Blangkejren, JurnalPost.com - Semangat pemberdayaan ekonomi lokal kini mulai terwujud di Desa Rikit dekat, Kecamatan Kuta Panjang, Kabupaten Gayo Lues. Melalui inovasi pengemasan dan penguatan identitas merek (branding), masyarakat setempat mulai mengembangkan minyak sereh wangi sebagai produk unggulan yang bernilai tambah tinggi.
Selama ini, minyak sereh wangi yang dihasilkan warga setempat dijual dalam bentuk curah kepada agen dari luar kota dengan harga sekitar Rp. 300.000 per kg. Produk tersebut dipasarkan tanpa kemasan maupun label, sehingga tidak memiliki identitas yang jelas. Ironisnya, para agen kemudian mengemas ulang produk tersebut dan menjualnya kembali dengan harga mencapai Rp.700.000 per kg. Ketergantungan terhadap sistem distribusi tunggal ini menyebabkan petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat dan kehilangan potensi keuntungan yang seharusnya dapat diperoleh.
Merespons kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat hadir memberikan pendampingan kepada masyarakat Desa Rikit Dekat. Program ini mencakup pelatihan teknis pengemasan, perancangan label produk berbasis kearifan lokal, serta strategi pemasaran digital yang efektif. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan masyarakat mulai memproduksi minyak sereh dalam kemasan kecil dengan label merek lokal “Rikit Wangi”, yang mencerminkan identitas budaya dan geografis desa setempat.
“Dulu kami tidak terpikir menjual dalam botol kecil. Sekarang kami tahu bahwa kemasan bisa menaikkan harga jual,” ungkap Pak Tarmizi, salah satu peserta pelatihan yang juga merupakan pelaku UMKM.
Pelatihan diikuti oleh 10 peserta dari kalangan petani sereh dan pelaku usaha lokal. Mereka mendapatkan pengetahuan praktis mengenai pemilihan jenis botol, teknik pengisian dan pelabelan produk, serta strategi promosi melalui platform digital seperti WhatsApp Business dan media social sebagai sarana promosi awal.
Ketua Tim Pengabdian, Ir. Nina Fahriana, S.T., M.T., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mitra secara langsung dan berkelanjutan.
“Kami melihat bahwa masyarakat sudah memiliki produk berkualitas, namun belum tersentuh oleh inovasi pengemasan dan strategi pemasaran. Program ini bertujuan untuk mendorong kemandirian dan peningkatan nilai jual produk lokal melalui pendekatan sederhana yang mudah diterapkan,” ujar Nina.
Anggota tim PKM, Dr. Ir. Lely Masthura, S.T., M.Eng., juga menambahkan bahwa aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan kegiatan.
“Kami tidak hanya fokus pada hasil jangka pendek, tetapi juga membangun pemahaman dan keterampilan masyarakat agar bisa melanjutkan usaha secara mandiri. Harapannya, masyarakat tidak lagi bergantung pada agen, tetapi mampu menjadi pelaku utama dalam rantai nilai produk minyak sereh wangi,” terang Lely.
Dampak positif dari kegiatan ini diharapkan mulai terlihat dalam waktu dekat. Lebih dari 200 unit botol minyak sereh berukuran 10 ml dan 30 ml ditargetkan akan diproduksi dan dipasarkan di pusat oleh-oleh Blangkejeren, pasar lokal, serta pameran UMKM. Produk kemasan 30 ml direncanakan akan dijual dengan harga Rp. 25.000 dan ukuran 10 ml dengan harga Rp. 15.000. Dengan strategi ini, nilai jual per liter diharapkan meningkat signifikan, mencapai Rp. 600.000–700. 000, atau dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya.

Kepala Desa Rikit Dekat, Bapak Edisah Putra, mengapresiasi kegiatan ini dan berharap dapat menjadi titik awal penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
“Kami senang atas program ini. Semoga kegiatan Inovasi kemasan dan pelatihan pemasaran dapat membuka wawasan masyarakat. Dulu nya yang hanya bergantung pada agen, semoga nantinya kami punya produk sendiri yang bisa dibanggakan. Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi usaha mandiri masyarakat ke depan,” ujar beliau.
Selain memproduksi secara mandiri, warga juga mulai membangun jaringan distribusi dan pemasaran yang lebih luas melalui kerja sama dengan toko oleh-oleh serta pemanfaatan platform digital. Harapannya, inisiatif ini dapat berkelanjutan dan diperkuat melalui dukungan dari pemerintah daerah serta lembaga terkait.
Inovasi pengemasan dan branding lokal ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa dapat ditingkatkan melalui pendekatan yang tepat dan partisipatif. Dari kaki Pegunungan Leuser, minyak sereh wangi kini tidak hanya menjadi komoditas aromatik semata, tetapi juga simbol transformasi ekonomi berbasis potensi lokal dan kearifan masyarakat setempat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda