JurnalPost.com - Fenomena fatherless menjadi salah satu persoalan dalam pengasuhan anak di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya menggambarkan ketidakhadiran ayah secara fisik akibat perceraian, kematian, atau tuntutan pekerjaan, tetapi juga dapat terjadi ketika seorang ayah tinggal bersama keluarganya tanpa terlibat secara aktif dalam kehidupan dan perkembangan anak.
Penelitian Fajarrini dan Umam (2023) dalam Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini membahas dampak ketiadaan peran ayah terhadap pembentukan karakter anak. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan, pendidikan, dan perkembangan emosional anak.
Persoalan ini juga tercermin dalam hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN). Data tersebut menunjukkan bahwa 25,8 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Di tengah masyarakat, masih terdapat pandangan bahwa tugas utama seorang ayah hanyalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama kerap menciptakan batasan terhadap peran ayah dalam keluarga.
Akibatnya, pengasuhan anak sering kali dianggap sebagai tanggung jawab ibu sepenuhnya. Bahkan, ketika seorang ayah terlibat aktif dalam merawat, mendidik, dan mendampingi anak, keterlibatan tersebut terkadang dipandang sebagai sesuatu yang istimewa, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua.
Padahal, kehadiran ayah dalam kehidupan anak seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan materi.
Peran Ayah Tidak Berhenti pada Tanggung Jawab Finansial
Koentjaraningrat (1996), dalam bukunya Pengantar Antropologi I, membahas keluarga sebagai salah satu pranata sosial yang memiliki fungsi penting dalam memberikan perlindungan, rasa aman, dan pengasuhan kepada anggotanya.
Dalam kehidupan keluarga, ayah dan ibu memiliki tanggung jawab untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak. Meskipun ibu kerap menjadi sosok yang paling dekat dengan anak sejak awal kehidupannya, hal tersebut tidak berarti bahwa seluruh tanggung jawab pengasuhan harus dibebankan kepada ibu.
Ayah juga memiliki peran penting dalam memberikan kasih sayang, membangun komunikasi, menanamkan nilai kehidupan, serta menjadi teladan bagi anak.
Bagaimana seorang anak dapat tumbuh dengan penuh kepercayaan diri apabila sosok yang seharusnya turut memberikan dukungan justru tidak hadir dalam proses pertumbuhannya?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena keterlibatan orang tua tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pembentukan rasa aman dan perkembangan emosional anak.
Anak membutuhkan lingkungan keluarga yang memungkinkan mereka merasa didengar, dihargai, dan diterima.
Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Emosional Anak
Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai persoalan emosional pada anak.
Anak yang tidak memperoleh dukungan emosional yang memadai berpotensi mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, mengekspresikan, dan mengelola perasaannya.
Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan kecemasan, kesedihan, rendahnya kepercayaan diri, hingga kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.
Romadhona (2024) dalam kajiannya mengenai dampak fatherless terhadap perkembangan emosional anak usia dini turut menyoroti pentingnya kehadiran figur ayah dan hubungan keluarga dalam mendukung perkembangan anak.
Kurangnya kehangatan, perhatian, serta apresiasi dari ayah dapat membuat sebagian anak mencari pengakuan dan validasi dari lingkungan di luar keluarga.
Pada sebagian remaja perempuan, pengalaman kehilangan kedekatan emosional dengan ayah juga dapat memengaruhi pandangan dan kekhawatiran mereka terhadap hubungan romantis maupun pernikahan di masa depan.
Namun, pengalaman tersebut tidak selalu terjadi pada setiap anak. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi keluarga, kualitas hubungan dengan pengasuh, serta dukungan sosial yang diterima.
Penelitian Supriadi, Syahputra, dan Ali (2024) terhadap 60 responden remaja Kristen GPdI Wilayah I Kota Kupang juga menemukan adanya hubungan antara kondisi fatherless dan aspek kecerdasan spiritual serta emosional remaja.
Dalam penelitian tersebut, variabel fatherless menjelaskan 26,4 persen variasi kecerdasan spiritual dan 28,5 persen variasi kecerdasan emosional pada responden yang diteliti.
Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perkembangan remaja, meskipun faktor keluarga dan lingkungan lainnya juga memiliki pengaruh.
Bukankah Ayah Bekerja untuk Masa Depan Anak?
Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan materi memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan keluarga. Biaya pendidikan, kesehatan, makanan, dan kebutuhan sehari-hari memerlukan dukungan finansial yang memadai.
Banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja demi memastikan anak-anak mereka memperoleh kehidupan yang layak.
Namun, apakah pemenuhan kebutuhan materi saja sudah cukup untuk menggantikan kehadiran emosional seorang ayah?
Seorang anak mungkin memiliki mainan mahal, fasilitas pendidikan yang baik, atau kebutuhan hidup yang tercukupi. Akan tetapi, semua itu tidak selalu dapat menggantikan pengalaman sederhana seperti berbincang, bermain, dan menghabiskan waktu bersama ayah.
Kesibukan bekerja memang dapat membatasi waktu kebersamaan. Meski demikian, keterbatasan waktu bukan berarti menutup kesempatan bagi ayah untuk membangun kedekatan dengan anak.
Percakapan selama 15 menit yang dilakukan dengan perhatian penuh dapat menjadi momen bermakna bagi anak. Mendengarkan cerita mengenai kegiatan di sekolah, menanyakan perasaan anak, atau sekadar menemani mereka bermain merupakan bentuk keterlibatan yang sederhana.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, ayah juga dapat meluangkan waktu untuk mendampingi anak belajar, membantu aktivitas sehari-hari, atau terlibat dalam kegiatan keluarga.
Kehadiran tersebut tidak harus diwujudkan melalui aktivitas besar atau pengeluaran tambahan. Hal yang terpenting adalah konsistensi perhatian dan kualitas hubungan yang dibangun.
Bahkan, ketika tuntutan pekerjaan membuat ayah harus tinggal berjauhan, komunikasi yang rutin dan keterlibatan dalam keputusan penting terkait anak tetap dapat menjadi bagian dari tanggung jawab pengasuhan.
Anak Membutuhkan Ayah, Bukan Sekadar Pencari Nafkah
Fenomena fatherless seharusnya menjadi pengingat bahwa tanggung jawab ayah tidak selesai ketika kebutuhan finansial keluarga telah terpenuhi.
Ayah bukan hanya seseorang yang bekerja untuk membayar biaya pendidikan, menyediakan makanan, atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia juga merupakan sosok yang diharapkan hadir untuk mendengarkan, membimbing, memberikan perlindungan, dan mendukung perkembangan anak.
Di sisi lain, pengasuhan yang baik memerlukan kerja sama seluruh anggota keluarga. Tanggung jawab tersebut tidak semestinya hanya dibebankan kepada satu pihak.
Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang yang menganggap keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai sesuatu yang luar biasa. Menemani anak belajar, mengantar ke sekolah, atau mendengarkan keluh kesah mereka bukanlah bentuk bantuan kepada ibu, melainkan bagian dari tanggung jawab seorang ayah.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan masa depan yang dipersiapkan melalui kerja keras orang tuanya. Mereka juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang selama menjalani proses tumbuh kembang.
Sebab, menjadi ayah bukan hanya tentang seberapa banyak nafkah yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa besar kehadirannya dapat dirasakan dalam kehidupan seorang anak.
Biodata Penulis
Alila Laura Margareta merupakan mahasiswa semester 1 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Daftar Referensi
Fajarrini, A., & Umam, A. N. (2023). Dampak Fatherless terhadap Karakter Anak dalam Pandangan Islam. Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3(1), 20–28. https://doi.org/10.32665/abata.v3i1.1425
Koentjaraningrat. (1996). Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.
Romadhona, A. (2024). Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. https://repository.radenintan.ac.id/34441/1/ARTIKEL%201-2.pdf
Supriadi, E. R., Syahputra, A. W., & Ali, U. (2024). Analisis Dampak Fatherless terhadap Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional Remaja Kristen GPdI Wilayah I Kota Kupang. Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 5(2), 84–103. https://ojs.sttjaffray.ac.id/jitpk/article/view/978
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. (2025). Rilis Data Fatherless Indonesia. https://jateng.kemendukbangga.go.id/posts/a5256988-5ba7-4309-92a0-93148a507448-rilis-data-fatherless-indonesia
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda