Oleh: Farta Ade Saputra - UPN “Veteran” Jawa Timur.
JurnalPost.com - Kala pertama kali saya menginjakkan kaki di gugusan anak-anak Gunung Ijen Purba di Bondowoso, seperti membuka lembaran tua bumi yang lama terlupakan. Bagaimana tidak, sebelumnya saya mendengarkan mas Hosnul Wahid menginterpretasikan Kaldera Ijen Purba sambil menikmati makanan ringan di kantin basecamp kami di Black Lava Plalangan. 10 Mei 2025 saya diundang ke tempat itu, pagi itu, hembusan angin, aroma humus basah, dan kontur lahan yang terjal namun teduh membawa saya pada satu kesadaran: tempat ini bukan sekadar lanskap. Ia adalah naskah purba yang belum selesai dibaca. Dan tugas kamilah untuk membacakannya kembali—dengan hati-hati dan penuh hormat.
Sehari sebelumnya saya datang membawa surat tugas dari Dekan FISBP UPN “Veteran” Jawa Timur, membersamai tim dari APGI yang dikomandoi Kang Ori dan Bang Ruslan, PHIG, HPI, turut serta rekan-rekan dosen dari Universitas Jember. Kami menyusuri jalur-jalur terjal menuju 7 dari 22 anak gunung yang menjadi bagian Kaldera Ijen Purba. Gunung Suket, Gunung Anyar, Gunung Pendu—nama-nama ini tak setenar Kawah Ijen, tapi mereka punya kisah yang sama tuanya, bahkan lebih senyap dan juga otentik. Sayangnya, narasi besar yang santer terdengar tentang Ijen selama ini belum sepenuhnya menampilkan kekayaan geologis dari sisi barat, tempat di mana Bondowoso menyimpan sebagian warisan purba yang tak kalah penting. Inilah maksud kami diundang, melakukan eksplorasi dan kajian potensi daya tarik wisata.
Sebagai akademisi di bidang pariwisata, saya tidak hanya datang untuk melihat pemandangan. Saya datang membawa pertanyaan: bisakah kawasan ini dikembangkan tanpa dirusak? Bisakah kita menyusun ulang cerita Ijen dari sudut yang lebih adil, ekologis, dan berkelanjutan? Utamanya agar Bondowoso tidak terus berdiri sebagai penonton di panggung warisan geologinya sendiri. Jawaban saya: bisa. Tapi itu tidak mudah, dan tidak bisa instan.
Potensi Besar, Risiko yang Sama Besarnya Bondowoso menyimpan geodiversitas dengan nilai ilmiah yang sangat tinggi—beragam jenis batuan, gunung vulkanis, gunung dan goa kapur, kawah dan sungai asam, formasi lava, hingga vegetasi khas hutan dataran tinggi. Saya melihatnya sebagai laboratorium alam terbuka. Namun, potensi ini juga ibarat mata pisau: bisa membuka jalan edukasi dan konservasi, tapi bisa juga jadi pintu masuk eksploitatif jika disalahkelola.
Kami mengkaji berbagai aspek: aksesibilitas, status kawasan (beberapa di antaranya cagar alam yang tidak bisa dimasuki umum), potensi wisata minat khusus, hingga kapasitas masyarakat lokal untuk terlibat. Dari survei itulah, kami mulai membangun konsep yang saya yakini sangat relevan: geowisata regeneratif.
Mengapa Regeneratif? Wisata regeneratif bukan hanya “tidak merusak”—ia harus “memulihkan”. Konsep ini lebih jauh dari sekadar keberlanjutan. Kita tidak hanya menjaga agar alam tidak rusak, tapi aktif memulihkan yang telah terluka: hutan yang gundul, tanah yang longsor, hingga ingatan masyarakat lokal yang terpinggirkan dari narasi besar pariwisata.
Kawasan ini didominasi oleh lanskap pegunungan dengan hutan kering, sehingga bahkan sehelai rumput pun memiliki arti penting untuk dilestarikan—terutama jika berada di zona inti situs geologis. Pemilihan aktivitas wisata yang tepat dalam pembangunan daya Tarik wisata haruslah dilakukan secara cermat, berlandaskan prinsip keberlanjutan dan pelestarian. Jangan sampai situs-situs yang sarat akan sejarah geologi dan memiliki nilai ilmiah tinggi justru dirusak demi membangun aktivitas wisata massal.
Saya ingin wisatawan yang datang ke Ijen Purba bukan hanya mendaki dan berfoto, tapi menanam pohon, belajar tentang geologi dan vulkanologi, berdialog dengan petani kopi, menikmati budaya makan lokal, bahkan ikut serta dalam konservasi kawasan dan pelestarian budaya. Pengalaman wisata yang menyembuhkan, bukan melelahkan bumi. Kegiatan wisata yang saling menguatkan antara yang datang dan yang didatangi. Pengalaman wisata yang menginspirasi yang mampu mengubah cara pandang dan bahkan mengubah sikap hidup kearah yang lebih bermakna ketika kembali ke tempat asal.
Beberapa lokasi seperti Gunung Widodaren dan Papak berada di wilayah konservasi ketat sebagai kawasan cagar alam. Itu artinya tidak semua gunung bisa dijadikan destinasi terbuka. Justru di situlah letak pelajaran penting: tidak semua potensi harus dijual. Ada ruang-ruang yang cukup dinikmati lewat cerita dan edukasi, bukan harus dikunjungi massal. Ini harus dihormati sebagai bentuk komitmen pada konservasi.
Narasi Baru dari Barat Ijen Selama ini narasi dominan datang dari timur—Banyuwangi. Mereka lebih dulu membangun akses, branding, dan produk wisata yang kuat. Saya mengakui itu. Tapi Bondowoso tidak perlu merasa inferior karena Bondowoso mempunyai karakteristik potensinya sendiri. Justru keunggulan Banyuwangi saat ini harus ditangkap sebagai peluang dan modal awal untuk membangun sinergi kawasan. Bondowoso bisa menjadi penguat narasi, menghadirkan sudut pandang yang berbeda: wisata berbasis edukasi, pelestarian, dan pengalaman spiritual alam yang lebih mendalam dan mengisinpirasi.
Saya membayangkan satu hari nanti anak-anak gunung di Bondowoso menjadi bagian dari trails of consciousness—jalur-jalur pendakian yang tidak hanya membawa tubuh ke puncak, tapi juga membawa jiwa pada pemahaman tentang bumi dan kehidupan. Saya ingin mahasiswa saya, dan generasi muda Indonesia, tahu bahwa geowisata bukan soal jalan-jalan di gunung. Ini soal cara kita memperlakukan alam sebagai guru, bukan sebagai objek eksploitasi.
View Gunung Genteng
Tugas Bersama: Pemerintah, Masyarakat, Akademisi, dan Stakeholder lainnya Namun, saya tidak naif. Semua itu tidak akan terwujud tanpa kebijakan yang berpihak dan kolaborasi yang kuat. Pemerintah Kabupaten Bondowoso perlu bergerak cepat membenahi komponen 6A (attraction, accessibility, amenities, ancillary services, activities, available packages). Perlu regulasi yang jelas, infrastruktur dasar, pelatihan bagi masyarakat lokal, dan—yang tak kalah penting—narasi besar yang terstruktur. Sumber daya pariwisata yang telah digali potensinya pun perlu ditetapkan dengan kerjasama dengan stakeholder lain yang terlibat secara langsung sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus, agar tidak ada euforia public dari adanya kabar pemetaan potensi ini yang berdampak viral dan munculnya pendakian-pendakian ilegal.
Kami di kampus siap jadi bagian dari itu. Menyusun peta potensi, modul pelatihan, model pengelolaan daya tarik, implementasi ekowisata, hingga membentuk jejaring riset dan aksi bersama para pihak. Saya percaya, destinasi terbaik lahir dari proses panjang, bukan dari proyek-proyek cepat saji. Tentu itu bukan tugas saya pribadi, Maka, bukalah pintu seluas-luasnya bagi para akademisi dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji kepariwisataan Bondowoso, sekaligus bidang-bidang ilmu lainnya. Biarkan laboratorium terbuka ini benar-benar berfungsi sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak perlu takut terhadap goresan pena para peneliti—justru itulah sumbangsih akademik sebagai filter kebijakan, agar setiap program berjalan sesuai jalur regenerasif seperti yang diharapkan.
Menutup Catatan, Membuka Harapan Setiap kali saya menatap lanskap Kaldera Ijen Purba dari lereng Gunung yang saya tapaki maupun dari lokasi basecamp di Black Lava Plalangan, saya merasa sedang melihat masa depan. Bukan masa depan pariwisata semata, tapi masa depan cara kita hidup berdampingan dengan alam. Tempat ini bukan sekadar warisan geologis, ia adalah ruang kontemplasi kolektif—tentang bagaimana kita hidup, berjalan, dan pulang dengan lebih bijak.
Jika kita bisa membangun wisata regeneratif di sini, saya yakin Indonesia bisa menjadi pelopor di Asia Tenggara, bahkan dunia, dalam mengembangkan geowisata yang tidak hanya lestari tapi juga menyembuhkan.
Saya percaya, Bondowoso bukan halaman belakang Ijen. Ia adalah bab penting dalam buku besar Bumi Ijen—yang kini saatnya kita baca kembali, bersama-sama. ________________________________________ Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan hasil survei lapangan dan refleksi pribadi penulis pada kegiatan Mapping The Journey Jelajah 22 Anak Gunung Kaldera Ijen Purba “Travel Pattern Seven Summits of Ijen Geopark”, sebagai bagian dari ikhtiar membangun pariwisata berbasis regenerasi dan keadilan ekologis
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda