Jika Pengetahuan Tidak Universal, Apakah Teori Foucault Justru Bersifat Universal?
Penulis: Eunice Ivana Caitlyn Suwitono
JurnalPost.com - Michel Foucault merupakan salah satu filsuf yang banyak memengaruhi cara manusia modern memahami pengetahuan, kebenaran, dan kekuasaan. Salah satu gagasannya yang paling kontroversial adalah bahwa pengetahuan tidak pernah sepenuhnya murni, objektif, dan universal.
Menurut Foucault, sesuatu yang diterima masyarakat sebagai “kebenaran” tidak muncul di ruang hampa. Kebenaran selalu terbentuk melalui sejarah, bahasa, institusi, serta relasi kekuasaan yang bekerja pada suatu tempat dan zaman. Pengetahuan dan kekuasaan pun tidak dapat dipisahkan begitu saja. Keduanya saling membentuk dan memperkuat.
Namun, gagasan tersebut memunculkan persoalan logis yang menarik. Jika semua pengetahuan dipengaruhi sejarah dan kekuasaan, bukankah teori Foucault juga terbentuk oleh kondisi sejarah dan kekuasaan pada zamannya?
Pertanyaan ini menghadirkan sebuah paradoks. Jika Foucault mengakui bahwa teorinya hanya berlaku dalam konteks tertentu, teorinya tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan seluruh sejarah pengetahuan manusia. Sebaliknya, apabila ia menyatakan bahwa semua pengetahuan di mana pun dan kapan pun selalu dipengaruhi kekuasaan, ia justru sedang mengajukan sebuah klaim yang tampak universal.
Dengan kata lain, ketika Foucault mengatakan bahwa “tidak ada pengetahuan yang universal”, bukankah pernyataan tersebut juga sedang berusaha berlaku secara universal?
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda