Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Cinta Tak Selalu Satu Bahasa: Memahami Bahasa Cinta dalam Keberagaman Budaya Indonesia

Cinta Tak Selalu Satu Bahasa: Memahami Bahasa Cinta dalam Keberagaman Budaya Indonesia

Penulis:
  • Gloryossa Gerraldina Zefanya,
  • Mahasiswa Magister Sains Psikologi,
  • Soegijapranata Catholic University
Editor: Rina Maharani
27 Oktober 2026, 16.01 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Cafe Love Languages in Motion

JurnalPost.com - Pernahkah Anda merasa kurang dicintai hanya karena pasangan jarang mengucapkan kata-kata romantis? Padahal, hampir setiap hari ia memastikan Anda sudah makan, bersedia mengantar ke berbagai tempat, atau membantu menyelesaikan pekerjaan tanpa diminta.

Sebaliknya, ada orang yang merasa begitu dihargai ketika mendengar kalimat sederhana seperti, “Aku bangga sama kamu,” tetapi justru merasa diabaikan ketika pasangannya lebih sibuk memperhatikan ponsel saat sedang bersama.

Situasi semacam ini cukup sering dijumpai dalam hubungan romantis. Dua orang bisa saja memiliki perasaan yang sama besarnya, tetapi menunjukkan kasih sayang melalui cara yang berbeda. Akibatnya, perhatian yang sebenarnya sudah diberikan tidak selalu diterima atau dimaknai sebagaimana yang diharapkan.

Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan keberagaman budaya di Indonesia. Setiap individu tumbuh dengan kebiasaan keluarga, nilai sosial, dan pengalaman yang tidak selalu sama. Hal-hal inilah yang turut membentuk cara seseorang memahami cinta dan mengekspresikan perasaannya.

Konsep love language atau bahasa cinta yang dipopulerkan oleh Gary Chapman sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan tersebut. Namun, apakah setiap orang benar-benar hanya memiliki satu bahasa cinta yang paling dominan? Seberapa besar pula pengaruh budaya terhadap cara seseorang memberikan dan menerima kasih sayang?

Memahami Lima Bahasa Cinta dalam Hubungan

Gary Chapman memperkenalkan lima bentuk bahasa cinta yang dikenal luas, yakni words of affirmation (kata-kata afirmasi), quality time (waktu berkualitas), receiving gifts (menerima hadiah), acts of service (tindakan pelayanan), dan physical touch (sentuhan fisik).

Kelima bentuk tersebut menggambarkan berbagai cara seseorang mengekspresikan dan merasakan kasih sayang.

Bagi sebagian orang, ungkapan sederhana seperti “Terima kasih sudah berusaha” atau “Aku senang punya kamu” dapat memberikan rasa dihargai. Sementara itu, orang lain mungkin lebih merasakan cinta melalui tindakan nyata, misalnya ketika pasangan membantu pekerjaan, memberikan dukungan saat menghadapi kesulitan, atau memperhatikan kebutuhan sehari-hari.

Ada pula individu yang menganggap kebersamaan sebagai bentuk perhatian paling bermakna. Mereka tidak selalu membutuhkan hadiah mahal, melainkan kehadiran pasangan yang benar-benar fokus mendengarkan dan menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan.

Popularitas konsep bahasa cinta tidak terlepas dari kemudahannya untuk dipahami. Melalui konsep tersebut, seseorang dapat mulai mengenali kebutuhan emosionalnya sekaligus belajar memahami harapan pasangan.

Meski demikian, bahasa cinta bukanlah teori yang sepenuhnya terbukti secara ilmiah.

Impett, Park, dan Muise (2024), melalui tinjauan kritis terhadap penelitian mengenai bahasa cinta, menemukan bahwa bukti ilmiah belum memberikan dukungan kuat terhadap tiga asumsi utama dalam konsep Chapman.

Ketiga asumsi tersebut adalah bahwa setiap orang memiliki satu bahasa cinta utama, bahasa cinta hanya terdiri atas lima kategori, dan pasangan dengan bahasa cinta yang sesuai secara otomatis mempunyai hubungan yang lebih memuaskan.

Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa cinta sebaiknya tidak diperlakukan sebagai aturan mutlak dalam hubungan. Konsep tersebut lebih bermanfaat apabila digunakan sebagai sarana untuk memahami kebutuhan emosional dan membuka komunikasi antara pasangan.

Mengapa Perbedaan Budaya Bisa Menimbulkan Salah Paham?

Cara seseorang menunjukkan cinta tidak terbentuk begitu saja. Lingkungan keluarga, kebiasaan komunikasi, pengalaman masa kecil, hingga nilai budaya dapat memengaruhi bagaimana seseorang memahami perhatian dan kedekatan emosional.

Dalam kajian psikologi multikultural, budaya berperan dalam membentuk perilaku sekaligus cara individu menafsirkan tindakan orang lain.

Artinya, dua orang dapat menerima bentuk perhatian yang sama, tetapi memberikan makna yang berbeda terhadap perhatian tersebut.

Markus dan Kitayama (1991) menjelaskan adanya konsep diri independen dan interdependen dalam memahami hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya.

Individu dengan orientasi diri yang lebih independen cenderung menekankan ekspresi pribadi, kemandirian, dan keunikan diri. Sementara itu, orientasi interdependen lebih menempatkan hubungan sosial, tanggung jawab bersama, serta keharmonisan sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Perbedaan orientasi tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa nyaman mengungkapkan cinta secara langsung, sedangkan orang lain lebih terbiasa menunjukkan kasih sayang melalui tindakan.

Sebagai contoh, seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang terbuka secara emosional mungkin terbiasa mendengar ungkapan sayang dan pujian. Ketika menjalin hubungan, ia berharap pasangannya menunjukkan perhatian melalui komunikasi verbal yang serupa.

Namun, pasangannya mungkin berasal dari keluarga yang jarang mengungkapkan perasaan melalui kata-kata. Dalam keluarganya, kasih sayang lebih sering diperlihatkan dengan membantu pekerjaan, memenuhi kebutuhan anggota keluarga, atau memberikan dukungan ketika menghadapi masalah.

Ketika keduanya menjalin hubungan, perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Pihak pertama merasa kurang dicintai karena jarang menerima ungkapan kasih sayang. Sebaliknya, pihak kedua merasa usahanya tidak dihargai, meskipun telah berusaha menunjukkan perhatian melalui berbagai tindakan.

Padahal, persoalannya belum tentu terletak pada kurangnya rasa cinta. Mereka mungkin hanya memiliki kebiasaan yang berbeda dalam mengekspresikan dan menafsirkan kasih sayang.

Penting dipahami bahwa perbedaan orientasi budaya tidak berarti seluruh individu dari kelompok budaya tertentu akan memiliki perilaku yang sama. Setiap orang tetap mempunyai pengalaman, karakter, dan kebutuhan emosional yang unik.

Ketika Cara Mencintai Tidak Dipahami Pasangan

Kesalahpahaman dalam hubungan sering kali muncul bukan karena seseorang tidak memberikan perhatian, melainkan karena perhatian tersebut tidak sesuai dengan harapan pasangannya.

Seseorang mungkin merasa telah melakukan banyak hal demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Namun, ketika bentuk perhatian itu tidak dikenali, ia dapat merasa kecewa dan tidak dihargai.

Di sisi lain, pasangan yang memiliki kebutuhan emosional berbeda juga dapat mengalami perasaan serupa. Ia mungkin merasa kesepian atau kurang diperhatikan, meskipun pasangannya merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa komunikasi yang baik, keduanya dapat terjebak dalam pola kesalahpahaman berulang.

Satu pihak merasa tidak dicintai, sementara pihak lainnya merasa segala usahanya sia-sia. Perasaan tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik yang sebenarnya dapat dihindari melalui komunikasi terbuka.

Perspektif psikologi multikultural mengajak individu memahami bahwa perilaku seseorang tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan lingkungan tempat ia dibesarkan.

Namun, memahami latar belakang budaya pasangan bukan berarti harus mengabaikan kebutuhan emosional diri sendiri.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan komunikasi dua arah, kesediaan mendengarkan, serta kemampuan menyesuaikan cara menunjukkan perhatian agar dapat dipahami kedua belah pihak.

Bahasa Cinta Bukan Penentu Tunggal Keharmonisan Hubungan

Meskipun konsep bahasa cinta cukup populer, kecocokan bahasa cinta tidak otomatis menjamin keberhasilan suatu hubungan.

Penelitian Flicker dan Sancier-Barbosa (2025) menguji apakah kepuasan terhadap perilaku pasangan yang sesuai dengan bahasa cinta utama seseorang lebih kuat dalam memprediksi kepuasan hubungan dibandingkan bentuk bahasa cinta lainnya.

Hasil penelitian tersebut tidak mendukung dugaan bahwa kesesuaian dengan satu bahasa cinta utama memiliki keunggulan seperti yang diperkirakan dalam teori Chapman.

Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan tidak dapat dijelaskan hanya melalui kesamaan atau kecocokan bahasa cinta.

Dalam praktiknya, hubungan juga membutuhkan rasa saling percaya, penghargaan, tanggung jawab, komunikasi yang sehat, serta kemampuan menghadapi dan menyelesaikan konflik.

Seseorang tidak harus memiliki bahasa cinta yang sama dengan pasangannya untuk membangun hubungan yang harmonis.

Yang lebih penting adalah kesediaan kedua pihak memahami kebutuhan emosional masing-masing dan menemukan cara mengekspresikan kasih sayang yang dapat diterima bersama.

Selain itu, konsep bahasa cinta tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti pasangan. Perbedaan cara menunjukkan kasih sayang tetap harus disertai penghormatan terhadap perasaan, persetujuan, dan batasan pribadi.

Belajar Menghargai Perbedaan Cara Menunjukkan Kasih Sayang

Lantas, bagaimana menghadapi perbedaan bahasa cinta tanpa menjadikannya sumber konflik?

Langkah pertama adalah membangun kebiasaan bertanya daripada langsung berasumsi. Ketika merasa kurang diperhatikan, seseorang dapat mencoba menyampaikan perasaannya secara terbuka.

Pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang membuat kamu merasa paling disayangi?” atau “Bagaimana cara aku menunjukkan perhatian yang kamu butuhkan?” dapat membantu membuka percakapan yang lebih bermakna.

Langkah berikutnya adalah memahami latar belakang keluarga dan budaya pasangan. Mengenali kebiasaan komunikasi dalam keluarganya dapat memberikan gambaran mengenai alasan seseorang lebih nyaman menunjukkan kasih sayang melalui tindakan daripada kata-kata, atau sebaliknya.

Selain itu, pasangan tidak perlu membatasi ekspresi kasih sayang pada satu bentuk tertentu.

Memberikan apresiasi secara verbal, meluangkan waktu bersama, menghadirkan bantuan nyata, memberikan hadiah yang bermakna, serta menunjukkan kedekatan fisik berdasarkan persetujuan bersama merupakan bentuk perhatian yang dapat saling melengkapi.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan tetap setara. Setiap individu berhak menyampaikan kebutuhan emosional, menetapkan batasan, dan memperoleh penghargaan dari pasangannya.

Perbedaan budaya seharusnya menjadi kesempatan untuk saling belajar, bukan alasan untuk mengabaikan perasaan salah satu pihak.

Mencintai Berarti Bersedia Memahami Perbedaan

Pada akhirnya, cinta tidak selalu hadir melalui ungkapan romantis, hadiah, atau tindakan besar. Terkadang, kasih sayang justru terlihat melalui hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep bahasa cinta dapat membantu seseorang mengenali berbagai bentuk perhatian. Namun, konsep tersebut bukanlah rumus universal yang mampu menjelaskan seluruh dinamika hubungan manusia.

Perspektif psikologi multikultural memberikan pemahaman bahwa cara seseorang mencintai dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pengalaman pribadi, pola pengasuhan, kebiasaan keluarga, hingga nilai budaya yang berkembang dalam lingkungan sosialnya.

Karena itu, membangun hubungan yang sehat tidak selalu berarti menemukan pasangan dengan bahasa cinta yang sama.

Hubungan justru dapat berkembang ketika kedua pihak bersedia mendengarkan, memahami pengalaman masing-masing, dan menyesuaikan cara menunjukkan perhatian tanpa harus kehilangan identitas dirinya.

Di tengah masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, kemampuan memahami perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang saling menghargai.

Sebab, mencintai bukan sekadar menemukan seseorang yang mengungkapkan kasih sayang dengan cara yang sama. Mencintai juga berarti memiliki kesediaan untuk mempelajari, memahami, dan menghargai cara orang lain menunjukkan perasaannya.


Referensi

Chapman, G. (2015). The 5 love languages: The secret to love that lasts (Rev. ed.). Northfield Publishing.

Flicker, S. M., & Sancier-Barbosa, F. (2025). Testing the predictions of Chapman's five love languages theory: Does speaking a partner's primary love language predict relationship quality? Journal of Marital and Family Therapy, 51(1), e12747. https://doi.org/10.1111/jmft.12747

Impett, E. A., Park, H. G., & Muise, A. (2024). Popular psychology through a scientific lens: Evaluating love languages from a relationship science perspective. Current Directions in Psychological Science, 33(2), 123–130. https://doi.org/10.1177/09637214231217663

Markus, H. R., & Kitayama, S. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion, and motivation. Psychological Review, 98(2), 224–253. https://doi.org/10.1037/0033-295X.98.2.224

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cinta-tak-selalu-satu-bahasa-memahami-bahasa-cinta-dalam-keberagaman-budaya-indonesia/98375/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.55 WITA

  • #bahasa cinta
  • #dinamika hubungan
  • #hubungan romantis
  • #kasih sayang
  • #keberagaman budaya
  • #komunikasi pasangan
  • #psikologi multikultural

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.