Dinamika Keberagaman Agama dalam Konteks Pendidikan: Toleransi Siswa Berbeda Agama dalam Lingkungan Mayoritas
Oleh: Kadek Sintia Dwi Pramesti
JurnalPost.com - Sekolah sering dipandang sebagai tempat mengejar nilai dan prestasi. Padahal, sekolah juga menjadi ruang awal bagi anak-anak untuk belajar hidup bersama orang lain yang berbeda keyakinan, budaya, dan nilai. Di ruang kelas inilah peserta didik mulai memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan sosial yang tak terhindarkan. Karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan sikap inklusif sejak dini (Iskandar, 2021). Cara sekolah memperkenalkan perbedaan akan membekas jauh melampaui masa sekolah. Ketika perbedaan agama dan budaya hanya diposisikan sebagai “hal sensitif” yang dihindari, siswa justru belajar untuk diam dan menjaga jarak. Sebaliknya, ketika perbedaan dihadirkan sebagai bagian wajar dari kehidupan bersama, sekolah membantu siswa membangun kepekaan sosial sejak dini. Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membentuk cara pandang terhadap sesama.
Pendidikan yang adil bukan sekadar soal siapa yang boleh bersekolah, tetapi juga tentang bagaimana sekolah memperlakukan setiap anak secara setara. Lingkungan belajar yang inklusif memberi ruang bagi siswa untuk merasa diterima apa adanya, tanpa harus menyembunyikan identitas keyakinan atau latar belakangnya. Dari ruang kelas yang aman inilah, proses belajar tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga kepekaan sosial. Ruang aman di sekolah sering kali tidak tercipta hanya melalui aturan tertulis. Ia terasa melalui sikap guru, cara sekolah merespons perbedaan, dan bagaimana siswa diperlakukan dalam keseharian. Bagi siswa dari kelompok minoritas, rasa aman menjadi kebutuhan mendasar agar mereka tidak merasa harus menyesuaikan diri secara berlebihan demi diterima. Tanpa rasa aman ini, pendidikan berisiko melanggengkan ketimpangan yang sejak awal ingin dihindari
Sebagai miniatur masyarakat, sekolah tidak pernah lepas dari dinamika keberagaman. Perbedaan latar belakang budaya dan agama kerap menjadi tantangan, terutama ketika siswa dari kelompok minoritas berada dalam lingkungan yang didominasi oleh satu keyakinan tertentu. Dalam situasi seperti ini, toleransi tidak cukup dimaknai sebagai sikap membiarkan, tetapi perlu hadir secara nyata dalam interaksi sehari-hari antar siswa (Purnamasari, 2017).
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda