Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Generasi Muda, Mau Dibawa ke Mana Arah Defisit Negara?

Generasi Muda, Mau Dibawa ke Mana Arah Defisit Negara?

Foto profil Rafi Adinata
Editor: Rafi Adinata
12 September 2026, 17.00 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Pembangunan yang dibiayai hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang, bersama dengan konsekuensi fiskal yang menyertainya. Sumber foto: MPR RI
Pembangunan yang dibiayai hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang, bersama dengan konsekuensi fiskal yang menyertainya. Sumber foto: MPR RI

Oleh: Athira Khairiana Tuasikal
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Politeknik Keuangan Negara STAN

JurnalPost.com - Setiap tahun, pemerintah mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar untuk membiayai berbagai kebutuhan negara. Pada 2025, realisasi belanja negara tercatat mencapai Rp3.451,4 triliun atau sekitar 95,3 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

IKLAN

Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, subsidi, perlindungan sosial, hingga program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Besarnya kebutuhan belanja membuat pengelolaan fiskal menjadi persoalan yang tidak hanya penting bagi pemerintah saat ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.

Untuk membiayai pengeluaran negara, pemerintah mengandalkan pendapatan negara sekaligus penerimaan pembiayaan. Pendapatan negara terutama berasal dari pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta hibah.

Sementara itu, ketika pendapatan negara belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan belanja, pemerintah menggunakan instrumen pembiayaan. Salah satu sumber utamanya adalah penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), di samping berbagai bentuk pembiayaan dan pinjaman lainnya.

Dari sinilah muncul pertanyaan penting: ketika belanja negara lebih besar daripada pendapatan yang tersedia dan pemerintah harus menambah pembiayaan, siapa yang pada akhirnya akan menanggung konsekuensi dari keputusan fiskal tersebut?

Salah satu jawabannya adalah generasi muda.

Kebijakan fiskal yang diambil hari ini tidak berhenti pada tahun anggaran berjalan. Dampaknya dapat berlangsung bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Karena itu, ketika berbicara mengenai defisit dan utang negara, yang sedang dibicarakan sebenarnya bukan sekadar angka dalam APBN, melainkan juga ruang fiskal dan masa depan perekonomian Indonesia.

Defisit Tidak Selalu Berarti Buruk

Kondisi ketika belanja negara lebih besar daripada pendapatan negara akan menimbulkan defisit APBN. Namun, defisit tidak serta-merta menjadi pertanda bahwa kondisi ekonomi suatu negara buruk.

Defisit dapat digunakan sebagai instrumen kebijakan fiskal untuk membiayai pembangunan, memperluas pelayanan publik, mendukung pendidikan dan kesehatan, membangun infrastruktur, serta menjaga aktivitas ekonomi.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar apakah pemerintah berutang atau mengalami defisit, melainkan untuk apa dana tersebut digunakan dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.

Belanja pemerintah idealnya dapat diukur dari outcome atau dampaknya. Apabila pembiayaan menghasilkan infrastruktur yang meningkatkan konektivitas, pendidikan yang memperbaiki kualitas sumber daya manusia, layanan kesehatan yang lebih baik, serta aktivitas ekonomi yang semakin produktif, maka manfaatnya dapat dinikmati dalam jangka panjang.

Sebaliknya, persoalan akan muncul apabila pembiayaan terus meningkat tanpa menghasilkan produktivitas dan manfaat ekonomi yang sebanding.

Utang dan Keadilan Antargenerasi

Dampak defisit juga tidak hanya berkaitan dengan jumlah utang pemerintah. Di dalamnya terdapat kewajiban pembayaran pokok dan bunga yang harus diperhitungkan dalam APBN pada periode berikutnya.

Di sinilah konsep intergenerational equity atau keadilan antargenerasi menjadi relevan.

Secara sederhana, generasi saat ini dapat menikmati manfaat dari belanja negara yang sebagian dibiayai melalui utang. Pada saat yang sama, generasi berikutnya akan menerima hasil pembangunan tersebut sekaligus mewarisi sebagian kewajiban fiskal yang harus diselesaikan.

Namun, besarnya utang saja tidak cukup untuk menentukan apakah generasi mendatang akan dirugikan.

Yang jauh lebih penting adalah kualitas penggunaan utang tersebut.

Generasi muda justru dapat memperoleh keuntungan apabila pembiayaan saat ini digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi di masa depan. Infrastruktur yang lebih baik, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan investasi pada sektor produktif dapat memperbesar aktivitas ekonomi sekaligus meningkatkan kemampuan negara memenuhi kewajibannya.

Sebaliknya, risiko menjadi lebih besar apabila utang digunakan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, pemerintah berpotensi menghadapi tekanan fiskal ketika harus menyediakan anggaran dalam jumlah semakin besar hanya untuk memenuhi kewajiban pokok dan bunga dari pembiayaan sebelumnya.

Situasi semacam inilah yang perlu dihindari agar pengelolaan fiskal tidak terjebak dalam pola “gali lubang tutup lubang”.

IKLAN

Apakah Generasi Muda Akan Menanggung Semuanya?

Jika dilihat berdasarkan rentang waktu, tidak sepenuhnya tepat apabila dikatakan bahwa seluruh konsekuensi kebijakan fiskal saat ini baru akan ditanggung generasi mendatang.

Generasi muda hari ini juga menikmati manfaat APBN.

Infrastruktur yang dibangun sekarang dapat langsung digunakan. Pembiayaan pendidikan memberikan kesempatan bagi anak muda untuk meningkatkan kompetensi. Anggaran kesehatan membantu meningkatkan kualitas hidup. Berbagai program pembangunan juga dapat menciptakan aktivitas ekonomi serta membuka lapangan pekerjaan.

Dengan kata lain, utang yang digunakan secara produktif dapat menghasilkan aset dan manfaat yang dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi berikutnya.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika dilihat dalam perspektif yang lebih panjang.

Setiap tambahan kewajiban fiskal hari ini berpotensi memengaruhi struktur APBN pada masa mendatang. Pemerintah harus menyediakan ruang untuk pembayaran bunga dan pokok utang, sehingga sebagian anggaran yang seharusnya dapat dialokasikan untuk program baru harus digunakan untuk memenuhi kewajiban sebelumnya.

Semakin besar kebutuhan pembayaran utang, semakin sempit pula ruang fiskal pemerintah.

Dalam jangka panjang, kebutuhan penerimaan negara juga dapat meningkat. Pajak dan sumber penerimaan lainnya akan menjadi semakin penting untuk menjaga kesinambungan fiskal.

Generasi muda yang kelak menjadi kelompok produktif, pekerja, pelaku usaha, dan pembayar pajak pada akhirnya akan menjadi salah satu kelompok yang berhadapan langsung dengan konsekuensi tersebut.

Generasi Muda Tidak Cukup Hanya Menjadi Penonton

Sebagai generasi muda, bersikap tone deaf atau menutup mata terhadap kondisi negara—baik dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, maupun persoalan publik lainnya—bukan pilihan yang bijak.

Kebijakan yang dibuat pemerintah hari ini akan membentuk lingkungan ekonomi dan sosial yang nantinya dijalani generasi muda.

Karena itu, perhatian generasi muda terhadap APBN seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa besar utang Indonesia?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa utang tersebut digunakan, apa hasil yang diperoleh, siapa yang menikmati manfaatnya, dan apakah manfaat tersebut cukup besar untuk mengimbangi kewajiban yang diwariskan?

Generasi muda juga perlu mengubah cara pandang. Posisi mereka bukan hanya sebagai pihak yang kelak menerima warisan kewajiban fiskal, tetapi juga sebagai warga negara yang memiliki kepentingan terhadap kualitas pengelolaan anggaran hari ini.

Kritik terhadap kebijakan fiskal bukan berarti menolak seluruh bentuk utang atau defisit. Kritik justru dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan menciptakan fondasi ekonomi yang lebih produktif.

Pada akhirnya, persoalan yang perlu dipikirkan bukan sekadar seberapa besar utang yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Yang lebih penting adalah apa yang ikut diwariskan bersama utang tersebut.

Jika generasi mendatang menerima infrastruktur yang berkualitas, sumber daya manusia yang lebih unggul, perekonomian yang produktif, serta pelayanan publik yang semakin baik, maka pembiayaan hari ini dapat menjadi investasi bagi masa depan.

Namun, jika yang diwariskan hanyalah kewajiban tanpa produktivitas yang memadai, generasi muda akan menghadapi ruang fiskal yang semakin terbatas.

Karena itu, arah defisit negara bukan hanya urusan pemerintah atau pembuat kebijakan. Generasi muda juga berkepentingan untuk mengawasi, memahami, dan mengkritisinya.

Sebab APBN hari ini, sedikit banyak, adalah gambaran tentang Indonesia yang akan mereka hidupi pada masa depan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/generasi-muda-mau-dibawa-ke-mana-arah-defisit-negara/97666/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #APBN
  • #Ekonomi Indonesia
  • #defisit negara
  • #generasi muda
  • #kebijakan fiskal
  • #keuangan publik
  • #utang negara

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.