JurnalPost.com - Inovasi berbasis teknologi kembali hadir dari mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Video Gagasan Konstruktif. Mereka menggagas Literacy Catalyst Building, sebuah konsep perpustakaan masa depan yang memadukan teknologi canggih dengan desain arsitektur ramah lingkungan.
Berlokasi di kawasan Jalan Brigjen Katamso, Medan Maimun, yang tengah direvitalisasi, Literacy Catalyst Building dirancang untuk menghadirkan pengalaman membaca yang imersif dan interaktif.
Teknologi Mixed Reality (MR), Artificial Intelligence (AI), dan robotika diintegrasikan melalui fasilitas seperti VirtuShelf, AudioDialogue Room, dan NaviLibro, yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan buku secara digital, berdiskusi secara real-time dengan AI, hingga dipandu robot menuju rak buku yang dicari.
Ketua tim, Abdillah Sani Lubis, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap darurat literasi nasional.
“Indonesia saat ini berada di peringkat ke-100 dari 208 negara dalam hal literasi menurut UNESCO. Kami ingin merespon situasi ini dengan solusi yang relevan dan berbasis teknologi, agar minat baca dapat ditumbuhkan kembali terutama di kalangan generasi muda. Kalau melihat kondisi sekarang, menurut Ibu, apakah perpustakaan masih akan penting di masa depan?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Kepala Bidang Layanan dan Teknologi Informasi Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Ely Hayati S.Sos, yang menegaskan bahwa perpustakaan akan selalu memiliki peran penting. “Tentu saja sangat penting. Justru di tengah derasnya arus digitalisasi, perpustakaan berperan vital sebagai jembatan antara teknologi dan literasi. Ia bukan hanya tempat menyimpan buku, melainkan pusat pengetahuan, ruang diskusi, sekaligus wadah pembentukan karakter generasi mendatang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ely Hayati menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas mahasiswa USU. “Konsep Literacy Catalyst Building ini sangat visioner. Kami di perpustakaan provinsi bahkan sedang mencari cara untuk mengintegrasikan teknologi serupa agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tapi juga pusat pembelajaran yang hidup,” ungkapnya. Ia juga berharap kolaborasi antara lembaga pendidikan dan perpustakaan dapat terus diperkuat untuk menyambut masa depan literasi yang adaptif dan inklusif.
Proyek ini tidak hanya berhenti pada tataran konsep. Sebagai bagian dari kampanye literasi digital, tim tengah memproduksi video edukatif yang akan berlangsung hingga akhir tahun 2025, menyasar pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia.
Dengan target peningkatan minat baca hingga 60%, inovasi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 sekaligus mendukung capaian SDGs poin 4, 9, dan 11.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda