Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kenneth Trevi Buktikan Disleksia Bukan Penghalang Berkarya di Musik

Kenneth Trevi Buktikan Disleksia Bukan Penghalang Berkarya di Musik

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
18 Juni 2026, 11.17 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Kenneth Trevi

Jakarta, JurnalPost.com - Perjalanan musik Kenneth Trevi terus berkembang. Musisi muda yang tumbuh bersama disleksia itu kini tak hanya dikenal sebagai penyanyi, tetapi juga mulai menulis lagu dan terlibat langsung dalam proses produksi musik sebagai Recording Engineer.

Perkembangan itu menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar dan berkarya. Kenneth justru menunjukkan bahwa dengan dukungan, kesempatan, dan proses yang konsisten, seseorang dapat mengambil peran lebih luas di industri musik.

IKLAN

Momentum tersebut semakin terasa setelah video musik terbaru Kenneth berjudul Aku Berbeda Aku Bisa mencatat lebih dari 9 ribu penayangan di kanal YouTube pada Kamis (18/6/2026). Capaian itu diraih hanya dalam lima hari sejak video musik tersebut dirilis.

Baguskhare Tembus Ribuan Pemutaran di Jerman
Baca Juga

Lagu “Bersatu” dari Baguskhare Berhasil Tembus Ribuan Pemutaran di Jerman

Lagu Aku Berbeda Aku Bisa membawa pesan tentang keberanian menerima diri sendiri. Lagu itu juga menjadi representasi perjalanan hidup Kenneth dalam menghadapi berbagai tantangan dan terus melangkah maju.

Perjalanan Kenneth dalam menulis lagu berawal dari dorongan dan pendampingan produser musik Rulli Aryanto. Pada awalnya, Kenneth mengaku sempat ragu karena merasa kesulitan menuangkan ide ke dalam lirik.

Namun melalui proses belajar secara bertahap, Kenneth mulai berani menentukan tema, menyusun kalimat demi kalimat, hingga akhirnya menemukan kepercayaan diri untuk melahirkan karya sendiri.

Pendampingan tersebut tidak hanya berhenti pada penulisan lagu. Kenneth juga diajak mengenal berbagai aspek teknis produksi musik. Ia mulai dari mengamati proses di studio, membantu memutar materi musik, hingga mempelajari penggunaan perangkat lunak rekaman secara perlahan.

ATL 87
Baca Juga

ATL 87 Hidupkan Kembali “Tiada Yang Lain”, Merawat Kenangan yang Terpisah Takdir dan Misteri

Keterlibatan Kenneth sebagai Recording Engineer menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Peran itu membuatnya terlibat langsung dalam proses perekaman vokal dan memberi pengalaman baru di balik layar industri musik.

Bagi Kenneth, tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi yang digunakan. Ia mengaku tantangan lain justru muncul dalam hal komunikasi dan memahami instruksi teknis yang kompleks.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Kenneth menerapkan cara belajar sederhana. Ia belajar sedikit demi sedikit, mengulang melalui praktik, dan terus meminta pendampingan dari orang-orang yang memahami kebutuhannya.

Filosofi “lihat dulu, ikut dulu, coba dulu, salah tidak apa-apa, lalu ulang lagi” menjadi pegangan Kenneth dalam proses belajarnya. Dari cara itulah ia perlahan mampu menjalankan tanggung jawab teknis di studio.

Amira Kim
Baca Juga

Amira Kim dan Senada Digital Records Ceritakan Kekayaan Nusantara Lewat Musik

Kolaborasi dengan Rulli Aryanto juga memberi banyak pelajaran bagi Kenneth. Ia belajar bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil akhir. Menurutnya, keberanian untuk memulai dan terus melangkah, meski hanya satu langkah kecil, jauh lebih berarti daripada memilih diam.

Lagu Aku Berbeda Aku Bisa memiliki makna personal bagi Kenneth. Lewat lagu itu, ia ingin menyampaikan bahwa perbedaan tidak perlu disembunyikan. Ia juga ingin menegaskan bahwa seseorang tidak harus menjadi seperti orang lain untuk dianggap berharga.

IKLAN

“Jangan berhenti pada kalimat ‘Aku Berbeda’. Lanjutkan sampai ‘Aku Bisa’. Ketika kita berani menunjukkan kemampuan yang kita miliki, orang lain akan melihat nilai besar yang ada dalam diri kita,” ungkap Kenneth.

Pesan pemberdayaan dalam lagu itu semakin kuat dengan keterlibatan 15 anak down syndrome dalam video musik Aku Berbeda Aku Bisa. Kenneth mengaku terkesan dengan antusiasme dan ketulusan para peserta selama proses produksi berlangsung.

Menurut Kenneth, semangat para peserta menghadirkan energi positif yang membuat proyek tersebut memiliki makna lebih dari sekadar karya musik.

Salah satu momen paling menyentuh bagi Kenneth terjadi ketika ia melihat hasil rekaman video yang dibuat para peserta dari rumah masing-masing. Dari setiap penampilan, ia melihat kebanggaan, kegembiraan, dan kejujuran yang terpancar dengan tulus.

Pengalaman itu menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi Kenneth sepanjang proses produksi video musik tersebut.

Tak hanya tampil dalam video musik, 15 anak down syndrome itu juga terlibat dalam proyek rekaman lagu. Proses tracking vokal mereka turut ditangani oleh Kenneth. Kesempatan tersebut memberi pengalaman emosional yang mendalam karena Kenneth merasa melihat refleksi perjuangannya sendiri dalam diri mereka.

“Bukan tentang musik atau lagu semata. Yang paling penting adalah kesempatan. Kami tahu bahwa mencapai titik ini tidak mudah, sehingga kesempatan yang datang tidak boleh disia-siakan,” tutur Kenneth.

Sementara itu, ibunda Kenneth, Yuly Twins, mengaku bangga melihat perkembangan putranya dari tahun ke tahun. Menurutnya, pencapaian Kenneth bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan buah dari proses panjang yang penuh perjuangan, air mata, dan ketekunan.

Yuly menjelaskan, inspirasi lagu Aku Berbeda Aku Bisa yang ia tulis bersama Rulli Aryanto lahir dari pengalaman mendampingi Kenneth tumbuh di tengah lingkungan anak-anak tipikal. Meski terlihat berbeda, Kenneth selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri sejajar dan meraih kesempatan yang sama.

Menurut Yuly, perjalanan dari kalimat “Aku Berbeda” menuju “Aku Bisa” menyimpan cerita panjang yang tidak mudah bagi banyak anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka. Di balik perjalanan itu ada keberanian, penerimaan diri, pengorbanan, dan kerja keras yang kerap tidak terlihat oleh masyarakat.

Melalui keterlibatan 15 anak down syndrome dalam proyek musik tersebut, Yuly berharap masyarakat mulai melihat anak-anak berkebutuhan khusus dari kemampuan yang mereka miliki, bukan hanya dari keterbatasannya.

Ia meyakini, ketika anak-anak berkebutuhan khusus diberi ruang yang tepat, kesempatan yang setara, dan kepercayaan yang tulus, potensi besar dalam diri mereka akan muncul.

Kisah Kenneth Trevi menjadi bukti bahwa dukungan, kesempatan, dan keyakinan dapat membuka jalan bagi siapa saja untuk berkembang. Dari seorang penyanyi muda dengan disleksia, Kenneth kini tumbuh menjadi sosok yang tak hanya berkarya di depan mikrofon, tetapi juga menulis lagu dan berkontribusi dalam proses produksi musik.

Perjalanan Kenneth menegaskan pesan sederhana namun kuat: berbeda bukan alasan untuk berhenti, melainkan awal untuk membuktikan bahwa setiap orang bisa.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kenneth-trevi-buktikan-disleksia-bukan-penghalang-berkarya-di-musik/94617/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.18 WITA

  • #Musisi Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD
  2. 2

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  3. 3

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  4. 4

    Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

  5. 5

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.