Jakarta, JurnalPost.com - Perjalanan musik Kenneth Trevi terus berkembang. Musisi muda yang tumbuh bersama disleksia itu kini tak hanya dikenal sebagai penyanyi, tetapi juga mulai menulis lagu dan terlibat langsung dalam proses produksi musik sebagai Recording Engineer.
Perkembangan itu menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar dan berkarya. Kenneth justru menunjukkan bahwa dengan dukungan, kesempatan, dan proses yang konsisten, seseorang dapat mengambil peran lebih luas di industri musik.
Momentum tersebut semakin terasa setelah video musik terbaru Kenneth berjudul Aku Berbeda Aku Bisa mencatat lebih dari 9 ribu penayangan di kanal YouTube pada Kamis (18/6/2026). Capaian itu diraih hanya dalam lima hari sejak video musik tersebut dirilis.
Lagu Aku Berbeda Aku Bisa membawa pesan tentang keberanian menerima diri sendiri. Lagu itu juga menjadi representasi perjalanan hidup Kenneth dalam menghadapi berbagai tantangan dan terus melangkah maju.
Perjalanan Kenneth dalam menulis lagu berawal dari dorongan dan pendampingan produser musik Rulli Aryanto. Pada awalnya, Kenneth mengaku sempat ragu karena merasa kesulitan menuangkan ide ke dalam lirik.
Namun melalui proses belajar secara bertahap, Kenneth mulai berani menentukan tema, menyusun kalimat demi kalimat, hingga akhirnya menemukan kepercayaan diri untuk melahirkan karya sendiri.
Pendampingan tersebut tidak hanya berhenti pada penulisan lagu. Kenneth juga diajak mengenal berbagai aspek teknis produksi musik. Ia mulai dari mengamati proses di studio, membantu memutar materi musik, hingga mempelajari penggunaan perangkat lunak rekaman secara perlahan.
Keterlibatan Kenneth sebagai Recording Engineer menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Peran itu membuatnya terlibat langsung dalam proses perekaman vokal dan memberi pengalaman baru di balik layar industri musik.
Bagi Kenneth, tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi yang digunakan. Ia mengaku tantangan lain justru muncul dalam hal komunikasi dan memahami instruksi teknis yang kompleks.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Kenneth menerapkan cara belajar sederhana. Ia belajar sedikit demi sedikit, mengulang melalui praktik, dan terus meminta pendampingan dari orang-orang yang memahami kebutuhannya.
Filosofi “lihat dulu, ikut dulu, coba dulu, salah tidak apa-apa, lalu ulang lagi” menjadi pegangan Kenneth dalam proses belajarnya. Dari cara itulah ia perlahan mampu menjalankan tanggung jawab teknis di studio.
Kolaborasi dengan Rulli Aryanto juga memberi banyak pelajaran bagi Kenneth. Ia belajar bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil akhir. Menurutnya, keberanian untuk memulai dan terus melangkah, meski hanya satu langkah kecil, jauh lebih berarti daripada memilih diam.
Lagu Aku Berbeda Aku Bisa memiliki makna personal bagi Kenneth. Lewat lagu itu, ia ingin menyampaikan bahwa perbedaan tidak perlu disembunyikan. Ia juga ingin menegaskan bahwa seseorang tidak harus menjadi seperti orang lain untuk dianggap berharga.
“Jangan berhenti pada kalimat ‘Aku Berbeda’. Lanjutkan sampai ‘Aku Bisa’. Ketika kita berani menunjukkan kemampuan yang kita miliki, orang lain akan melihat nilai besar yang ada dalam diri kita,” ungkap Kenneth.
Pesan pemberdayaan dalam lagu itu semakin kuat dengan keterlibatan 15 anak down syndrome dalam video musik Aku Berbeda Aku Bisa. Kenneth mengaku terkesan dengan antusiasme dan ketulusan para peserta selama proses produksi berlangsung.
Menurut Kenneth, semangat para peserta menghadirkan energi positif yang membuat proyek tersebut memiliki makna lebih dari sekadar karya musik.
Salah satu momen paling menyentuh bagi Kenneth terjadi ketika ia melihat hasil rekaman video yang dibuat para peserta dari rumah masing-masing. Dari setiap penampilan, ia melihat kebanggaan, kegembiraan, dan kejujuran yang terpancar dengan tulus.
Pengalaman itu menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi Kenneth sepanjang proses produksi video musik tersebut.
Tak hanya tampil dalam video musik, 15 anak down syndrome itu juga terlibat dalam proyek rekaman lagu. Proses tracking vokal mereka turut ditangani oleh Kenneth. Kesempatan tersebut memberi pengalaman emosional yang mendalam karena Kenneth merasa melihat refleksi perjuangannya sendiri dalam diri mereka.
“Bukan tentang musik atau lagu semata. Yang paling penting adalah kesempatan. Kami tahu bahwa mencapai titik ini tidak mudah, sehingga kesempatan yang datang tidak boleh disia-siakan,” tutur Kenneth.
Sementara itu, ibunda Kenneth, Yuly Twins, mengaku bangga melihat perkembangan putranya dari tahun ke tahun. Menurutnya, pencapaian Kenneth bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan buah dari proses panjang yang penuh perjuangan, air mata, dan ketekunan.
Yuly menjelaskan, inspirasi lagu Aku Berbeda Aku Bisa yang ia tulis bersama Rulli Aryanto lahir dari pengalaman mendampingi Kenneth tumbuh di tengah lingkungan anak-anak tipikal. Meski terlihat berbeda, Kenneth selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri sejajar dan meraih kesempatan yang sama.
Menurut Yuly, perjalanan dari kalimat “Aku Berbeda” menuju “Aku Bisa” menyimpan cerita panjang yang tidak mudah bagi banyak anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka. Di balik perjalanan itu ada keberanian, penerimaan diri, pengorbanan, dan kerja keras yang kerap tidak terlihat oleh masyarakat.
Melalui keterlibatan 15 anak down syndrome dalam proyek musik tersebut, Yuly berharap masyarakat mulai melihat anak-anak berkebutuhan khusus dari kemampuan yang mereka miliki, bukan hanya dari keterbatasannya.
Ia meyakini, ketika anak-anak berkebutuhan khusus diberi ruang yang tepat, kesempatan yang setara, dan kepercayaan yang tulus, potensi besar dalam diri mereka akan muncul.
Kisah Kenneth Trevi menjadi bukti bahwa dukungan, kesempatan, dan keyakinan dapat membuka jalan bagi siapa saja untuk berkembang. Dari seorang penyanyi muda dengan disleksia, Kenneth kini tumbuh menjadi sosok yang tak hanya berkarya di depan mikrofon, tetapi juga menulis lagu dan berkontribusi dalam proses produksi musik.
Perjalanan Kenneth menegaskan pesan sederhana namun kuat: berbeda bukan alasan untuk berhenti, melainkan awal untuk membuktikan bahwa setiap orang bisa.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda