SURABAYA, JurnalPost.com — Kemampuan memilih bentuk kata yang tepat menjadi salah satu bagian penting dalam keterampilan menulis bahasa Inggris. Berangkat dari persoalan tersebut, dosen Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Savira Zaniar, S.Hum., M.Hum., menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Al Islah Surabaya, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan bertajuk A Community-Based Approach to Improving English Writing Skills through MALL and Morphological Instruction ini difokuskan pada peningkatan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa melalui pemahaman pembentukan kata atau morfologi.
Menulis masih menjadi salah satu keterampilan bahasa Inggris yang cukup menantang bagi siswa sekolah menengah pertama. Selain menyusun gagasan, siswa harus memahami tata bahasa serta menentukan bentuk kata yang sesuai dengan konteks kalimat.
Kesalahan yang kerap ditemukan antara lain penggunaan kata happy, happiness, dan happily. Ketiganya berasal dari kata dasar yang sama, tetapi memiliki fungsi berbeda dalam kalimat.
Siswa, misalnya, masih dapat menulis kalimat seperti “I feel happiness today” atau “She sings happy”. Gagasan yang disampaikan sebenarnya dapat dipahami, tetapi bentuk kata yang digunakan belum sesuai dengan struktur kalimat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, siswa dikenalkan pada pembelajaran morfologi, yaitu kajian mengenai proses pembentukan kata dari unsur-unsur yang lebih kecil.
Melalui pemahaman awalan dan akhiran, siswa diharapkan mampu mengenali kelas kata, menentukan bentuk kata yang sesuai, sekaligus memperluas kosakata secara lebih sistematis.
Kegiatan tersebut diikuti 32 siswa kelas IX SMP Al Islah Surabaya. Pada sesi awal, siswa mendapatkan pengenalan mengenai konsep morfologi sederhana dan penerapannya dalam bahasa Inggris.

Siswa mempelajari bagaimana awalan seperti un- dan re- dapat mengubah makna sebuah kata. Kata happy, misalnya, dapat berubah menjadi unhappy, sedangkan write dapat dikembangkan menjadi rewrite.
Selain itu, siswa diperkenalkan pada fungsi akhiran seperti -ness, -ful, dan -ly yang dapat mengubah kelas kata.
Kata sifat kind, misalnya, dapat berubah menjadi kata benda kindness maupun kata keterangan kindly. Pemahaman tersebut membantu siswa melihat hubungan antara satu kata dengan berbagai bentuk turunannya.
Setelah memahami konsep dasarnya, siswa diajak berlatih membentuk sejumlah kata baru dari satu kata dasar. Mereka kemudian menentukan bentuk kata yang paling sesuai untuk melengkapi kalimat.
Latihan dilanjutkan dengan kegiatan menulis paragraf pendek menggunakan kata-kata yang telah dipelajari. Tema yang digunakan dibuat dekat dengan kehidupan siswa, seperti pengalaman selama berada di sekolah maupun aktivitas bersama keluarga.
Tulisan yang dihasilkan siswa kemudian dibahas bersama. Savira memberikan umpan balik secara langsung mengenai pilihan kosakata, penggunaan bentuk kata, serta susunan kalimat.
Siswa juga dilibatkan dalam kegiatan membaca dan mengoreksi tulisan teman. Cara tersebut membantu mereka belajar menemukan kesalahan penggunaan kata secara mandiri sekaligus memahami alasan di balik perbaikannya.

Savira menjelaskan bahwa kesalahan dalam menulis tidak selalu terjadi karena siswa kekurangan kosakata. Dalam sejumlah kasus, siswa sebenarnya telah mengenal kata yang ingin digunakan, tetapi belum memahami bentuk kata yang paling tepat.
“Banyak kesalahan menulis siswa sebenarnya bukan karena mereka tidak tahu kosakatanya, tetapi karena belum tepat memilih bentuk katanya. Dengan memahami awalan dan akhiran, siswa bisa menulis lebih akurat dan memperkaya kosakata tanpa harus menghafal kata satu per satu,” ujar Savira Zaniar di sela kegiatan.
Pendekatan berbasis komunitas yang digunakan dalam kegiatan tersebut juga melibatkan guru, siswa, serta pihak sekolah sebagai mitra aktif.
Dengan pola tersebut, pembelajaran diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Metode pengenalan morfologi dapat kembali diterapkan oleh guru ketika melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris di kelas.
Kepala SMP Al Islah Surabaya, M. Nasrulloh, mengapresiasi kegiatan pendampingan tersebut karena dinilai memberikan metode yang praktis dan memungkinkan untuk diterapkan kembali oleh guru.
“Kami berterima kasih atas pendampingan ini. Metodenya mudah diterapkan dan bisa dilanjutkan oleh guru bahasa Inggris kami,” kata M. Nasrulloh.
Respons positif juga datang dari siswa. Salah seorang peserta berinisial A mengaku lebih memahami hubungan antara kata dasar dengan berbagai bentuk turunannya setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Ternyata satu kata bisa diubah jadi banyak kata lain. Saya jadi tahu kapan harus pakai happy dan kapan pakai happily. Menulis jadi lebih mudah,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian akan menyerahkan modul pembelajaran morfologi dan keterampilan menulis kepada guru bahasa Inggris SMP Al Islah Surabaya.
Modul tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pendukung dalam pembelajaran sehingga siswa dapat terus melatih kemampuan mengenali bentuk kata dan menggunakannya secara tepat dalam tulisan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, pembelajaran bahasa Inggris diharapkan semakin aplikatif serta mampu membantu siswa meningkatkan ketepatan dan kualitas tulisan mereka. (*)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda