Oleh: Nurul Karimah, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Lampung
JurnalPost.com - Pembelajaran bahasa Indonesia tidak sekadar mengajarkan teori, tetapi membentuk empat keterampilan utama, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, realitas di banyak kelas SMP masih menunjukkan pola pembelajaran satu arah yaitu guru menjelaskan, siswa mencatat. Kebiasaan seperti ini bukan hanya membosankan, tetapi juga mematikan daya kritis siswa. Akibatnya, siswa menjadi pasif dan kurang mampu mengolah informasi secara mendalam. Dampaknya terlihat nyata pada rendahnya kemampuan literasi, yang tercermin dari hasil asesmen internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) yang masih menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia pada posisi yang tertinggal.
Memasuki era disrupsi digital, tantangan semakin nyata. Siswa hidup dalam arus informasi yang serba cepat dan instan. Mereka lebih akrab dengan TikTok daripada teks bacaan, lebih cepat menyalin daripada memahami. Budaya “salin-tempel” juga semakin menguat, menggantikan proses berpikir kritis dan reflektif. Di sisi lain, tidak semua guru siap memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran yang berakibat pada teknologi justru menjadi distraksi, bukan solusi.
Dalam konteks ini, kehadiran Kurikulum Merdeka sebenarnya menawarkan peluang besar. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, dan berbasis proyek. Namun, kebijakan yang baik tidak akan berdampak tanpa keberanian guru untuk mengubah paradigma mengajar. Di titik inilah guru dihadapkan pada pilihan penting: beradaptasi atau tertinggal. Beradaptasi tidak selalu berarti harus menjadi ahli teknologi. Yang lebih penting adalah kemauan untuk mengubah pendekatan. Pembelajaran bisa mulai diarahkan menjadi lebih interaktif dan berpusat pada siswa. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai jembatan, bukan penghalang. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai materi, tetapi harus berperan sebagai fasilitator yang mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Pada pembelajaran sastra, inovasi juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan platform digital seperti Padlet sebagai ruang apresiasi. Puisi tidak lagi sekadar tugas yang dikumpulkan, tetapi menjadi karya yang dipublikasikan dan diapresiasi. Siswa belajar bahwa menulis bukan hanya untuk dinilai, tetapi untuk dibaca dan dimaknai oleh orang lain. Guru perlu berani menggeser fokus dari “produk akhir” ke “proses belajar”. Dalam praktiknya, banyak pembelajaran masih berorientasi pada nilai, bukan pada pengembangan kompetensi. Padahal, di era digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi jauh lebih penting daripada sekadar hasil tes.
Tentu, perubahan ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada guru. Dukungan dari sekolah, pemerintah, dan lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan, terutama dalam penyediaan pelatihan dan fasilitas. Namun, langkah kecil dari guru tetap menjadi kunci awal perubahan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak boleh tertinggal di tengah kemajuan zaman. Justru sebaliknya, mata pelajaran ini memiliki potensi besar untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap berbahasa, tetapi juga kritis, kreatif, dan adaptif. Jika ruang kelas tidak berubah, maka yang tertinggal bukan hanya metode, tetapi juga masa depan peserta didik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda