Kemiskinan sebagai Kekejian: Memahami Luka Psikis Anak
Oleh: Bonar Hutapea[i]
JurnalPost.com - Tragedi yang menimpa seorang anak sekolah dasar di Bajawa, NTT, beberapa waktu lalu, bukan sekadar angka dalam daftar kerentanan anak di negeri ini. Peristiwa itu adalah sebuah goncangan hebat bagi nurani kolektif kita.
Di balik rincian kejadiannya yang menyayat hati, terselip narasi perih tentang kemiskinan ekstrem yakni tentang seorang anak yang berdiri dalam kerapuhan berlapis karena keadaan ekonomi.
Namun, kita harus jujur bahwa tragedi ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah kekejian sistemik yang dialami jutaan anak lain. Kita perlu berhenti melihat kemiskinan sebatas angka statistik ekonomi, dan mulai mengakuinya sebagai bentuk kekejian psikologis yang mencabik-cabik jiwa anak-anak kita.
Apa yang terjadi di pelosok NTT tersebut merupakan potret makro dari luka psikis yang menghantui setiap anak yang tumbuh dalam jeratan kemiskinan ekstrem, di mana pun mereka berada.
Bagi mereka, hidup bukan lagi tentang eksplorasi dunia, melainkan negosiasi melelahkan untuk sekadar bertahan hidup. Tak hanya soal piring yang kosong, tapi soal perampasan hak paling dasar manusia yakni rasa aman dan martabat.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda