Langsa, JurnalPost.com – Pascabanjir bandang yang melanda Dusun Matang Gisa, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, aktivitas belajar anak usia dini mengalami gangguan serius akibat lingkungan sekolah yang masih dipenuhi lumpur dan belum layak digunakan. Menjawab kondisi darurat tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Samudra menghadirkan program EDU-CERIA (Emergency Education for Cheerful and Resilient Children) sebagai upaya pemulihan proses belajar anak secara cepat, aman, dan menyenangkan.
Program yang diketuai oleh Fazrina Saumi, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Matematika Universitas Samudra, ini berfokus pada penyelenggaraan pendidikan darurat bagi anak usia dini terdampak bencana. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, EDU-CERIA dirancang untuk menjaga keberlanjutan stimulasi belajar anak selama sekolah formal belum dapat difungsikan secara optimal.
“Anak usia dini berada pada fase perkembangan yang sangat penting, sehingga terputusnya rutinitas belajar pascabencana dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan sosial mereka. Karena itu, kami menghadirkan ruang belajar sementara yang ceria dan ramah anak,” ujar Fazrina.
Kegiatan EDU-CERIA dilaksanakan pada 16 Februari 2026 di salah satu rumah warga yang dinilai memadai, mengingat beberapa lokasi di wilayah tersebut masih belum sepenuhnya pulih pascabanjir. Anak-anak mengikuti berbagai aktivitas edukatif, mulai dari literasi awal melalui membaca cerita, numerasi dasar melalui permainan berhitung, hingga kegiatan kreatif seperti menggambar, mewarnai, menyanyi, dan bermain peran. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kemampuan belajar anak, tetapi juga membantu memulihkan semangat dan rasa aman mereka setelah mengalami situasi bencana.
Selain pembelajaran langsung, tim PKM juga menyalurkan paket media pembelajaran darurat, seperti kartu huruf, kartu angka, gambar tematik, buku aktivitas, crayon, dan alat peraga numerasi sederhana. Media ini dirancang agar mudah digunakan kembali oleh orang tua maupun pendamping lokal di rumah selama masa pemulihan.
Mahasiswa yang tergabung dalam tim turut berperan aktif sebagai pendamping lapangan, membantu pelaksanaan aktivitas belajar, mendokumentasikan kegiatan, serta memonitor keterlibatan anak dalam setiap sesi pembelajaran. Kolaborasi dengan pemerintah desa juga menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan program hingga kondisi sekolah kembali normal.
Melalui program ini, Universitas Samudra menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam menjaga hak belajar anak usia dini pada situasi pascabencana. EDU-CERIA diharapkan dapat menjadi model pendidikan darurat berbasis komunitas yang adaptif, sederhana, dan mudah direplikasi di wilayah terdampak bencana lainnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda