Surabaya, JurnalPost.com — Menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan menjadi salah satu langkah penting dalam menyambut mahasiswa baru. Sebagai bentuk kepedulian terhadap hal tersebut, dosen Program Studi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan yang berlangsung pada 19 Agustus 2026 di Giri Loka, UPN “Veteran” Jawa Timur, ini diikuti oleh 200 mahasiswa baru Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD). Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya membangun lingkungan akademik yang aman, inklusif, serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa baru mendapatkan edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan yang berpotensi terjadi di lingkungan perguruan tinggi, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, hingga kekerasan berbasis daring.
Tidak hanya memperkenalkan jenis-jenis kekerasan, sosialisasi juga memberikan pemahaman mengenai langkah pencegahan, tindakan yang perlu dilakukan ketika menjadi korban atau saksi, serta pentingnya keberanian untuk melaporkan tindakan kekerasan melalui mekanisme yang tersedia di kampus.
Mahasiswa turut diperkenalkan dengan peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) serta layanan Pusat Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dan Bimbingan Konseling (PPKBK) UPN “Veteran” Jawa Timur dalam mendukung terciptanya lingkungan akademik yang aman.
Dosen Program Studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur, Putri Dwi Aprilia Nur Khasanah, S.E., M.Sc., dalam pemaparannya menegaskan bahwa menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak universitas, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh sivitas akademika.
“Mahasiswa baru perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian dan berhak atas rasa aman. Berani bicara dan melapor adalah langkah awal memutus rantai kekerasan,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman tentang pencegahan kekerasan perlu ditanamkan sejak awal masa perkuliahan agar mahasiswa memiliki keberanian untuk melindungi diri sendiri sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap orang lain.
Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para mahasiswa baru menunjukkan antusiasme dengan mengikuti pembahasan mengenai berbagai situasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan, termasuk bagaimana mengambil sikap secara tepat ketika menghadapi atau menyaksikan tindakan yang merugikan orang lain.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami bentuk-bentuk kekerasan, tetapi juga mampu menerapkan nilai empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
Kegiatan sosialisasi ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi. Regulasi tersebut menjadi salah satu landasan dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang aman, inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan.
Selain mendukung upaya pencegahan kekerasan, kegiatan ini memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Dari aspek pendidikan, sosialisasi mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan inklusif. Edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual, perundungan, dan diskriminasi juga berkontribusi terhadap SDG 5 (Kesetaraan Gender) serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan).
Sementara itu, perhatian terhadap keselamatan fisik dan kesehatan mental mahasiswa sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Pengenalan mekanisme pelaporan turut mendukung SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), sedangkan keterlibatan berbagai unsur kampus mencerminkan semangat kolaborasi dalam SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Dalam konteks pengembangan kualitas pendidikan tinggi, kegiatan ini juga mencerminkan semangat Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya melalui kontribusi dosen dalam kegiatan pengabdian, pemanfaatan pengetahuan bagi sivitas akademika, serta pelaksanaan edukasi yang mendorong partisipasi aktif mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, UPN “Veteran” Jawa Timur diharapkan dapat terus memperkuat budaya akademik yang menjunjung tinggi rasa aman, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak setiap individu.
Sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan kekerasan tidak cukup dilakukan melalui aturan dan mekanisme pelaporan semata, tetapi juga membutuhkan kesadaran serta tanggung jawab bersama.
Dengan membekali mahasiswa baru sejak awal perkuliahan, diharapkan tumbuh generasi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, keberanian menyuarakan kebenaran, dan komitmen untuk mewujudkan kampus yang ramah, aman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda