JurnalPost.com - Desa Cikalong, yang terletak di Kabupaten Pangandaran, bukan hanya pemukiman pedesaan biasa. Di balik hijaunya sawah dan tenangnya suasana desa, terdapat sosok luar biasa yang mungkin tidak banyak dikenal banyak orang. Tapi justru dari tangan, hati, dan kerja keras merekalah Cikalong berdiri dengan kebudayaan yang kaya dan tradisi yang hidup. Mereka adalah SDM unggul yang mencerminkan kearifan lokal, kekuatan tradisi, dan semangat mandiri yang pantas dijadikan inspirasi.
Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Pak Ebo, seorang guru sekaligus tokoh seni tradisional Cikalong. Namanya sudah tidak asing lagi di kalangan pelaku seni dan masyarakat desa tersebut. Sosok multitalenta yang menguasai hampir semua jenis kesenian. Beliau dikenal ahli dalam sesi nyoder, sebuah tarian penghormatan dengan selendang yang membutuhkan keahlian khusus. Tidak hanya aktif sebagai seniman, Pak Ebo juga menunjukkan komitmennya sebagai pelatih dalam Festival Budaya dan berperan dalam perencanaan pembentukan kelompok seni. Maka dari itu, tidak mengherankan jika beliau disebut sebagai simbol pelestarian seni di Cikalong, karena dalam berbagai kesempatan beliau selalu menegaskan kesiapannya untuk memperkuat identitas desa sebagai pusat budaya.
Sementara itu, tidak hanya datang dari dunia seni. Di bidang bidang ekonomi, hadir sosok Ibu Kisah, seorang wanita tangguh yang menghidupi dirinya dari usaha opak tradisional. Di tengah gempuran produk modern, Ibu Kisah usia 60th seorang janda, mengembangkan usaha opak tradisional buatannya sejak 2000-an. Dengan produksi 2,5-3 kg per hari, dipasarkan dari mulut ke mulut (word of mouth) opaknya sudah terjual sampai ke luar kota Tasikmalaya, Bandung hingga Semarang.
Usaha ini berawal dari pengamatan dan ketekunannya membantu tetangga, yang kemudian menginspirasi untuk merintis usaha sendiri. Dengan bahan sederhana seperti ketan dan santan, serta proses produksi menggunakan hawu (tungku) dan penjemuran alami, rasa gurih tanpa pengawet dan ketahanan opak menjadi daya tarik tersendiri. Lebih dari itu, Ibu Kisah membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar darinya, membuktikan bahwa usahanya bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang mewariskan tradisi.
Selain pelaku seni dan pelaku usaha, keberadaan petani di Cikalong juga memegang peranan vital dalam menjaga keberlanjutan hidup masyarakat desa. Mereka tak banyak bicara. Tak punya media sosial untuk memamerkan hasil kerja kerasnya. Petani Cikalong tetap setia dengan ritme alam. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari memastikan dapur masyarakat tetap berasap. Tak banyak yang menyadari bahwa sebelum makanan tersaji di meja, ada tangan-tangan kasar yang bersentuhan langsung dengan tanah, menanam, merawat, dan memanen itulah para petani, pahlawan yang mungkin tak kita kenal, tapi selalu kita butuhkan.
Pak Aso adalah salah satunya. Ia tidak hanya bertani, tapi juga ikut menjaga tradisi nampaling, sebuah cara tradisional menangkap belalang menggunakan alat sederhana bernama tanpaling yang telah ada sejak tahun 1990-an. Bagi masyarakat Cikalong, nampaling bukan sekadar aktivitas pasca-panen, melainkan bagian dari gaya hidup yang melekat erat dengan alam dan kebiasaan turun-temurun. Oleh karena itu, dari tangan para petani inilah bahan pangan tersedia, dari kebiasaan mereka lahir tradisi, dan dari kerja keras mereka kehidupan terus berjalan. Petani seperti Pak Aso tidak pernah minta sorotan. Tapi justru karena itu, mereka layak mendapatkannya. Mereka adalah contoh nyata harmoni antara alam, tradisi, dan ekonomi.
Di kota, kadang kita sibuk mencari segala sesuatu yang baru, orang-orang hebat di Cikalong justru sibuk menjaga hal-hal lama agar tidak punah. Mereka tidak menuntut perhatian, tapi kisah mereka layak diceritakan. Dari menjaga dan melestarikan seni, pengembangan usaha rumahan, hingga tradisi semuanya dirawat dengan cinta. Maka dari itu, Cikalong bukan hanya desa, tapi rumah bagi warisan budaya yang hidup. Dan yang menjaga warisan itu adalah manusia-manusia luar biasa yang pantas kita kenal, hargai, dan dukung.
Penulis: Liana Kamilah (Administrasi Bisnis 23, PSDKU Unpad Pangandaran) Editor: Syaila Amalia Julviani (Administrasi Bisnis 23, PSDKU Unpad Pangandaran)
#WarisanLeluhurCikalong #JelajahBudayaCikalong #CikalongPangandaran #OrangHebatCikalong #CeritaDariDesa
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda