JurnalPost.com - "Kini di Indonesia, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China dapat dijumpai di mana-mana," ujar Humprey Arnaldo Russell, kepala Pusat Penelitian ASEAN-China di Universitas Indonesia (UI). "Saya menilai ini sebagai perkembangan yang sangat positif. Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, saya yakin kita bahkan dapat berkolaborasi dengan China untuk memproduksi kendaraan listrik secara lokal."
Masih banyak hal lagi yang dapat dipelajari ASEAN dari pengalaman China, terutama dalam bidang teknologi dan energi hijau, di mana China menjadi yang terdepan, ujar Russell, seraya menambahkan bahwa China memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi ASEAN dan pembangunan berkelanjutannya akan tetap menjadi mesin penggerak yang kuat bagi kawasan ini.
Pada Juli, peletakan batu pertama megaproyek baterai EV baru di Indonesia menandai tonggak sejarah baru dalam rantai pasokan EV negara kepulauan tersebut yang berkembang pesat, didorong oleh investasi China. Proyek itu mencakup seluruh rantai pasokan, mulai dari penambangan dan pengolahan nikel hingga produksi, manufaktur, dan daur ulang material baterai.
Inisiatif energi hijau tersebut, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 60 MW yang dikerjakan oleh sebuah perusahaan China di Indonesia, sangat selaras dengan komitmen jangka panjang Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060.
Transformasi ini "lebih dari sekadar transisi energi," ujar Fahmy Radhi, seorang pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). "Transformasi ini membuka pintu bagi teknologi bersih, mendorong pembangunan infrastruktur hijau, dan menyediakan sebuah jalur strategis bagi Indonesia untuk menjadi negara industri berbasis energi bersih."
PERTUKARAN YANG SEMAKIN ERAT
Dari kerja sama infrastruktur berskala besar hingga perjalanan dan konsumsi sehari-hari, pertukaran yang semakin erat antara masyarakat China dan ASEAN memperkuat kepercayaan, pemahaman, dan persahabatan.
Mengenang kembali masa-masa awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), berbagai kisah tentang pembangunan kepercayaan dan pendalaman pemahaman antara tim China dan Indonesia masih membekas dalam ingatan Zhang Chao, direktur eksekutif PT Kereta Cepat Indonesia China, seperti membagikan angpau kepada staf Indonesia untuk merayakan Tahun Baru Imlek bersama, dan melihat rekan-rekan satu tim Indonesia membuat kue bulan untuk kolega China mereka saat Festival Pertengahan Musim Gugur, dan lain sebagainya.
Zhang mengatakan bahwa inilah saatnya baginya untuk menyadari bahwa pengakuan budaya, persahabatan, dan rasa saling percaya mulai berakar.
Momentum ini juga dirasakan setiap hari di seluruh kawasan tersebut, karena pertukaran antarmasyarakat yang rutin semakin menyatukan pasar dan komunitas.
Pengalaman langsung para wisatawan China di berbagai negara ASEAN bisa terasa sangat akrab. Kehadiran restoran-restoran China, semakin banyaknya merek minuman seperti Mixue dan CHAGEE, serta gerai-gerai retail seperti POP MART dan MINISO, semuanya menghadirkan suasana hangat yang membuat mereka seolah belum meninggalkan rumah.
Setelah perjanjian bebas visa timbal balik antara China dan Malaysia berlaku efektif pada 17 Juli, Lee Thai Hung, wakil direktur jenderal Pariwisata Malaysia, segera memanfaatkan ruang-ruang siaran langsung (live streaming) di berbagai platform utama China seperti Trip.com, Meituan, dan Fliggy untuk memperkenalkan budaya, kuliner, dan pengalaman wisata khas Malaysia kepada warganet China.
"Kami menargetkan 47 juta pengunjung internasional pada 2026 dan menghasilkan pendapatan pariwisata sebesar 329 miliar ringgit (1 ringgit Malaysia = Rp3.937)," ujar Lee. "Kami yakin bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan China yang berkelanjutan akan membantu Malaysia mencapai target ini sekaligus memainkan peran penting dalam memperkuat lebih lanjut hubungan ekonomi dan perdagangan Malaysia-China."
Saat ini, China memiliki perjanjian bebas visa timbal balik dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia untuk pemegang paspor biasa, yang memungkinkan masa tinggal hingga 30 hari setiap kunjungan. Selain itu, China telah memberikan akses bebas visa timbal balik kepada Brunei dan meluncurkan "Visa ASEAN" bagi para pelaku bisnis yang memenuhi syarat dari seluruh negara ASEAN, membuat pergerakan lintas batas di kawasan itu menjadi lebih lancar. (Xinhua).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda