Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Inilah Metode Transisi Kebahasaan yang Efektif di Sekolah

Inilah Metode Transisi Kebahasaan yang Efektif di Sekolah

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
19 Maret 2018, 19.32 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Metode Transisi Kebahasaan yang Efektif di Sekolah

Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Jurnalpost - Salah satu hasil penelitian yang dilakukan di Sumba oleh ACDP pada tahun 2016 menyatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya kualitas siswa kelas awal adalah karena rendahnya penguasaan mereka terhadap bahasa pengantar pembelajarannya yaitu Bahasa Indonesia.

Hal tersebut ditambah lagi dengan buku-buku paketnya yang juga berbahasa Indonesia. Agar anak-anak mampu menguasai materi ajar secara cepat, diperlukan cara-cara transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia secara lebih efektif.

IKLAN

Selama ini agar siswa cepat mengerti materi yang disajikan, para guru di kelas awal membawakan materi pembelajarannnya dengan melakukan penerjemahan langsung bahasa Indonesia ke Bahasa Daerah.

FK UMSURA
Baca Juga

Kolaborasi Sekolah dan Fakultas Kedokteran: Membuka Wawasan tentang Dunia Mikroba

Hal ini seperti yang dilakukan oleh Bapak Yulius, guru di SD Kadahang Sumba Timur, kalau dia merasa anak-anak tidak mengerti bahasa Indonesia terhadap materi pelajaran yang ia sampaikan, dia langsung beralih menerangkannya dalam bahasa daerah

“Misalnya, kata pecahan dan definisinya. Kalau saya terangkan pakai Bahasa Indonesia, murid yang berbahasa Kapunduk, bahasa lokal disini, tidak akan ada yang mengerti. Oleh karena itu, saya langsung beralih, menjelaskannya dengan pakai bahasa lokal Kapunduk,” ujarnya baru-baru ini saat workshop yang diselenggarakan INOVASI di SD Kadahang, Haharu, baru-baru ini.

Tapi efektifkah cara begini?. Menurut Johnny Tjia, ahli linguistik dan konsultan INOVASI untuk proyek rintisan Transisi Bahasa Pengantar Pembelajaran di Sumba Timur, hal tersebut tidak efektif. “Cara yang dilakukan oleh para guru dengan selang-seling menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah ini kurang efektif untuk mendukung pembelajaran siswa,” ujarnya

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan beberapa hal; pertama akan membingungkan siswa dalam berbahasa. Para siswa akhirnya dalam kesehariannya terbawa menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah secara tidak konsisten atau campur-campur.

Prodi S 1 Linguistik Indonesia
Baca Juga

Prodi S-1 Linguistik Indonesia UPN Veteran Jawa Timur Perkuat Kerja Sama dengan Balai Bahasa Jawa Tengah

IKLAN

“Mereka akan terbawa-bawa meniru gurunya untuk berbicara campur-campur dalam kesehariannya yang mengakibatkan cara berbahasanya tidak sesuai dengan kaidah berbahasa dan kosa kata yang tepat. Hal tersebut bisa menyusahkan anak dalam proses bernalar secara cepat dan juga menulis,” ujarnya.

Praktik tersebut menurutnya juga rawan memicu siswa untuk stress. Mereka harus belajar materi pelajaran, sekaligus belajar bahasa baru, dalam hal ini bahasa Indonesia. “Jadi dalam satu sesi, beban belajar mereka lipat dua. Stress ini juga bisa terjadi pada guru. Mereka harus selalu berpikir langsung bagaimana menerjemahkan Bahasa Indonesia ke bahasa lokal terus-menerus dan juga sebaliknya selama pembelajaran,” ujarnya.

Menurutnya, praktik tersebut juga membuat siswa tidak mengerti secara sempurna bahasa Lokal dan Bahasa Indonesia semenjak dini. “Terutama bahasa lokal, anak-anak tidak akan mengerti bahasanya sendiri secara penuh, hanya sepotong-sepotong dan lama-lama bisa hilang karena tidak menjadi bahasa pengantar pembelajaran secara sempurna,” ujarnya.

Lalu bagaimana cara melakukan transisi bahasa pengantar pembelajaran yang lebih efektif dari bahasa daerah ke Bahasa Indonesia agar bahasa lokal juga sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Doktor Ahli Linguistik lulusan Leiden ini menyatakan ada beberapa strategi yang bisa dilakukan.

Screenshot 2026 09 25 113421
Baca Juga

SATU KLIK: Ikhtiar Guru Menghidupkan Literasi di Ruang Digital

Ia menamakannya dengan strategi 90 : 10, dan 50 : 50. “Strategi ini hanya penamaan saja, dalam penerapannya sangat fleksibel. Yang dimaksud 90 banding 10 yaitu ketika mengajar kelas awal, guru hanya menggunakan bahasa lokal saja, tanpa penggunaan Bahasa Indonesia dari hari, katakanlah, Senin sampai Jumat. Tidak boleh menerjemahkan langsung ke bahasa daerah. Di hari Sabtu, guru menggunakan Bahasa Indonesia secara full, tapi pada materi yang sudah dimengerti siswa dan diajarkan sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan , agar siswa benar-benar mengerti konten pembelajaran. “Yang paling penting dalam pelajaran itu adalah pengetahuannya atau konten pembelajarannya. Karena dibawakan dalam bahasa ibu mereka, nalar mereka akan jalan, dan konsep-konsep pembelajaran akan lebih mudah mereka mengerti. Kalau dibawakan dalam Bahasa Indonesia atau selang seling dengan Bahasa daerah, siswa kemungkinan besar akan sedikit menyerap konten pembelajaran. Konsentrasi mereka juga terpecah belajar bahasa baru,“ ujarnya.

Demikian pula konsep 50:50; setelah merasa para siswanya mengerti konten pembelajaran karena sudah disampaikan dalam Bahasa daerah secara penuh, para guru dapat menggunakan Bahasa Indonesia pada topik pelajaran yang sama. Misalnya pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, memakai bahasa daerah dan hari selanjutnya yaitu hari Kamis sampai Sabtu memakai bahasa Indonesia. “Intinya tidak selang-seling atau langsung menerjemahkan. Dalam pelajaran dengan topik yang sama, pertama digunakan Bahasa Daerah dahulu secara penuh, dan ketika guru yakin semua siswa menyerap pembelajarannya, barulah menggunakan Bahasa Indonesia,” ujarnya

Pendekatan model ini, sebagai langkah awal, akan diterapkan di SD Wunga, SD Kadahang dan SD Kapunduk di Kecamatan Hahar, Sumba Timur sebagai sekolah rintisan “Program Rintisan Pembelajaran Menggunakan Multi Bahasa Bagi Siswa Penutur Bahasa Daerah” yang diprakarsai oleh INOVASI bekerjasama dengan Kemendikbud dan pemerintah daerah setempat. Para guru di SD tersebut sudah berlatih dan menyatakan kesiapan untuk melakukannya.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/inilah-metode-transisi-kebahasaan-yang-efektif-di-sekolah/6380/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #Metode
  • #Transisi
  • #bahasa
  • #sekolah

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus
  2. 2

    Inovasi Teh Kulit Jeruk: Pemanfaatan Limbah Pangan Fungsional untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  5. 5

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.