Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Fatherless: Ketika Ayah Hanya Tentang Nafkah

Fatherless: Ketika Ayah Hanya Tentang Nafkah

A
Penulis: Alila Laura Margareta
30 Oktober 2026, 13.08 WITA Editor: Danang Purnama
7 menit baca
ayah dan anak
Kredit: Ilustrasi Ilustrasi Fenomena Fatherless dibuat dengan bantuan AI/ AI

JurnalPost.com - Fenomena fatherless menjadi salah satu persoalan dalam pengasuhan anak di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya menggambarkan ketidakhadiran ayah secara fisik akibat perceraian, kematian, atau tuntutan pekerjaan, tetapi juga dapat terjadi ketika seorang ayah tinggal bersama keluarganya tanpa terlibat secara aktif dalam kehidupan dan perkembangan anak.

Penelitian Fajarrini dan Umam (2023) dalam Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini membahas dampak ketiadaan peran ayah terhadap pembentukan karakter anak. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan, pendidikan, dan perkembangan emosional anak.

IKLAN

Persoalan ini juga tercermin dalam hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN). Data tersebut menunjukkan bahwa 25,8 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Di tengah masyarakat, masih terdapat pandangan bahwa tugas utama seorang ayah hanyalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama kerap menciptakan batasan terhadap peran ayah dalam keluarga.

Akibatnya, pengasuhan anak sering kali dianggap sebagai tanggung jawab ibu sepenuhnya. Bahkan, ketika seorang ayah terlibat aktif dalam merawat, mendidik, dan mendampingi anak, keterlibatan tersebut terkadang dipandang sebagai sesuatu yang istimewa, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua.

Padahal, kehadiran ayah dalam kehidupan anak seharusnya tidak hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan materi.

Peran Ayah Tidak Berhenti pada Tanggung Jawab Finansial

Koentjaraningrat (1996), dalam bukunya Pengantar Antropologi I, membahas keluarga sebagai salah satu pranata sosial yang memiliki fungsi penting dalam memberikan perlindungan, rasa aman, dan pengasuhan kepada anggotanya.

Dalam kehidupan keluarga, ayah dan ibu memiliki tanggung jawab untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak. Meskipun ibu kerap menjadi sosok yang paling dekat dengan anak sejak awal kehidupannya, hal tersebut tidak berarti bahwa seluruh tanggung jawab pengasuhan harus dibebankan kepada ibu.

Ayah juga memiliki peran penting dalam memberikan kasih sayang, membangun komunikasi, menanamkan nilai kehidupan, serta menjadi teladan bagi anak.

Bagaimana seorang anak dapat tumbuh dengan penuh kepercayaan diri apabila sosok yang seharusnya turut memberikan dukungan justru tidak hadir dalam proses pertumbuhannya?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena keterlibatan orang tua tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pembentukan rasa aman dan perkembangan emosional anak.

Anak membutuhkan lingkungan keluarga yang memungkinkan mereka merasa didengar, dihargai, dan diterima.

Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Emosional Anak

Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai persoalan emosional pada anak.

Anak yang tidak memperoleh dukungan emosional yang memadai berpotensi mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, mengekspresikan, dan mengelola perasaannya.

Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan kecemasan, kesedihan, rendahnya kepercayaan diri, hingga kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Romadhona (2024) dalam kajiannya mengenai dampak fatherless terhadap perkembangan emosional anak usia dini turut menyoroti pentingnya kehadiran figur ayah dan hubungan keluarga dalam mendukung perkembangan anak.

Kurangnya kehangatan, perhatian, serta apresiasi dari ayah dapat membuat sebagian anak mencari pengakuan dan validasi dari lingkungan di luar keluarga.

Pada sebagian remaja perempuan, pengalaman kehilangan kedekatan emosional dengan ayah juga dapat memengaruhi pandangan dan kekhawatiran mereka terhadap hubungan romantis maupun pernikahan di masa depan.

Namun, pengalaman tersebut tidak selalu terjadi pada setiap anak. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi keluarga, kualitas hubungan dengan pengasuh, serta dukungan sosial yang diterima.

Penelitian Supriadi, Syahputra, dan Ali (2024) terhadap 60 responden remaja Kristen GPdI Wilayah I Kota Kupang juga menemukan adanya hubungan antara kondisi fatherless dan aspek kecerdasan spiritual serta emosional remaja.

Dalam penelitian tersebut, variabel fatherless menjelaskan 26,4 persen variasi kecerdasan spiritual dan 28,5 persen variasi kecerdasan emosional pada responden yang diteliti.

IKLAN

Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perkembangan remaja, meskipun faktor keluarga dan lingkungan lainnya juga memiliki pengaruh.

Bukankah Ayah Bekerja untuk Masa Depan Anak?

Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan materi memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan keluarga. Biaya pendidikan, kesehatan, makanan, dan kebutuhan sehari-hari memerlukan dukungan finansial yang memadai.

Banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja demi memastikan anak-anak mereka memperoleh kehidupan yang layak.

Namun, apakah pemenuhan kebutuhan materi saja sudah cukup untuk menggantikan kehadiran emosional seorang ayah?

Seorang anak mungkin memiliki mainan mahal, fasilitas pendidikan yang baik, atau kebutuhan hidup yang tercukupi. Akan tetapi, semua itu tidak selalu dapat menggantikan pengalaman sederhana seperti berbincang, bermain, dan menghabiskan waktu bersama ayah.

Kesibukan bekerja memang dapat membatasi waktu kebersamaan. Meski demikian, keterbatasan waktu bukan berarti menutup kesempatan bagi ayah untuk membangun kedekatan dengan anak.

Percakapan selama 15 menit yang dilakukan dengan perhatian penuh dapat menjadi momen bermakna bagi anak. Mendengarkan cerita mengenai kegiatan di sekolah, menanyakan perasaan anak, atau sekadar menemani mereka bermain merupakan bentuk keterlibatan yang sederhana.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, ayah juga dapat meluangkan waktu untuk mendampingi anak belajar, membantu aktivitas sehari-hari, atau terlibat dalam kegiatan keluarga.

Kehadiran tersebut tidak harus diwujudkan melalui aktivitas besar atau pengeluaran tambahan. Hal yang terpenting adalah konsistensi perhatian dan kualitas hubungan yang dibangun.

Bahkan, ketika tuntutan pekerjaan membuat ayah harus tinggal berjauhan, komunikasi yang rutin dan keterlibatan dalam keputusan penting terkait anak tetap dapat menjadi bagian dari tanggung jawab pengasuhan.

Anak Membutuhkan Ayah, Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Fenomena fatherless seharusnya menjadi pengingat bahwa tanggung jawab ayah tidak selesai ketika kebutuhan finansial keluarga telah terpenuhi.

Ayah bukan hanya seseorang yang bekerja untuk membayar biaya pendidikan, menyediakan makanan, atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia juga merupakan sosok yang diharapkan hadir untuk mendengarkan, membimbing, memberikan perlindungan, dan mendukung perkembangan anak.

Di sisi lain, pengasuhan yang baik memerlukan kerja sama seluruh anggota keluarga. Tanggung jawab tersebut tidak semestinya hanya dibebankan kepada satu pihak.

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang yang menganggap keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai sesuatu yang luar biasa. Menemani anak belajar, mengantar ke sekolah, atau mendengarkan keluh kesah mereka bukanlah bentuk bantuan kepada ibu, melainkan bagian dari tanggung jawab seorang ayah.

Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan masa depan yang dipersiapkan melalui kerja keras orang tuanya. Mereka juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang selama menjalani proses tumbuh kembang.

Sebab, menjadi ayah bukan hanya tentang seberapa banyak nafkah yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa besar kehadirannya dapat dirasakan dalam kehidupan seorang anak.


Biodata Penulis

Alila Laura Margareta merupakan mahasiswa semester 1 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Daftar Referensi

  1. Fajarrini, A., & Umam, A. N. (2023). Dampak Fatherless terhadap Karakter Anak dalam Pandangan Islam. Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3(1), 20–28. https://doi.org/10.32665/abata.v3i1.1425

  2. Koentjaraningrat. (1996). Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

  3. Romadhona, A. (2024). Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. https://repository.radenintan.ac.id/34441/1/ARTIKEL%201-2.pdf

  4. Supriadi, E. R., Syahputra, A. W., & Ali, U. (2024). Analisis Dampak Fatherless terhadap Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional Remaja Kristen GPdI Wilayah I Kota Kupang. Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 5(2), 84–103. https://ojs.sttjaffray.ac.id/jitpk/article/view/978

  5. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. (2025). Rilis Data Fatherless Indonesia. https://jateng.kemendukbangga.go.id/posts/a5256988-5ba7-4309-92a0-93148a507448-rilis-data-fatherless-indonesia

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/fatherless-ketika-ayah-hanya-tentang-nafkah/98419/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.58 WITA

  • #fatherless
  • #keluarga
  • #pendidikan anak
  • #pengasuhan anak
  • #peran ayah
  • #perkembangan emosional anak

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.