Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kemiskinan sebagai Kekejian: Memahami Luka Psikis Anak

Kemiskinan sebagai Kekejian: Memahami Luka Psikis Anak

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
10 Februari 2026, 21.03 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Kemiskinan
Oleh: Bonar Hutapea[i] JurnalPost.com - Tragedi yang menimpa seorang anak sekolah dasar di Bajawa, NTT, beberapa waktu lalu, bukan sekadar angka dalam daftar kerentanan anak di negeri ini. Peristiwa itu adalah sebuah goncangan hebat bagi nurani kolektif kita. Di balik rincian kejadiannya yang menyayat hati, terselip narasi perih tentang kemiskinan ekstrem yakni tentang seorang anak yang berdiri dalam kerapuhan berlapis karena keadaan ekonomi. Namun, kita harus jujur bahwa tragedi ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah kekejian sistemik yang dialami jutaan anak lain. Kita perlu berhenti melihat kemiskinan sebatas angka statistik ekonomi, dan mulai mengakuinya sebagai bentuk kekejian psikologis yang mencabik-cabik jiwa anak-anak kita. Apa yang terjadi di pelosok NTT tersebut merupakan potret makro dari luka psikis yang menghantui setiap anak yang tumbuh dalam jeratan kemiskinan ekstrem, di mana pun mereka berada. Bagi mereka, hidup bukan lagi tentang eksplorasi dunia, melainkan negosiasi melelahkan untuk sekadar bertahan hidup. Tak hanya soal piring yang kosong, tapi soal perampasan hak paling dasar manusia yakni rasa aman dan martabat.

Pembajakan kognitif oleh kemiskinan

Secara biologis, kemiskinan memicu respons stres berkepanjangan yang oleh para ahli sering disebut sebagai toxic stress. Kondisi ini memaksa anak berada dalam "mode bertahan hidup" secara permanen. Dalam penelitian Clancy Blair dan Cybele Raver tahun 2012 dijelaskan bahwa keterpaparan kronis terhadap stres akibat kemiskinan ini secara langsung mengganggu perkembangan pusat kendali otak yang mengatur emosi, fokus, dan pengambilan keputusan. Alih-alih "merusak", kemiskinan sebenarnya memaksa otak melakukan adaptasi yang salah sasaran. Lonjakan hormon kortisol yang terus-menerus membuat energi psikis anak habis terkuras untuk menjaga kewaspadaan, dan bukan untuk belajar. Akibatnya, mereka sering kali dicap "malas" atau "lamban", padahal secara neurologis otak mereka bekerja terlalu keras untuk meredam kecemasan sistemik akibat instabilitas hidup yang kronis.

Alat tulis dan runtuhnya harga diri

Kekejian kemiskinan merangsek masuk hingga ke wilayah yang sangat privat meski juga komunal yakni ruang kelas. Bagi sebagian orang, pensil dan buku adalah hal remeh. Namun bagi anak dalam kemiskinan ekstrem, sebatang pensil yang patah atau ketiadaan buku tulis adalah sumber rasa rendah diri yang akut. Meminjam kerangka berpikir Alfred Adler dalam buku yang ditulis tahun 1927, rasa rendah diri yang lahir dari kesenjangan sosial di sekolah dapat menimbulkan luka batin permanen. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembebasan, justru sering kali diraskan berubah menjadi ruang penghakiman. Ketika seorang anak harus menunduk malu karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah, ia sedang mengalami "pembunuhan karakter" secara perlahan. Ketiadaan alat tulis bukan sekadar hambatan teknis, melainkan serangan terhadap harga diri yang membuat anak merasa "tidak layak" berada di lingkungan sosial yang normal.

Beban dewasa di bahu kecil

Secara umum, tak jarang kemiskinan menciptakan jerat yang memaksa anak melakukan pertukaran peran prematur. Di saat teman sebaya mengeksplorasi imajinasi, anak-anak yang terhimpit ekonomi sudah dibebani tanggung jawab orang dewasa semisal mengangon ternak, menyabit rumput, hingga menjadi pekerja anak, pekerja kasar demi menyambung hidup keluarga. Gregory Jurkovic dalam buku yang ditulisnya tahun 1997 mengungkap betapa destruktifnya ketika peran ini terbalik yakni anak kehilangan perlindungan dan justru dipaksa menjadi penopang stabilitas keluarga. Anak tidak sempat bertanya, "Siapakah aku?" karena mereka terlalu sibuk "dibutuhkan keluarga". Di sini, kemiskinan menunjukkan wajah aslinya, yakni membuat seorang anak memegang sabit saat hatinya ingin memegang pena, memanggul beban saat bahu mereka seharusnya masih memanggul tas sekolah.

Garis batas antara lenting dan tumbang

Realitas ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa ada anak yang mampu bangkit menjadi resilien, sementara yang lain tenggelam dalam keputusasaan hingga memilih tindakan fatal? Studi psikopatologi perkembangan melihatnya sebagai pertarungan antara faktor risiko dan faktor protektif. Kemiskinan ekstrem adalah faktor risiko utama yang sering kali berjalin kelindan dengan risiko lain, di antaranmya, kekerasan domestik hingga ketiadaan figur pelindung. Mengacu pada pandangan Martin Seligman tahun 1972, ketika penderitaan datang bertubi-tubi tanpa intervensi, anak akan sampai pada titik pasrah karena tak berdaya. Di titik inilah, keputusasaan bisa meledak menjadi tragedi, bahkan keinginan mengakhiri hidup karena anak merasa dunia tak lagi menyisakan ruang baginya. Resiliensi bukanlah keajaiban. Ann Masten tahun 2001 menyebutkan bahwa kemampuan anak untuk bangkit muncul dari sistem pendukung yang ada di sekitarnya. Faktor protektif itu bisa berupa satu orang dewasa yang peduli, hobi yang memberi makna, atau lingkungan sekolah yang inklusif. Tanpa faktor protektif ini, kemiskinan menjadi mesin penghancur yang mengerikan.

Hilangnya benteng perlindungan

Pada akhirnya, kemiskinan melucuti benteng perlindungan anak secara fisik. Demi bertahan hidup, anak-anak dari keluarga miskin terpaksa berada di ruang publik yang tidak aman, ladang sunyi hingga hutan, dari jalanan hingga terminal, sering kali tanpa pengawasan memadai karena orang tua mereka pun sedang bertaruh nyawa mencari nafkah. Laporan UNICEF tahun 2010 menegaskan bahwa kemiskinan adalah pelanggaran hak asasi manusia yang paling luas karena membuat keamanan dan rasa aman menjadi barang mewah. Anak-anak miskin menjadi sasaran empuk kekerasan bukan karena mereka lalai, melainkan karena struktur sosial tidak memberi mereka pilihan untuk tetap aman. Dalam konteks inilah kita harus memaknai kemiskinan sebagai tragedi kemanusiaan yang menimpa anak-anak kita. Kemiskinan telah membuka celah fatal yang merenggut nyawa dan masa depan.

Mengakhiri Romantisasi Penderitaan

Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi penderitaan anak miskin sebagai "ujian daya juang dan ketangguhan". Ketangguhan yang lahir dari penderitaan kronis sebenarnya adalah manifestasi dari trauma yang terpendam. Kemiskinan pada anak adalah kekerasan yang didiamkan dan dibiarkan secara kolektif. Jika kita terus membiarkan kesenjangan ini terus menganga, kita sebenarnya sedang membiarkan kekejian itu memanen korbannya. Mengakhiri kemiskinan bukan hanya soal distribusi bantuan sosial, melainkan soal menyelamatkan kesehatan mental dan nyawa generasi masa depan. Jangan biarkan tragedi anak-anak kita hanya sebagai berita duka yang usang yang berlalu begitu saja. Sebaliknya, haruslah menjadi titik balik untuk menghentikan normalisasi terhadap penderitaan. Sebab, kemiskinan bukan hanya masalah perut, melainkan pembunuhan secara perlahan terhadap jiwa, martabat, dan harapan. [i] Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kemiskinan-sebagai-kekejian-memahami-luka-psikis-anak/90629/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.18 WITA

  • #Opini Dosen
  • #kemiskinan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat
  2. 2

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  3. 3

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  4. 4

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  5. 5

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.