Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Esensi Pembentakan Mahasiswa Baru : Mendidik atau Ajang Balas Dendam ?

Esensi Pembentakan Mahasiswa Baru : Mendidik atau Ajang Balas Dendam ?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
03 Januari 2025, 10.27 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Esensi Pembentakan Mahasiswa Baru : Mendidik atau Ajang Balas Dendam ?

Oleh: Nadhira Alya Universitas Airlangga

JurnalPost.com - Hiruk-pikuk mahasiswa baru tidak terlepas dari masa pengenalan kampus yang sering disebut ospek. Kegiatan ospek sangat penting bagi mahasiswa baru untuk mengenal dan memahami lingkungan yang akan mereka hadapi hingga lulus nanti. Ospek terdiri dari beberapa tingkat, seperti tingkat universitas, fakultas, dan jurusan. Selain itu, berbagai jurusan juga mengadakan kaderisasi sebagai bentuk lanjutan dari ospek jurusan.

IKLAN

Rangkaian kegiatan ospek meliputi mendengarkan materi dari dosen terkait pengenalan fakultas, program studi, organisasi, dan lainnya, di mana mahasiswa ditugaskan untuk membuat resume. Kegiatan ini sebenarnya memberikan dampak positif bagi para mahasiswa baru (Maba). Namun, setelah melewati rangkaian kegiatan ospek, terdapat satu kegiatan di luar rundown yang diberikan, yaitu evaluasi. Dalam kegiatan ini, semua mahasiswa baru akan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mendengarkan evaluasi dari panitia yang merupakan kakak tingkat mereka. Evaluasi ini bertujuan agar mahasiswa baru tidak mengulangi kesalahan di kemudian hari serta melatih kedisiplinan. Sayangnya, para panitia sering memberikan evaluasi dengan cara yang cukup keras, bahkan sangat keras bagi beberapa orang.

IMG 0170
Baca Juga

Jujur Dimulai dari Meja Kasir: Merancang Gerakan Kejujuran dari Kebiasaan Kecil Mahasiswa

IKLAN

Dalam beberapa tahun terakhir, ospek sering menjadi sorotan karena adanya praktik pembentakan, yaitu tindakan kekerasan, intimidasi, atau perlakuan tidak menyenangkan yang dialami oleh mahasiswa baru. Hal ini terjadi karena budaya senioritas yang diterapkan oleh angkatan sebelumnya. Mereka merasa telah melalui fase tersebut, sehingga muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama kepada mahasiswa baru. Selain itu, dalam banyak kasus, mahasiswa baru merasa tertekan untuk mematuhi perintah atau tuntutan dari senior mereka. Norma sosial ini menciptakan hierarki di mana senior memiliki kekuasaan lebih besar. Mahasiswa baru mungkin merasa bahwa mereka harus menerima perlakuan kurang menyenangkan sebagai bagian dari proses untuk "diterima" dalam kelompok atau komunitas internal kampus.

Dampak dari situasi ini bervariasi bagi setiap mahasiswa baru. Sebagian dari mereka menganggap hal ini sebagai bentuk pelatihan mental. Namun, tidak semua mahasiswa baru dapat menanggapi dan menerima perlakuan tersebut dengan baik. Terkadang, mereka justru merasa tertekan, dan apa yang disampaikan oleh panitia tidak dapat dicerna dengan baik, sehingga evaluasi yang diberikan terasa sia-sia. “Saya analogikan seperti seharusnya menghormati tamu dan memberikan kegembiraan, tetapi malah disodori senjata api,” ujar Kael kepada Quora.com.

“Sistem ospek yang hanya menjadi ajang unjuk kekuasaan atau balas dendam tidak memiliki tempat lagi di era sekarang. Sudah saatnya diganti dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan mendidik. Bentuk bimbingan yang mendorong rasa hormat dan kerja sama akan jauh lebih bermanfaat, baik bagi senior maupun junior,” ujar Ramadhani dalam Quora.com. Berdasarkan pernyataan tersebut, seharusnya sebagai senior, mereka merangkul junior agar tercipta suasana yang nyaman untuk menuntut ilmu tanpa rasa takut, melainkan saling menghormati. Selain itu, beberapa kampus juga telah berupaya agar tindakan kurang menyenangkan tersebut tidak terjadi lagi, salah satunya adalah Universitas Airlangga (UNAIR). Dalam ospek ini, Project Officer Juristocrat 2022, Iqbal Fauzurrahman, menekankan bahwa ospek harus bersifat humanis, mendidik, dan menyenangkan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/esensi-pembentakan-mahasiswa-baru-mendidik-atau-ajang-balas-dendam/76806/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026, 18.59 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Gerakan Literasi Nasional sebagai Upaya Membangun Budaya Literasi di Indonesia

Tarbiyah vs Taklim: Mengapa Santri Lebih Butuh Dididik daripada Sekadar Diajari?

Logat Jawa Dianggap Kampungan, Ketika Cara Berbicara Justru Menjadi Alasan untuk Diremehkan

Kamitetep, Si Kecil yang Nyaris Tak Terlihat: Ini Bahayanya

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa Universitas Pamulang Gandeng PT Aratech Nusantara Indonesia Kembangkan Sistem HRIS untuk Digitalisasi Karyawan

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

FH UI dan KOMPAK Jakarta Edukasi Anak Muda Kenali Modus Perdagangan Orang Lewat Simulasi Interaktif

Mahasiswa Magang Turut Berkontribusi dalam Penyelenggaraan MTQ ke-32 Kabupaten Tuban 2026

Pilihan Editor

  1. 1 Tekuni Budidaya Ikan Lele, Salim Manfaatkan Layanan BRI Bojonegoro untuk Kembangkan Usaha
  2. 2

    82,4 Persen Guru Sangat Membutuhkan Flipbook Berbasis Pembelajaran Mendalam untuk Mendukung Kurikulum Merdeka

  3. 3

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. 4

    Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

  5. 5

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.