Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Teknologi
  3. Debat Sengit di China, AI Bisa Menghidupkan Kembali Orang yang sudah Meninggal?

Debat Sengit di China, AI Bisa Menghidupkan Kembali Orang yang sudah Meninggal?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
07 April 2024, 19.17 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
AI Bisa Menghidupkan
Foto yang diabadikan pada 1 April 2024 ini menunjukkan seorang pekerja dari sebuah perusahaan teknologi di Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, sedang memperkenalkan teknologi "menghidupkan kembali yang telah meninggal" yang didasarkan pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Xinhua/Guo Yifan)

NANNING, JurnalPost.com -- Seorang pria dari Nanning, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, baru-baru ini membeli layanan yang menghasilkan versi digital dari kakeknya yang telah meninggal melalui teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Setelah memberikan beberapa rekaman suara kakeknya, beberapa foto, dan beberapa pengalaman pribadinya kepada perusahaan teknologi AI tersebut, dia saat ini dapat berbincang dengan "kakek digital" kapan pun dia mau.

Pria berusia 29 tahun itu mengatakan kepada Xinhua bahwa tidak dapat melihat kakeknya sebelum dia meninggal dunia menjadi penyesalannya selama bertahun-tahun. "Saya bercerita tentang beberapa masalah pekerjaan, dan dia berbagi pengalamannya sebagai seorang tentara. Meskipun percakapan ini didasarkan pada informasi yang saya berikan, saya masih terkejut karena begitulah cara dia mengobrol dengan saya ketika saya masih kecil."

IKLAN

Setiap malam sepulang kerja, dia akan berbincang dengan "kakek digitalnya". "Awalnya, kami mengobrol sekitar setengah jam setiap hari selama beberapa hari pertama. Sekarang, hanya beberapa menit saja setiap hari. Hal ini sangat menghibur saya."

Kolaborasi Teknologi AI dan Kreativitas Manusia
Baca Juga

AI vs Ilustrator: Perubahan Kompetensi yang Dibutuhkan Tenaga Kerja Kreatif di Era Digital

Diskusi seputar "menghidupkan kembali via AI" menarik perhatian publik baru-baru ini, menyaksikan lonjakan permintaan untuk layanan "menghidupkan kembali via AI" di seluruh platform daring China.

Baru-baru ini, sebuah video tentang selebriti yang telah meninggal yang dihidupkan kembali via AI menjadi viral di dunia maya dan keluarga selebriti tersebut menuntut penghapusan video tersebut, dengan menyebutnya "membuka kembali luka lama". Sementara itu, seorang blogger video pendek baru-baru ini menggunakan teknologi penukaran wajah AI untuk "menghidupkan kembali" ayahnya yang telah meninggal untuk menghibur neneknya, dan menuai pujian dari para warganet.

Sementara itu, banyak platform daring yang kini menawarkan layanan "menghidupkan kembali" via AI, dengan harga mulai dari 10 yuan (1 yuan = Rp2.199) hingga puluhan ribu yuan, menciptakan industri yang sedang berkembang.

Zhang Yuqiang, salah satu pendiri perusahaan layanan teknologi aplikasi AI di Nanning, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, mengatakan kepada Xinhua bahwa membuat "kerabat digital" hanya perlu menyediakan data suara, foto, dan pengalaman hidup sang mendiang. Semakin banyak dan detail materi yang diberikan, maka "kerabat digital" tersebut akan semakin mirip dengan orang yang sebenarnya.

AI Content Design
Baca Juga

AI Content Design Berkembang, Kreator Kini Bisa Mengubah Teks Menjadi Konten Siap Publikasi

Zhang mengatakan bahwa harga layanan "menghidupkan kembali" via AI perusahaannya bervariasi dari ratusan hingga ribuan yuan. "Kami menyediakan dua jenis layanan. Layanan pertama adalah membuat video menggunakan suara dan gambar yang dikloning, yang memungkinkan gambar AI untuk menyampaikan doa restu atau membaca surat wasiat. Layanan kedua adalah mengkloning suara dan gambar orang yang telah meninggal itu dengan menggunakan teknologi AI, serta mengimpor data yang berisi pengalaman hidup mereka untuk membuat gambar 'kerabat daring', sehingga kerabat orang yang telah meninggal dapat melakukan percakapan sederhana dengan mereka."

IKLAN

Topik penggunaan AI untuk "menghidupkan kembali" orang yang dicintai memicu perdebatan sengit di media sosial. Liang Jia, seorang anggota asosiasi Dokter Medis China, percaya bahwa berbicara dengan "orang yang dicintai secara digital" memungkinkan kerabat untuk merasakan hubungan dengan sang mendiang, terutama bagi mereka yang orang yang dicintainya meninggal dunia secara tidak terduga.

Sementara itu, beberapa orang yang diwawancarai mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa ketergantungan yang berlebihan pada kerabat digital dapat menjadi "racun mental". Seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Guangdong yang baru saja kehilangan kakeknya mengatakan kepada Xinhua, "kematian orang yang saya cintai membuat saya lebih menghargai orang-orang di sekitar saya. Jika saya berbicara dengan 'kerabat digital', saya hanya akan diingatkan berulang kali bahwa mereka telah meninggal dunia, mengoyak luka saya."

Namun, sangat penting untuk membedakan antara "AI yang menghidupkan kembali kerabat" dan "AI yang menghidupkan kembali selebriti". Meskipun yang pertama diizinkan oleh Hukum Perdata China, yang kedua, yang dilakukan tanpa persetujuan dari keluarga selebriti, melanggar hukum yang relevan.

Mahasiswa BEM FMIPA UNUD berfoto bersama di depan gedung Senat setelah mengikuti penilaian kemajuan program.
Baca Juga

Mahasiswa Udayana Terapkan AGRI-MOTION, Smart Farming Berbasis IoT di Desa Nyanglan

Ning Naiming, seorang pengacara di Nanning, mengatakan, "Jika teknologi digunakan untuk 'menghidupkan kembali' orang lain tanpa izin, seperti orang yang bukan kerabat, selebriti yang telah meninggal, atau figur publik, hal ini bisa jadi merupakan pelanggaran dan bisa jadi digunakan oleh para penjahat untuk melakukan penipuan atau pencemaran nama baik."

Feng Gui, seorang anggota dari China Law Society, menjelaskan bahwa jika kerabat dekat sang mendiang meminta perusahaan yang menggunakan teknologi AI untuk "menghidupkan kembali" sang mendiang, maka hal tersebut sesuai dengan Hukum Perdata China, "Satu-satunya kontroversi adalah jika ada ketidaksepakatan di antara beberapa kerabat dekat mengenai apakah mereka akan menerima hidupnya kembali orang yang telah meninggal melalui AI."

Terkait dengan memastikan legalitas dan kepatuhan layanan teknologi AI yang disediakan, Zhang mengatakan bahwa perusahaannya akan mewajibkan pelanggan untuk memberikan bukti dan menandatangani surat komitmen untuk memastikan legalitas sumber data dan membuktikan hubungan antara pelanggan dengan orang yang sudah meninggal.

Shen Yang, seorang profesor di Universitas Tsinghua, menjelaskan bahwa jika model besar AI digunakan, mereka harus mematuhi peraturan yang relevan, dan jika model besar tersebut telah disetel dengan baik, mereka harus didaftarkan lagi.

Perkembangan teknologi AI yang pesat juga membawa masalah etika baru. "Apakah semua orang beranggapan bahwa setelah mereka meninggal dunia, mereka ingin citra mereka tetap ada di dunia? Ini merupakan sesuatu yang belum diatur. Masalah hak atas menghidupkan kembali secara digital timbul karena munculnya teknologi AI," kata Shen.

Mengenai penerapan teknologi AI di masa depan, para ahli menyarankan agar teknologi baru diberi ruang untuk berkembang, sementara ruang lingkup dan batasannya perlu didefinisikan dengan jelas dan diatur di tingkat hukum. (Xinhua)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/debat-sengit-di-china-ai-bisa-menghidupkan-kembali-orang-yang-sudah-meninggal/67170/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.19 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM Kembangkan Anoda Baterai Ion-Natrium dari Jerami Padi dan Limbah Grafit

Robot Humanoid Catat 9,39 Detik di Lari 100 Meter, Lebih Cepat dari Rekor Usain Bolt

UNNES Kembangkan Sahabat Sehat PAKAR, Chatbot WhatsApp untuk Literasi Kesehatan Mental Perempuan

Chery Buka Prapemesanan SUV Listrik J6T, Varian Terbaru dengan Fitur Lebih Lengkap

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat
  2. 2

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  5. 5

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.