si (Wakil Sekretaris IKA UNAIR Cab. Bangkalan)
JurnalPost.com - Ada satu pemandangan yang mungkin sekarang mulai akrab di banyak rumah. Seorang anak duduk mengerjakan pekerjaan rumah matematika. Ia membaca soal cukup lama, keningnya berkerut, lalu memutar-mutar pensil di tangannya. Beberapa menit kemudian, telepon genggam diambil. Soal difoto, dimasukkan ke aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI), dan tak lama kemudian jawaban muncul lengkap dengan langkah-langkah penyelesaiannya. Anak itu tersenyum. Tugas selesai.
Sebagai orang tua, mungkin kita ikut lega. Sebagai guru, mungkin kita senang karena tugas anak akhirnya selesai. Tetapi ada satu pertanyaan yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak: apakah anak itu benar-benar belajar matematika?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan anak. Mereka hanya menggunakan teknologi yang memang tersedia dan mudah digunakan. AI pun bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi ini dapat membantu siswa memahami materi yang sulit, memberikan contoh, mencari alternatif penyelesaian, bahkan membantu guru menyiapkan pembelajaran. Persoalannya bukan pada AI, melainkan pada cara kita menggunakannya. Jangan sampai kemudahan yang ditawarkan teknologi justru menggantikan proses belajar yang seharusnya dialami anak.
Dulu, ketika menemukan soal matematika yang sulit, seorang anak harus mencoba sendiri. Salah, menghapus, lalu mencoba lagi. Kadang ia bertanya kepada teman, membuka buku, atau menunggu kesempatan bertanya kepada guru. Proses itu memang tidak selalu menyenangkan. Ada rasa kesal, bingung, bahkan ingin menyerah. Namun, justru di situlah pembelajaran berlangsung.
Anak belajar bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dalam sekali percobaan. Ia belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang memalukan. Ia belajar mencari cara lain ketika cara pertama tidak berhasil. Tanpa disadari, matematika mengajarkan lebih dari sekadar angka dan rumus. Ia melatih kesabaran, ketekunan, keberanian mencoba, dan kemampuan menghadapi kegagalan.
Kini, banyak kesulitan tersebut dapat dilewati hanya dengan beberapa sentuhan layar. AI bisa menjelaskan rumus, memberikan contoh soal, menunjukkan langkah penyelesaian, bahkan menerangkan kembali materi dengan bahasa yang lebih sederhana. Ini tentu kemajuan yang patut dimanfaatkan. Tetapi pendidikan tidak selalu harus membuat segala sesuatu menjadi mudah. Ada kalanya anak memang perlu mengalami kesulitan agar mereka belajar bagaimana menghadapinya.
Karena itu, kita tidak perlu memusuhi AI. Melarang anak menggunakannya sama sekali juga bukan solusi. Mereka akan tumbuh di dunia yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan. Mereka perlu mengenal dan menguasai teknologi tersebut. Yang perlu kita ajarkan adalah kapan AI menjadi alat bantu dan kapan penggunaannya justru membuat anak berhenti berpikir.
Masalah mulai muncul ketika seorang anak belum mencoba mengerjakan soal, tetapi sudah meminta AI menyelesaikannya. Pertanyaan yang semula berbunyi, "Bagaimana cara menyelesaikan soal ini?" perlahan berubah menjadi, "Apa jawabannya?" Perubahan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi jika menjadi kebiasaan, anak dapat terlatih mendapatkan jawaban tanpa cukup terlatih mencari jawaban.
Padahal, matematika bukan hanya tentang jawaban akhir. Ketika seorang siswa mendapatkan angka 25, yang lebih penting bukan hanya apakah angka tersebut benar, tetapi mengapa jawabannya 25. Dari mana angka itu diperoleh? Mengapa menggunakan rumus tersebut? Adakah cara lain? Apakah hasilnya masuk akal?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu melatih nalar. Dan kemampuan tersebut akan semakin penting ketika AI semakin pintar. Sebab ketika mesin mampu memberikan begitu banyak jawaban, manusia tidak cukup hanya mampu menemukan jawaban. Kita harus mampu menilai apakah jawaban tersebut benar, masuk akal, dan sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Teknologi memang dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Tetapi jika semua persoalan yang seharusnya menjadi latihan berpikir langsung diserahkan kepada AI, kita patut bertanya: apa yang sebenarnya tersisa dari proses belajar?
Seorang anak mungkin mendapatkan nilai bagus karena jawabannya benar. Namun, nilai tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia memahami prosesnya. Sebaliknya, anak yang jawabannya masih salah tetapi mampu menjelaskan bagaimana ia mencoba menyelesaikannya sebenarnya sedang berada dalam proses belajar yang sangat penting.
Karena itu, peran guru justru semakin penting di era AI. AI dapat menjelaskan rumus, tetapi guru dapat melihat ketika seorang anak sebenarnya belum memahami meskipun mengatakan sudah. AI dapat memberikan berbagai soal, tetapi guru tahu kapan seorang anak membutuhkan tantangan dan kapan ia membutuhkan dorongan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi guru dapat mengatakan, "Tidak apa-apa kalau salah. Kita coba lagi."
Kalimat sederhana itu mungkin tidak bisa digantikan oleh teknologi. Bagi seorang anak, dukungan seperti itu bisa menjadi alasan untuk berani mencoba kembali. Guru bukan hanya pengajar matematika, tetapi juga pendamping yang membantu anak belajar menghadapi kegagalan.
Orang tua pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Di rumah, mungkin selama ini kita lebih sering bertanya, "Tugasnya sudah selesai?" Di era AI, pertanyaan itu bisa kita ubah menjadi, "Kamu mengerjakannya bagaimana?", "Bagian mana yang paling sulit?", atau "Coba jelaskan kepada Ayah atau Ibu."
Pertanyaan sederhana tersebut membuat anak kembali berpikir tentang proses yang telah dilaluinya. Tidak masalah jika tugas selesai lebih lama. Tidak masalah jika jawabannya salah. Bahkan tidak masalah jika anak harus menghapus dan mengulang dari awal. Sebab ada sesuatu yang lebih penting daripada tugas yang cepat selesai, yaitu kesempatan bagi anak untuk belajar menyelesaikan masalah.
Kita juga perlu menerima kenyataan bahwa mesin akan semakin pintar. AI akan mampu menghitung lebih cepat, membaca pola lebih baik, dan memberikan jawaban dalam waktu singkat. Karena itu, kita tidak perlu mendidik anak untuk berlomba dengan mesin.
Yang perlu kita bangun justru kemampuan yang membuat manusia tetap memiliki nilai: kemampuan bertanya, meragukan, memahami konteks, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, membedakan informasi yang benar dan keliru, serta berani mengatakan, "Saya tidak yakin, saya ingin memeriksanya lagi."
Itulah berpikir kritis.
AI akan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita. Kita tidak bisa dan tidak perlu menghindarinya. Yang perlu dilakukan adalah mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak. Gunakan AI untuk memahami materi, mencari alternatif, berdiskusi, atau memeriksa kesalahan. Tetapi sebelum itu semua, ada satu kebiasaan sederhana yang perlu tetap dijaga: coba dulu. Pikirkan dulu. Buat dugaan. Salah tidak apa-apa. Coba lagi. Setelah itu, jika memang diperlukan, tanyakan kepada AI.
Sebab mungkin inilah paradoks pendidikan di era kecerdasan buatan: ketika jawaban semakin mudah ditemukan, kemampuan untuk berpikir justru menjadi semakin berharga.
Matematika pada akhirnya bukan sekadar angka dan rumus. Ia adalah latihan kecil untuk menghadapi kehidupan. Ketika menghadapi masalah, kita belajar memahami. Ketika salah, kita belajar memperbaiki. Ketika gagal, kita belajar mencoba lagi. Dan ketika akhirnya menemukan jalan keluar, kita belajar bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari jawaban pertama . Jangan sampai karena ingin membuat anak lebih mudah belajar, kita justru mengambil kesempatan mereka untuk belajar dari kesulitan.
AI boleh membantu anak menemukan jawaban. Tetapi jangan biarkan AI mengambil kesempatan anak untuk menemukan cara berpikirnya sendiri. Sebab kita tidak sedang berlomba membuat anak lebih pintar daripada mesin. Kita sedang memastikan bahwa ketika mesin semakin pintar, anak-anak kita tetap mampu berpikir, mempertanyakan, memilih, dan mengambil keputusan sebagai manusia.
Mungkin, itulah pekerjaan rumah terbesar pendidikan kita hari ini: bukan bagaimana mengajarkan anak menggunakan AI, tetapi bagaimana memastikan mereka tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir ketika menggunakannya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda