JurnalPost.com - Batik lasem adalah salah satu warisan budaya nusantara yang harus kita lestarikan. Motif batik lasem memiliki ciri khas tersendiri yang menjadikan pembeda dengan batik dari daerah lainya. Batik lasem mulai ada sejak abad ke-14 ketika Cheng Ho, Seorang laksamana muda yang menjalani ekspedisi ke Nusantara. Batik ini mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan juga Jawa. Warna merah dan motif yang rapat menjadi ciri khas Batik Lasem. Keindahan Batik Lasem tidak hanya pada corak motif dan warnanya namun juga didukung dengan filosofi yang kuat sehingga menjadikan symbol toleransi bangsa serta identitas bangsa yang harus dilestarikan.
Indonesia dikenal dengan bangsa yag akan budaya. Salah satu warisan yang ada adalah batik. Setiap daerah di Indonesia memiliki motif batik dengan ciri khas yang berbeda-beda. Lasem menjadi salah satu daerah yang erat kaitanya dengan batik.
Batik Lasem sudah ada sejak abad ke-14 dengan adanya seorang laksamana muda bernama Cheng Ho yang sedang menjlani ekspedisi di Nusantara. Perpaduan motif batik Jawa dengan corak motif tiongkok menjadikan Batik Lasem terkenal hingga pelosok Nusantara bahkan dunia. Batik yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpiece of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) asli Indonesia pada 2009.
Keberadan Batik Lasem sejak abad ke-14 karena adanaya orang-orang tinghoa yang menetap dan menikah dengan pribumi asli sehingga mengakibatkan munculnya akulturasi budaya Jawa dengan budaya tinghoa. Lasem sebuah daerah di pesisir pantai yang kala itu menjadi pusat perniagaan sehingga motif-motif yang ada pada Batik Lasem erat kaitanya dengan keberagaman budaya yang masuk ke Lasem.
Motif Batik Lasem yang rapat dan juga identik dengan warna merah menjadi ciri khas tersendiri. Penggunaan warna merah yang mencolok tidak lepas dari budaya tinghoa yang masuk ke Lasem masa itu. Selain warna merah Batik Lasem juga mempunyai warna lain seperti hijau dan biru. Perpaduan warna yang indah membuat Batik Lasem banyak peminatnya. Batik Lasem juga mencerminkan nilai toleransi yang ada diaerah tersebut. Batik Lasem juga menjelaskan bagaimana masyarakat yang tinggal di Lasem dapat hiduo berdampingan tanpa membedakan suku ataupun ras satu sama lain.
Proses pembuatan Batik Lasem pun tidak mudah. Satu kain Batik Lasem bisa diselesaikan dalam sehari atau dua hari tergantung dengan tingkat kerumitan dan kepadatan motif batik tersebut. Proses itu belum termasuk pewarnaan. Hal itu yang menjadikan harganya relatif lebih mahal. Namun Banyak kolektor-kolektor batik yang membeli Batik Lasem hanya untuk koleksi belaka. Pak Afif Arwani salah satu pengusaha batik yang ada di Lasem mengatakan bahwa banyak peminat batik lasem ini dari Jakarta, Bali dan kota-kota lainya. Beliau juga pernah mengirim ke luar negeri seperti Singapura bahkan hingga ke Belanda.
Pak Afif sendiri sudah berkecimpung di dunia batik sejak 2013. Dalam beberapa dekade tantangan dari kelstarian Batik Lasem ini adalah dengan adanya Batik Printing dengan metode yang lebih cepat dan juga harga yang murah.
Batik Lasem adalah warisan budaya Nusantara yang harus kita jaga kelestarianya. Keindahan motinya dan maknanya menjadikan symbol identitas bangsa. Dengan menjaga keberlanjutan Batik Lasem, kita turut serta dalam menjaga identitas bangsa. Penulis: Muhammad ‘Ammar Program Studi Film dan Televisi ISI Surakarta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda