Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Jika Pengetahuan Tidak Universal, Apakah Teori Foucault Justru Bersifat Universal?

Jika Pengetahuan Tidak Universal, Apakah Teori Foucault Justru Bersifat Universal?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
28 Juli 2026, 17.07 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Michel Foucault
Penulis: Eunice Ivana Caitlyn Suwitono JurnalPost.com - Michel Foucault merupakan salah satu filsuf yang banyak memengaruhi cara manusia modern memahami pengetahuan, kebenaran, dan kekuasaan. Salah satu gagasannya yang paling kontroversial adalah bahwa pengetahuan tidak pernah sepenuhnya murni, objektif, dan universal. Menurut Foucault, sesuatu yang diterima masyarakat sebagai “kebenaran” tidak muncul di ruang hampa. Kebenaran selalu terbentuk melalui sejarah, bahasa, institusi, serta relasi kekuasaan yang bekerja pada suatu tempat dan zaman. Pengetahuan dan kekuasaan pun tidak dapat dipisahkan begitu saja. Keduanya saling membentuk dan memperkuat. Namun, gagasan tersebut memunculkan persoalan logis yang menarik. Jika semua pengetahuan dipengaruhi sejarah dan kekuasaan, bukankah teori Foucault juga terbentuk oleh kondisi sejarah dan kekuasaan pada zamannya? Pertanyaan ini menghadirkan sebuah paradoks. Jika Foucault mengakui bahwa teorinya hanya berlaku dalam konteks tertentu, teorinya tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan seluruh sejarah pengetahuan manusia. Sebaliknya, apabila ia menyatakan bahwa semua pengetahuan di mana pun dan kapan pun selalu dipengaruhi kekuasaan, ia justru sedang mengajukan sebuah klaim yang tampak universal. Dengan kata lain, ketika Foucault mengatakan bahwa “tidak ada pengetahuan yang universal”, bukankah pernyataan tersebut juga sedang berusaha berlaku secara universal?

Paradoks dalam Pemikiran Foucault

Ketegangan dalam pemikiran Foucault dapat dijelaskan melalui dua kemungkinan. Pertama, teorinya dipahami sebagai sebuah kebenaran yang berlaku umum. Jika demikian, Foucault tampak bertentangan dengan gagasannya sendiri mengenai penolakan terhadap kebenaran universal. Kedua, teorinya hanya dipahami sebagai salah satu cara melihat dunia yang lahir dari situasi sejarah tertentu. Dalam posisi ini, pemikiran Foucault memang tidak kontradiktif, tetapi kekuatan teorinya menjadi lebih terbatas. Teori tersebut tidak dapat dipaksakan sebagai penjelasan tunggal bagi semua bentuk pengetahuan. Persoalan ini menunjukkan bahwa kritik Foucault terhadap universalitas tidak mudah diterima sebagai sebuah doktrin mutlak. Pemikirannya lebih tepat digunakan sebagai perangkat analisis untuk menguji bagaimana suatu kebenaran diproduksi, disebarkan, dan dipertahankan dalam masyarakat. Foucault sendiri kerap menempatkan pemikirannya sebagai semacam “kotak peralatan” atau toolbox. Gagasannya tidak harus diperlakukan sebagai jawaban terakhir, melainkan sebagai alat untuk membongkar hal-hal yang selama ini dianggap benar, alamiah, dan tidak perlu dipertanyakan.

Dampaknya terhadap Etika dan Kehidupan Sosial

Perdebatan mengenai kebenaran universal tidak hanya berhenti pada persoalan filsafat. Gagasan tersebut juga memiliki konsekuensi serius dalam bidang etika, hukum, dan politik. Apabila tidak ada kebenaran atau nilai yang berlaku universal, atas dasar apa manusia dapat menyatakan bahwa suatu tindakan adalah baik atau jahat? Bagaimana masyarakat dapat mengecam penindasan, kekerasan, diskriminasi, dan pelanggaran hak asasi manusia apabila seluruh standar moral hanya dianggap sebagai hasil konstruksi sejarah dan kekuasaan? Penolakan total terhadap universalitas dapat membawa manusia pada apa yang disebut sebagai political paralysis atau kelumpuhan politik. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mampu mengkritik setiap sistem, tetapi tidak memiliki dasar moral yang cukup kuat untuk menawarkan alternatif yang lebih adil. Jika semua bentuk pengetahuan selalu dipandang sebagai manifestasi kekuasaan, pembongkaran terhadap satu sistem kekuasaan dikhawatirkan hanya akan melahirkan sistem kekuasaan baru. Sistem baru tersebut mungkin menggunakan bahasa yang berbeda, tetapi tetap berpotensi mengatur, membatasi, dan menekan manusia. Karena itu, manusia masih membutuhkan standar tertentu yang dapat digunakan untuk menilai kekuasaan. Prinsip seperti keadilan, martabat manusia, kebebasan, dan hak asasi manusia sering dipertahankan sebagai nilai universal agar kritik sosial tidak kehilangan arah moralnya. Tanpa standar tersebut, kritik terhadap kekuasaan berisiko berhenti sebagai aktivitas membongkar, tanpa mampu menjelaskan dunia seperti apa yang seharusnya dibangun.

Bagaimana dengan Kebenaran Ilmiah?

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pemikiran Foucault dipertemukan dengan ilmu pengetahuan yang dianggap memiliki kepastian lebih kuat, seperti matematika, fisika, dan biologi. Foucault tidak serta-merta menyangkal keberadaan fenomena alam. Apel tetap jatuh ke tanah, tumbuhan tetap melakukan fotosintesis, dan tubuh manusia tetap memiliki proses biologis tertentu. Realitas fisik tidak otomatis menghilang hanya karena cara manusia memahaminya dipengaruhi sejarah dan bahasa. Hal yang dipersoalkan Foucault adalah bagaimana manusia memberikan nama, membentuk kategori, menyusun aturan, dan menentukan pengetahuan mana yang dianggap sah. Ia tidak hanya bertanya apakah suatu fenomena benar-benar ada, tetapi juga bagaimana fenomena tersebut dijelaskan dan siapa yang berwenang menentukan penjelasan yang benar. Dalam konteks ini, perlu dibedakan antara realitas yang terjadi di alam dan sains sebagai sistem pengetahuan manusia untuk memahami realitas tersebut. Alam mungkin hadir secara mandiri, tetapi manusia mengaksesnya melalui bahasa, konsep, metode, dan kemampuan kognitif. Namun, pemisahan antara realitas dan pengetahuan juga tidak sederhana. Ketika seseorang mengatakan bahwa “apel jatuh merupakan realitas”, kata “apel”, “jatuh”, dan “realitas” tetap dipahami melalui bahasa dan struktur pengetahuan manusia. Manusia tidak dapat keluar sepenuhnya dari bahasa dan pikirannya untuk melihat dunia tanpa penafsiran. Karena itu, batas antara realitas murni dan pengetahuan manusia menjadi kabur. Kesulitan tersebut memperlihatkan betapa rumitnya membedakan kebenaran universal dengan kebenaran partikular. Ada kenyataan yang tampak tidak bergantung pada pendapat manusia, tetapi setiap penjelasan mengenai kenyataan itu tetap disusun melalui perangkat pengetahuan manusia.

Foucault sebagai Pisau Bedah

Pemikiran Foucault dapat diibaratkan sebagai sebuah pisau bedah. Pisau tersebut dapat digunakan untuk membongkar lapisan-lapisan kekuasaan yang tersembunyi di balik bahasa, institusi, dan pengetahuan. Akan tetapi, hasil yang ditemukan dalam proses pembedahan dapat berbeda-beda, tergantung pada objek, situasi, dan cara pisau itu digunakan. Foucault tidak selalu memberikan jawaban pasti mengenai apa yang benar secara universal. Ia justru mendorong manusia untuk mengajukan pertanyaan: Mengapa masyarakat pada tempat dan masa tertentu menganggap sesuatu sebagai kebenaran? Siapa yang memperoleh keuntungan dari kebenaran tersebut? Institusi apa yang mempertahankannya? Siapa yang dibungkam atau disingkirkan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat gagasan Foucault tetap relevan. Pemikirannya membantu manusia memahami bahwa sesuatu yang dianggap wajar belum tentu benar secara alamiah. Bisa saja anggapan tersebut lahir dari proses sejarah panjang, kebijakan institusi, kepentingan politik, atau relasi kekuasaan yang tidak disadari. Pada akhirnya, setiap gagasan tentang pengetahuan memang berisiko menguniversalkan dirinya sendiri. Ketika seseorang mengatakan bahwa semua kebenaran bersifat relatif, pernyataan itu pun dapat berubah menjadi klaim mutlak tentang relativitas. Karena itu, cara terbaik memahami Foucault bukanlah dengan menjadikan pemikirannya sebagai doktrin yang tidak boleh dibantah. Gagasannya lebih bermanfaat apabila digunakan sebagai cermin dan alat kritik agar manusia tidak mudah percaya kepada siapa pun yang mengklaim memiliki kebenaran tunggal dan universal. Namun, sikap kritis tersebut juga perlu disertai kehati-hatian. Tidak semua kebenaran harus dianggap semata-mata sebagai hasil permainan kekuasaan. Kritik terhadap universalitas seharusnya tidak membuat manusia kehilangan dasar untuk membela keadilan, martabat, dan kemanusiaan. Foucault membantu manusia mencurigai kebenaran. Akan tetapi, manusia tetap harus menentukan nilai apa yang layak diperjuangkan setelah kebenaran itu dipertanyakan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/jika-pengetahuan-tidak-universal-apakah-teori-foucault-justru-bersifat-universal/96211/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.09 WITA

  • #Filsafat Ilmu
  • #Michel Foucault

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  3. 3

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  4. 4

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  5. 5

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.