
Kota Batu, JurnalPost.com – Sebagai wujud kepedulian terhadap pencegahan aksi perundungan di kalangan pelajar, mahasiswa kelompok 50 gelombang 6 Program Pengabdian Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pelatihan empati kepada siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Batu. Pelatihan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang dijalankan oleh tim PMM UMM, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan siswa dalam memahami dan mengatasi perundungan di lingkungan sekolah.
Pelatihan yang bertajuk “Membangun Empati untuk Sekolah Ramah dan Bebas Perundungan” ini diselenggarakan pada tanggal 31 Juli 2024 di SD Negeri Pandanrejo 1 Sebanyak 3 Kelas dengan siswa kelas 6 dan 5 mengikuti pelatihan ini dengan antusias.
“Perundungan merupakan masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional anak,” ujar Ketua Tim PMM UMM, Arelisa “Melalui pelatihan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai empati dan toleransi pada siswa, sehingga mereka dapat membangun hubungan yang positif dan saling menghormati di lingkungan sekolah.”
Dalam pelatihan, para mahasiswa PMM UMM menyampaikan materi tentang definisi perundungan, bentuk-bentuk perundungan, dampak perundungan, dan cara-cara mencegah perundungan. Mereka menggunakan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, seperti role playing, video edukatif, dan diskusi kelompok.
“Kami juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pengalaman dan perasaan mereka terkait dengan perundungan,” tambah Syafiraa. “Hal ini penting untuk membangun dialog terbuka dan membangun rasa percaya diri bagi siswa dalam mengungkapkan masalah yang dihadapi.”
Selain materi tentang empati dan pencegahan perundungan, pelatihan juga mencakup materi tentang pentingnya komunikasi yang efektif dan membangun rasa percaya diri. Mahasiswa PMM UMM berharap bahwa pelatihan ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasi yang positif dan membangun hubungan yang harmonis dengan teman sebaya.
“Kami sangat terkesan dengan antusiasme dan partisipasi siswa dalam pelatihan ini,” ujar Abil. “Semoga pelatihan empati ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan.”
Melalui program PMM ini, mahasiswa UMM tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, tetapi juga mengembangkan kemampuan diri dalam bidang pengabdian masyarakat, komunikasi, leadership, dan problem solving. Mereka berharap bahwa pelatihan empati ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kota Batu untuk melakukan upaya pencegahan perundungan secara lebih serius dan menyeluruh.




