Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Dinamika Keberagaman Agama dalam Konteks Pendidikan: Toleransi Siswa Berbeda Agama dalam Lingkungan Mayoritas

Dinamika Keberagaman Agama dalam Konteks Pendidikan: Toleransi Siswa Berbeda Agama dalam Lingkungan Mayoritas

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
28 Desember 2025, 00.34 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Konteks Pendidikan
Oleh: Kadek Sintia Dwi Pramesti JurnalPost.com - Sekolah sering dipandang sebagai tempat mengejar nilai dan prestasi. Padahal, sekolah juga menjadi ruang awal bagi anak-anak untuk belajar hidup bersama orang lain yang berbeda keyakinan, budaya, dan nilai. Di ruang kelas inilah peserta didik mulai memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan sosial yang tak terhindarkan. Karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan sikap inklusif sejak dini (Iskandar, 2021). Cara sekolah memperkenalkan perbedaan akan membekas jauh melampaui masa sekolah. Ketika perbedaan agama dan budaya hanya diposisikan sebagai “hal sensitif” yang dihindari, siswa justru belajar untuk diam dan menjaga jarak. Sebaliknya, ketika perbedaan dihadirkan sebagai bagian wajar dari kehidupan bersama, sekolah membantu siswa membangun kepekaan sosial sejak dini. Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membentuk cara pandang terhadap sesama. Pendidikan yang adil bukan sekadar soal siapa yang boleh bersekolah, tetapi juga tentang bagaimana sekolah memperlakukan setiap anak secara setara. Lingkungan belajar yang inklusif memberi ruang bagi siswa untuk merasa diterima apa adanya, tanpa harus menyembunyikan identitas keyakinan atau latar belakangnya. Dari ruang kelas yang aman inilah, proses belajar tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga kepekaan sosial. Ruang aman di sekolah sering kali tidak tercipta hanya melalui aturan tertulis. Ia terasa melalui sikap guru, cara sekolah merespons perbedaan, dan bagaimana siswa diperlakukan dalam keseharian. Bagi siswa dari kelompok minoritas, rasa aman menjadi kebutuhan mendasar agar mereka tidak merasa harus menyesuaikan diri secara berlebihan demi diterima. Tanpa rasa aman ini, pendidikan berisiko melanggengkan ketimpangan yang sejak awal ingin dihindari Sebagai miniatur masyarakat, sekolah tidak pernah lepas dari dinamika keberagaman. Perbedaan latar belakang budaya dan agama kerap menjadi tantangan, terutama ketika siswa dari kelompok minoritas berada dalam lingkungan yang didominasi oleh satu keyakinan tertentu. Dalam situasi seperti ini, toleransi tidak cukup dimaknai sebagai sikap membiarkan, tetapi perlu hadir secara nyata dalam interaksi sehari-hari antar siswa (Purnamasari, 2017).

Ketika Mayoritas dan Minoritas Berjumpa

Dalam praktiknya, toleransi beragama tumbuh melalui pengalaman konkret yang dialami siswa setiap hari. Di lingkungan sekolah yang didominasi oleh satu agama, siswa dari kelompok minoritas tetap difasilitasi ruang pembelajaran agama tersendiri, sementara kelas reguler digunakan oleh siswa mayoritas. Aktivitas keagamaan mayoritas berlangsung rutin, mulai dari pembacaan yasin setiap Jumat, salat dzuhur berjamaah, salat Jumat, hingga peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pengajian dan pentas seni keagamaan. Menariknya, siswa nonmayoritas tetap hadir dan terlibat dalam kehidupan sosial sekolah tanpa adanya paksaan. Sikap toleransi tampak dalam tindakan sederhana namun bermakna, seperti menjaga ketenangan kelas saat ibadah berlangsung, mengingatkan teman mayoritas untuk beribadah, serta menjawab salam guru sebagai bentuk penghormatan. Hubungan pertemanan terjalin akrab melalui candaan, kerja sama, kebiasaan berbagi bekal, dan saling membantu. Dalam konteks ini, perbedaan posisi sebagai mayoritas dan minoritas tidak menghalangi terciptanya relasi sosial yang hangat dan setara (Asrhofiah dan Hafil, 2023). Pengalaman-pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa toleransi sering kali tumbuh dari relasi personal, bukan dari doktrin formal. Ketika siswa berinteraksi secara setara, perbedaan agama tidak lagi menjadi batas yang kaku. Justru dari kebiasaan sehari-hari bercanda, bekerja sama, dan saling peduli nilai toleransi dipelajari secara alami dan lebih membekas

Peran Kebijakan Sekolah

Kebijakan sekolah memainkan peran penting dalam menentukan arah budaya institusi. Ketika sekolah sejak awal bersikap inklusif, pesan yang diterima siswa sangat jelas: keberagaman bukan sekadar ditoleransi, tetapi diterima. Kebijakan semacam ini juga menjadi bentuk tanggung jawab moral sekolah dalam memastikan tidak ada kelompok yang merasa terpinggirkan sejak langkah pertama mereka masuk ke dunia pendidikan. Upaya membangun toleransi tidak hanya bergantung pada relasi antar siswa, tetapi juga pada kebijakan sekolah. Pada sekolah dasar berbasis Kristen, kebijakan pendidikan multikultural telah diterapkan sejak tahap penerimaan peserta didik. Sekolah membuka ruang bagi anak-anak dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya tanpa perlakuan diskriminatif. Kebijakan ini diarahkan untuk menumbuhkan sikap toleransi beragama serta membangun penerimaan terhadap keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama (Mutiara dkk., 2024). Kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa toleransi tidak tumbuh secara spontan, tetapi perlu dirancang dan dijaga. Melalui pendekatan pendidikan multikultural, perbedaan tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekayaan yang memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Sekolah pun berperan sebagai ruang perjumpaan yang memungkinkan siswa belajar memahami dan menghargai perbedaan secara dewasa Pada akhirnya, toleransi dalam dunia pendidikan bukan sekadar membiarkan perbedaan tetap ada. Toleransi adalah proses aktif untuk saling memahami dan menghormati. Ketika kebijakan yang inklusif bertemu dengan interaksi sosial yang setara, sekolah dapat menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk tumbuh bersama dalam keberagaman. Pengalaman inilah yang menjadi bekal penting bagi siswa untuk hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang majemuk. Pengalaman hidup berdampingan di sekolah menjadi bekal penting bagi siswa untuk menghadapi realitas masyarakat yang majemuk. Nilai toleransi yang tumbuh dari pengalaman nyata, bukan sekadar wacana akan membentuk generasi yang lebih siap hidup bersama dalam perbedaan. Di titik inilah, sekolah menjalankan peran sosialnya yang paling mendasar: menyiapkan manusia, bukan hanya lulusan. Daftar Pustaka Ashrofiah, P. N., & Hafil, A. S. (2023). Pola interaksi siswa-siswi kristen dan muslim dalam membangun toleransi beragama. Journal of Islamic and Social Studies (JISS), 1(1), 25-36. Iskandar, D. (2021). Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Report Text Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas IX.A SMP Negeri 1 Sape Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Indonesia (JPPI). 1(2): 123–140. Mutiara, E. A., Alindra, A. L., Febriani, K., Nafiisah, R., Devi, R., Ulhaq, S., & Rahmawati, Y. (2024). Dinamika Kebijakan Pendidikan Multikultural dalam Konteks Sekolah Dasar Kristen Mendorong Toleransi Beragama dan Penerimaan Keberagaman. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 3040-3047. Purnamasari, I. (2017). Keragaman di ruang kelas: Telaah kritis wujud dan tantangan pendidikan multikultural. Harmony, 2(2), 130–138.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/dinamika-keberagaman-agama-dalam-konteks-pendidikan-toleransi-siswa-berbeda-agama-dalam-lingkungan-mayoritas/89563/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.09 WITA

  • #Dunia Pendidikan
  • #Keberagaman Agama
  • #Konteks Pendidikan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Pilihan Editor

  1. 1 UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta
  2. 2

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  3. 3

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  4. 4

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  5. 5

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.