KUBU RAYA, JurnalPost.com — Pemanfaatan teknologi digital mulai menjadi bagian penting dalam pengembangan desa, baik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat maupun memperkenalkan produk, komoditas, dan potensi ekonomi lokal ke jangkauan yang lebih luas.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) 2026 dalam kegiatan Pelatihan Pelayanan Prima serta Pelatihan Digitalisasi dan Promosi Potensi Desa yang digelar di Aula Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan ekonomi di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya.
Pelatihan diikuti 21 peserta yang berasal dari enam desa, yakni Desa Arus Deras, Desa Sungai Deras, Desa Sungai Nipah, Desa Teluk Pakedai II, Desa Madura, dan Desa Pasir Putih.
Peserta terdiri atas perangkat desa dan perwakilan kelembagaan ekonomi desa yang terlibat langsung dalam pelayanan masyarakat maupun pengembangan kegiatan ekonomi lokal.
Dalam pembahasan mengenai digitalisasi, peserta didorong untuk melihat media digital tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen promosi desa.
Media sosial, misalnya, dapat digunakan untuk memperkenalkan produk UMKM, hasil pertanian, komoditas unggulan, kegiatan kelompok masyarakat, hingga berbagai potensi ekonomi yang belum banyak dikenal publik.

Azmi Aqil, peserta dari Desa Pasir Putih, menilai pemanfaatan media sosial semakin relevan karena pola masyarakat dalam memperoleh informasi juga terus berubah.
“Semua era berubah, sekarang zamannya media sosial dan digitalisasi. Banyak layanan dan informasi yang bisa diakses melalui HP. Masyarakat desa mungkin belum semuanya memahami, tetapi secara perlahan perlu kita ajarkan. Tim TEP juga bisa mendampingi desa agar tidak tertinggal,” ujar Azmi.
Menurutnya, penggunaan media digital dapat dikembangkan tidak hanya oleh pemerintah desa, tetapi juga oleh UMKM, kelompok tani, maupun Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa).
Tantangannya adalah bagaimana media digital dapat dikelola secara konsisten, bukan hanya dibuat lalu berhenti digunakan.
Konsistensi penyampaian informasi dinilai penting agar kanal digital desa benar-benar berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha, dan pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap pengembangan wilayah.
Pelayanan Masyarakat Jadi Perhatian
Selain digitalisasi, pelatihan juga membahas pentingnya pelayanan prima dalam aktivitas pemerintahan dan kelembagaan desa.
Peserta diajak memahami bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak hanya berkaitan dengan urusan administratif, tetapi juga menyangkut komunikasi, kecepatan respons, efektivitas proses, serta kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.
Materi pelayanan prima disampaikan oleh Siti Fatimah, M.Pd., CertDA., dosen Sekolah Vokasi Universitas Indonesia sekaligus Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026.
Materi dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep pelayanan, tetapi juga dapat mengaitkannya dengan situasi yang mereka hadapi dalam pekerjaan sehari-hari.

Siti Fatimah mengatakan pembangunan desa pada akhirnya juga sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankan berbagai fungsi di dalamnya.
“Kami percaya bahwa membangun bangsa pada hakikatnya adalah membangun manusianya. Dan kami melihat bahwa Teluk Pakedai memiliki sumber daya manusia yang luar biasa, potensi desa yang besar, serta kelembagaan ekonomi yang dapat terus dikembangkan,” ujar Siti Fatimah.
Menurutnya, pelatihan tidak seharusnya berhenti setelah kegiatan di dalam ruang kelas selesai.
Hal yang lebih penting justru terlihat pada tahap berikutnya, yaitu ketika peserta mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelayanan maupun pengelolaan potensi desa.
“Karena itu, pelatihan hari ini bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika acara ini berakhir. Justru yang paling penting adalah apa yang kita lakukan setelah hari ini: bagaimana kita terus belajar, mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh, memperbaiki pelayanan, mengembangkan potensi desa, dan menghadirkan praktik-praktik baik yang nantinya dapat direplikasi di desa-desa lainnya,” lanjutnya.
Pendampingan Dilanjutkan Setelah Pelatihan
Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 juga merencanakan pendampingan lanjutan bersama masyarakat dan kelembagaan desa.

Pendampingan tersebut diarahkan agar materi yang diperoleh selama pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing desa.
“Kami dari Tim Ekspedisi Patriot juga berharap proses pendampingan yang dilakukan oleh anggota tim setelah pelatihan ini dapat membantu agar ilmu yang kita peroleh hari ini benar-benar memberikan dampak nyata,” kata Siti.
Dalam pelaksanaannya, Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi dari alumni Universitas Indonesia (UI), Universitas Tanjungpura (Untan), dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Tim tersebut terdiri atas Ranum Wanudya Yunas, Bani Mukti, Sela Viviyani, Adia Reza Khaleda, Sri Indriani, dan Fahmi.
Mereka turut berperan sebagai fasilitator dalam diskusi kelompok dan membantu peserta menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi aktual yang dihadapi di desa masing-masing.
Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mendiskusikan sejumlah persoalan, mulai dari pengalaman pelayanan masyarakat, tantangan penyampaian informasi, hingga peluang penggunaan media digital untuk mempromosikan potensi lokal.
Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman antardesa.
Setiap desa memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda sehingga pengalaman dari satu wilayah dapat menjadi referensi bagi desa lain dalam mencari pendekatan yang lebih sesuai.
Fokus pada Potensi Ekonomi Lokal
Pelatihan menjadi bagian dari program bertajuk “Penguatan Kapasitas SDM dan Kelembagaan Ekonomi Berbasis Komoditas Unggulan di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya.”
Program tersebut diarahkan untuk mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal dalam memanfaatkan potensi ekonomi kawasan.
Dalam konteks tersebut, pelayanan yang baik dan kemampuan mengomunikasikan potensi desa melalui kanal digital dinilai memiliki hubungan yang erat.
Produk atau komoditas lokal yang memiliki kualitas baik akan sulit menjangkau pasar lebih luas apabila informasi mengenai produk tersebut tidak disampaikan secara efektif.
Sebaliknya, promosi digital juga perlu didukung dengan kelembagaan dan pelayanan yang memadai agar kepercayaan masyarakat maupun mitra usaha dapat terjaga.
Siti Fatimah mengatakan perubahan di tingkat desa dapat dimulai secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi yang ada.
“Dengan waktu yang terbatas dan segala keterbatasan yang ada, hari ini kita sama-sama berikhtiar. Semoga apa yang kita pelajari dapat menjadi bekal, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk kemajuan desa dan masyarakat di Rasau Jaya.”
Melalui penguatan kemampuan digital, pelayanan masyarakat, serta pendampingan lanjutan, desa-desa di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya diharapkan dapat semakin aktif memperkenalkan potensinya sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat.
Pemanfaatan teknologi dengan pengelolaan yang konsisten juga membuka peluang bagi desa untuk menjangkau lebih banyak pihak, memperluas akses informasi, serta membangun komunikasi yang lebih efektif antara pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda