
OLEH: Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU Brian Firman Norman Juan Hulu (210902037), Sera Dwi Wati (210902107), Adelia Khoirani Sembiring (210902095)
Dosen pengampu : Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti M. SP
JurnalPost.com – Pemberdayaan perempuan adalah suatu proses untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan, kepercayaan diri, dan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu di bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, maupun budaya. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesetaraan gender dan memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan. Pemberdayaan ini mencakup pendidikan, pelatihan, akses ke peluang kerja, dan dukungan terhadap hak-hak perempuan sehingga mereka dapat membuat keputusan yang berdampak pada hidupnya dan komunitasnya secara lebih mandiri.
Sementara itu, single parent adalah atau orang tua tunggal adalah seseorang yang mengasuh dan membesarkan anak tanpa kehadiran pasangan (baik suami atau istri). Situasi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti perceraian, kematian pasangan, kehamilan di luar nikah, atau pilihan pribadi. Single parent biasanya menjalani peran ganda, yaitu sebagai ayah dan ibu, sehingga mereka sering menghadapi tantangan yang lebih besar dalam membesarkan anak, mengelola keuangan, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga.
Pemberdayaan perempuan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan, seperti: Menciptakan kesetaraan gender, Meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan diri, Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran wanita.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk pemberdayaan perempuan, di antaranya: Pendidikan untuk perempuan, Menciptakan lingkungan kerja yang aman, Dukungan untuk ibu baru, Women Support Women.
Praktik Lapangan yang dilakukan yaitu memberdayakan seorang perempuan single parent yang berinisial R (50) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan berjualan kedai seadanya. R ditinggal suaminya sejak 5 tahun yang lalu. Kematian suaminnya tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam tetapi juga tanggung jawab besar sebagai pencari nafkahtunggal bagi keluarganya. Peran ganda yang harus diemban oleh R sebagai ibu rumah tangga dan kepala keluarga mengakibatkan berbagai tekanan sosial dan ekonomi yang signifikan.
Dalam konteks ekonomi, R berjuang dengan penghasilan berjualan dikedai yang perbulannya memiliki omset sekitar Rp. 1.500.000 tetapi penghasilan R hanya cukup untuk makan saja, kebutuhan seperti biaya pendidikan dan kesehatan anak-anaknya. R memiliki enam anak, dua dari anak R membantu dalam mencukupi hidup keluarga dengan membayar listrik dan biaya sekolah adik-adiknya.
Kondisi ini mencerminkan tantangan umum yang dihadapi oleh banyak single parent di lingkungan ekonomi informal. R memiliki keterampilan memasak yang cukup baik, karena itu kami memikirkan bagaimana R membuat usaha Catering saja yang akan menambah penghasilannya untuk mencukupi biaya hidup.

Pemberdayaan secara umum tidak hanya merujuk pada individu atau kelompok yang sama sekali belum memiliki kemampuan, akan tetapi pemberdayaan juga dapat menyasar pada individu atau kelompok yang memiliki potensi akan tetapi belum memaksimalkan potensi itu. Konsep Pemberdayaan Perempuan menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan disebutkan bahwa pemberdayaan perempuan adalah upaya memampukan perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, sosial, budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri (Sulistyowati, 2015).
Indikator pemberdayaan yang dikemukakan oleh Suhendra, diantaranya yaitu (Mulyawan, 60: 2016):
a. Mempunyai kemampuan menyiapkan dan menggunakan sumber- sumber yang ada di masyarakat
b. Dapat berjalannya “bottom- up planning”
c. Kemampuan dan aktivitas ekonomi
d. Kemampuan menyiapkan hari depan keluarga
e. Kemampuan menyampaikan pendapat dan aspirasi tanpa adanya tekanan
Sehingga dengan adanya indikator tersebut, proses kegiatan dapat diharapkan berjalan dengan baik serta jika dalam pelaksanaannya terdapat kendala dapat dievaluasi secara berkala agar dapat memaksimalkan potensi yang ada di lapangan atau di masyarakat.
Dengan potensi ataupun keahlian yang dimiliki oleh R yaitu memasak dan berdagang maka kelompok kami memberikan solusi kegiatan pemberdayaan yaitu membuka wirausaha catering makanan dari hasil masakan buatan oleh ibu R yang dapat dijual melalui rumah ke rumah dan promosi dari media sosial berupa WhatsApp yang kemudian disebarkan ke grup warga setempat. Jadi selain membuka warung sembako, usaha catering dapat menambah pemasukan dalam mencukupi ekonomi keluarga dan kesejahteraan hidup beliau dan dapat memberikan peluang lowongan kerja untuk perempuan lainnya.




