Oleh: Nadhira Alya Universitas Airlangga
JurnalPost.com - Hiruk-pikuk mahasiswa baru tidak terlepas dari masa pengenalan kampus yang sering disebut ospek. Kegiatan ospek sangat penting bagi mahasiswa baru untuk mengenal dan memahami lingkungan yang akan mereka hadapi hingga lulus nanti. Ospek terdiri dari beberapa tingkat, seperti tingkat universitas, fakultas, dan jurusan. Selain itu, berbagai jurusan juga mengadakan kaderisasi sebagai bentuk lanjutan dari ospek jurusan.
Rangkaian kegiatan ospek meliputi mendengarkan materi dari dosen terkait pengenalan fakultas, program studi, organisasi, dan lainnya, di mana mahasiswa ditugaskan untuk membuat resume. Kegiatan ini sebenarnya memberikan dampak positif bagi para mahasiswa baru (Maba). Namun, setelah melewati rangkaian kegiatan ospek, terdapat satu kegiatan di luar rundown yang diberikan, yaitu evaluasi. Dalam kegiatan ini, semua mahasiswa baru akan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mendengarkan evaluasi dari panitia yang merupakan kakak tingkat mereka. Evaluasi ini bertujuan agar mahasiswa baru tidak mengulangi kesalahan di kemudian hari serta melatih kedisiplinan. Sayangnya, para panitia sering memberikan evaluasi dengan cara yang cukup keras, bahkan sangat keras bagi beberapa orang.
Dalam beberapa tahun terakhir, ospek sering menjadi sorotan karena adanya praktik pembentakan, yaitu tindakan kekerasan, intimidasi, atau perlakuan tidak menyenangkan yang dialami oleh mahasiswa baru. Hal ini terjadi karena budaya senioritas yang diterapkan oleh angkatan sebelumnya. Mereka merasa telah melalui fase tersebut, sehingga muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama kepada mahasiswa baru. Selain itu, dalam banyak kasus, mahasiswa baru merasa tertekan untuk mematuhi perintah atau tuntutan dari senior mereka. Norma sosial ini menciptakan hierarki di mana senior memiliki kekuasaan lebih besar. Mahasiswa baru mungkin merasa bahwa mereka harus menerima perlakuan kurang menyenangkan sebagai bagian dari proses untuk "diterima" dalam kelompok atau komunitas internal kampus.
Dampak dari situasi ini bervariasi bagi setiap mahasiswa baru. Sebagian dari mereka menganggap hal ini sebagai bentuk pelatihan mental. Namun, tidak semua mahasiswa baru dapat menanggapi dan menerima perlakuan tersebut dengan baik. Terkadang, mereka justru merasa tertekan, dan apa yang disampaikan oleh panitia tidak dapat dicerna dengan baik, sehingga evaluasi yang diberikan terasa sia-sia. “Saya analogikan seperti seharusnya menghormati tamu dan memberikan kegembiraan, tetapi malah disodori senjata api,” ujar Kael kepada Quora.com.
“Sistem ospek yang hanya menjadi ajang unjuk kekuasaan atau balas dendam tidak memiliki tempat lagi di era sekarang. Sudah saatnya diganti dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan mendidik. Bentuk bimbingan yang mendorong rasa hormat dan kerja sama akan jauh lebih bermanfaat, baik bagi senior maupun junior,” ujar Ramadhani dalam Quora.com. Berdasarkan pernyataan tersebut, seharusnya sebagai senior, mereka merangkul junior agar tercipta suasana yang nyaman untuk menuntut ilmu tanpa rasa takut, melainkan saling menghormati. Selain itu, beberapa kampus juga telah berupaya agar tindakan kurang menyenangkan tersebut tidak terjadi lagi, salah satunya adalah Universitas Airlangga (UNAIR). Dalam ospek ini, Project Officer Juristocrat 2022, Iqbal Fauzurrahman, menekankan bahwa ospek harus bersifat humanis, mendidik, dan menyenangkan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda