Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Inovasi Mahasiswa UNAIR: Inkubator Bayi Cerdas yang Dapat Menurunkan Angka Kematian Bayi Prematur

Inovasi Mahasiswa UNAIR: Inkubator Bayi Cerdas yang Dapat Menurunkan Angka Kematian Bayi Prematur

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
28 Januari 2025, 17.40 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Inkubator
Desain 3D Inkubator Bayi Ciptaan Alfin yang dilihat dari tampak samping
Surabaya, JurnalPost.com – Setiap tahunnya, ribuan bayi prematur di Indonesia menghadapi tantangan besar untuk bertahan hidup akibat kurangnya akses terhadap peralatan medis yang memadai. Tingginya angka kematian bayi prematur menjadi salah satu masalah serius yang perlu segera ditangani. Kini, sebuah solusi inovatif hadir untuk menjawab tantangan tersebut, yaitu teknologi inkubator bayi berbasis Internet of Things (IoT) yang hemat biaya, dirancang khusus untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada bayi prematur, terutama di daerah-daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas. Inovasi ini menawarkan harapan baru bagi para keluarga yang selama ini kesulitan mendapatkan akses perawatan medis untuk bayi mereka. Dengan teknologi canggih namun tetap terjangkau, inkubator ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan medis dan ketersediaan alat yang memadai di berbagai wilayah di Indonesia.

Memberikan Harapan bagi Bayi Prematur

Menurut data Kementerian Kesehatan, lebih dari 78 ribu bayi meninggal setiap tahunnya di Indonesia, dengan kelahiran prematur sebagai salah satu penyebab utama. Masalah ini semakin diperburuk oleh tingginya harga inkubator modern, yang mencapai ratusan juta rupiah, sehingga sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan kecil seperti puskesmas dan klinik di daerah terpencil. Situasi ini memunculkan kebutuhan mendesak untuk menciptakan solusi yang lebih terjangkau namun tetap efektif. Menjawab tantangan tersebut, seorang inovator muda sekaligus lulusan Teknik Biomedis Universitas Airlangga, Alfinaskhi Fahmi Fawaidz, berhasil mengembangkan sebuah inkubator bayi berbasis IoT yang tidak hanya hemat biaya, tetapi juga dirancang untuk memberikan stabilitas suhu dan kelembaban yang optimal bagi bayi prematur. “Saya ingin teknologi ini memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi bayi-bayi prematur, terutama di daerah terpencil. Semua bayi memiliki hak untuk mendapatkan perawatan terbaik, tanpa terkendala oleh biaya mahal atau lokasi fasilitas kesehatan,” ujar Alfinaskhi. Dengan inovasi ini, Alfinaskhi berharap dapat membantu fasilitas kesehatan kecil untuk memiliki peralatan medis yang sebelumnya sulit dijangkau. Teknologi ini tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada bayi prematur, tetapi juga mendukung tenaga medis dalam menjalankan tugas mereka dengan lebih efisien

Detail Teknologi di Balik Inovasi

Inkubator bayi berbasis IoT ini dirancang dengan teknologi canggih yang memastikan efisiensi dan stabilitas dalam menjaga kondisi ideal bagi bayi prematur. Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah sistem PID (Proportional-Integral-Derivative) berbasis metode Internal Model Control (IMC). Teknologi ini memungkinkan pengaturan suhu yang presisi dengan waktu respons cepat (rise time) hanya 619 detik, serta menjaga overshoot mendekati nol, sehingga suhu inkubator tetap stabil dan aman untuk bayi. Selain itu, inkubator ini dilengkapi dengan humidifier yang berfungsi untuk menjaga kelembaban udara di dalam inkubator. Fitur ini dirancang untuk mengurangi risiko infeksi kulit dan gangguan pernapasan, dua masalah kesehatan yang sering dialami oleh bayi prematur akibat lingkungan yang tidak optimal. Dengan kombinasi teknologi ini, inkubator mampu menciptakan lingkungan yang mendekati kondisi ideal seperti di dalam rahim ibu. Desain 3D Inkubator Bayi Ciptaan Alfin yang dilihat dari tampak samping Keunggulan lain dari inovasi ini adalah integrasi teknologi Internet of Things (IoT). Melalui platform Blynk, tenaga medis dapat memantau suhu dan kelembaban secara real-time melalui perangkat elektronik seperti smartphone. Hal ini memberikan efisiensi yang signifikan, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan jumlah tenaga kerja. "Teknologi ini dirancang agar dapat memberikan kontrol penuh kepada tenaga medis, bahkan ketika mereka tidak berada di dekat inkubator. Ini adalah solusi praktis yang dapat memberikan dampak besar," jelas Alfinaskhi. Dengan semua fitur yang ditawarkan, inkubator ini tidak hanya menjadi alat medis, tetapi juga simbol harapan baru bagi bayi prematur dan keluarga mereka. Kombinasi antara efisiensi, keterjangkauan, dan teknologi mutakhir menjadikannya solusi yang relevan untuk kebutuhan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.

Hasil Pengujian dan Dampaknya

Hasil uji coba menunjukkan bahwa inkubator ini mampu menjaga suhu dengan stabil dalam berbagai kondisi. Dengan waktu stabilisasi suhu (settling time) hanya 1390 detik, alat ini terbukti bekerja optimal meskipun terjadi gangguan, seperti pembukaan tutup inkubator. Biaya produksi inkubator ini jauh lebih terjangkau dibandingkan inkubator modern lainnya. Hal ini membuka peluang besar bagi rumah sakit kecil dan puskesmas untuk memiliki alat yang efektif dan efisien. "Saya berharap inovasi ini dapat digunakan secara luas di seluruh Indonesia, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan anggaran dan akses yang susah," jelas Alfinaskhi.

Komitmen Inovator untuk Masa Depan

Inovasi ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Alfinaskhi sebagai seorang inovator muda. Selama masa studinya, ia aktif dalam berbagai kegiatan akademik, organisasi hingga proyek pengembangan teknologi. Pada 2022, ia menjadi delegasi Indonesia di konferensi internasional "The 5th Chancellor Tuanku Muhriz Lecture" di Universiti Kebangsaan Malaysia bersama Presiden ke-6 RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto Alfin sebagai delegasi dari Indonesia dalam Konferensi Internasional "The 5th Chancellor Tuanku Muhriz Lecture" di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) bersama Presiden ke-6 RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Read more : https://www.detik.com/edu/edutainment/d-6255906/berhasil-sisihkan-ratusan-kandidat-mahasiswa-unair-ikut-konferensi-internasional-di-malaysia Pada tahun 2022, Alfinaskhi juga menerima beasiswa Inovator Muda Nusantara (IMN) sebagai bentuk penghargaan atas kreativitas dan inovasinya yang diberikan oleh Yayasan Salman Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam program beasiswa ini, Alfin dinobatkan sebagai awardee terbaik yang dinilai dari gagasan project inovasi yang diangkatnya. Selain itu, salah satu proyek terbesar yang pernah dikerjakan oleh Alfin adalah pengembangan sistem pengairan berbasis panel surya untuk pemberdayaan desa, yang berhasil mendapat sponsor pendanaan dari KEMENDIKBUD dan KESDM dalam Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) senilai Rp 50.000.000. Dengan inovasi panel surya yang di aplikasikan dengan sumur bor buatan tersebut, Alfin bersama tim berhasil membantu warga Desa Ko’ol, Kab. Bangkalan untuk mengirigasi persawahan mereka yang sering mengalami kekeringan akibat intensitas hujan yang sangat jarang. Semua pengalaman ini memperkuat komitmennya untuk menciptakan teknologi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Sebuah Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

Inkubator bayi berbasis IoT ini adalah bukti bahwa inovasi dapat menjembatani kesenjangan akses kesehatan, terutama di daerah-daerah terpencil. "Setiap langkah kecil adalah awal dari perubahan besar," kata Alfinaskhi penuh optimisme. Dengan dukungan dari berbagai pihak, ia berharap teknologi dan inovasi yang ia temukan ini dapat segera diproduksi massal dan membantu menyelamatkan ribuan nyawa bayi prematur. Perjalanan ini menunjukkan bahwa dengan semangat, kreativitas, dan dedikasi, teknologi tidak hanya menjadi ilmu, tetapi juga menjadi sebuah harapan bagi masa depan yang lebih baik. Mari kita dukung karya anak bangsa ini untuk menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/inovasi-mahasiswa-unair-inkubator-bayi-cerdas-yang-dapat-menurunkan-angka-kematian-bayi-prematur/77697/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.06 WITA

  • #UNAIR

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Pilihan Editor

  1. 1 Biaya yang Tak Masuk Inflasi
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  4. 4

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  5. 5

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.