JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, dan mengambil keputusan. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), media sosial, hingga berbagai layanan berbasis internet tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terhadap kondisi psikologis dan perilaku manusia.
Di tengah perubahan tersebut, buku berjudul Psikologi Sibernetika: Memahami Interaksi Jiwa dengan Teknologi Digital hadir sebagai referensi untuk memahami hubungan antara manusia dan teknologi, termasuk bagaimana individu dapat menjaga keseimbangan psikologis ketika berhadapan dengan berbagai aktivitas digital.
Buku yang dijadwalkan terbit pada akhir November 2026 melalui PT Ganesha Kreasi Semesta ini mengangkat beragam persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari ketergantungan terhadap notifikasi, pengaruh media sosial, keamanan informasi, hingga risiko manipulasi melalui teknologi kecerdasan buatan.
Melalui 21 bab, buku tersebut mengajak pembaca memahami bagaimana kebiasaan digital terbentuk, bagaimana informasi memengaruhi keputusan seseorang, serta sejauh mana interaksi di dunia maya dapat berdampak pada kehidupan sosial dan emosional.
Memahami Pengaruh Teknologi terhadap Kebiasaan Manusia
Salah satu pembahasan utama dalam buku ini berkaitan dengan perubahan perilaku manusia akibat penggunaan perangkat digital yang semakin intensif.
Aktivitas sederhana seperti memeriksa pesan, melihat komentar, atau menunggu tanggapan di media sosial ternyata dapat berkaitan dengan kondisi emosional seseorang. Keinginan memperoleh respons, rasa penasaran terhadap informasi terbaru, hingga tuntutan untuk selalu tersedia menjadi bagian dari kebiasaan digital yang perlu dipahami.
Buku ini mengajak pembaca mengenali alasan di balik kebiasaan menggunakan ponsel. Dengan memahami pola tersebut, individu diharapkan mampu membedakan kebutuhan komunikasi yang penting dengan aktivitas digital yang sebenarnya dapat ditunda.
Pengelolaan notifikasi juga menjadi perhatian. Pembaca diajak mempertimbangkan kapan harus memberikan respons cepat dan kapan perlu menetapkan batasan agar aktivitas belajar, bekerja, maupun beristirahat tidak terus-menerus terganggu.
Pendekatan tersebut menempatkan teknologi sebagai alat yang dapat dimanfaatkan secara sadar, bukan sebagai sesuatu yang selalu menentukan perhatian dan aktivitas manusia.
Mengantisipasi Penipuan Digital dan Manipulasi Berbasis AI
Selain membahas kebiasaan penggunaan teknologi, Psikologi Sibernetika turut mengulas ancaman keamanan digital yang semakin kompleks.
Penipuan melalui pesan singkat, aplikasi percakapan, maupun platform digital kerap menggunakan pendekatan psikologis untuk memengaruhi calon korban. Pelaku dapat menciptakan rasa takut, memberikan tekanan waktu, atau menyamar sebagai pihak yang dipercaya agar seseorang mengambil keputusan tanpa melakukan pemeriksaan.
Melalui pembahasan tersebut, pembaca diajak lebih berhati-hati ketika menerima pesan yang meminta informasi pribadi, transaksi keuangan, atau tindakan mendesak.

Langkah sederhana seperti memastikan identitas pengirim, memeriksa keaslian informasi, dan melakukan konfirmasi melalui saluran resmi menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan digital yang lebih aman.
Buku ini juga menyoroti perkembangan teknologi yang memungkinkan pembuatan gambar maupun suara tiruan. Kemampuan tersebut membuka peluang penyalahgunaan identitas sehingga masyarakat perlu semakin kritis dalam menilai informasi yang diterima.
Dalam penggunaan AI generatif, pembaca didorong untuk tidak langsung menerima seluruh jawaban mesin sebagai kebenaran. Informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menyoroti Hubungan Emosional dengan Chatbot AI
Perkembangan chatbot berbasis kecerdasan buatan turut menghadirkan bentuk interaksi baru antara manusia dan teknologi.
Sebagian pengguna memanfaatkan chatbot untuk mencari informasi, membantu pekerjaan, menyusun ide, bahkan menjadi tempat menyampaikan pengalaman pribadi.
Buku ini membahas bagaimana interaksi tersebut dapat membentuk keterikatan emosional serta memengaruhi cara seseorang memandang hubungan sosial.
Pembaca diajak mempertimbangkan manfaat sekaligus keterbatasan chatbot pendamping, terutama ketika teknologi mulai digunakan sebagai sarana mencari dukungan emosional.
Pembahasan ini menekankan pentingnya memahami perbedaan antara respons yang dihasilkan sistem komputer dan hubungan antarmanusia yang melibatkan pengalaman, tanggung jawab, serta keterlibatan sosial secara langsung.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tetap dapat berjalan seiring dengan kebutuhan manusia terhadap komunikasi dan dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Menggabungkan Kajian Psikologi dengan Pengalaman Digital Sehari-hari
Keunggulan pembahasan dalam buku ini terletak pada upayanya menghubungkan konsep psikologi siber dan sibernetika dengan situasi yang sering dijumpai masyarakat.
Berbagai fenomena digital tidak hanya dijelaskan melalui teori, tetapi juga dikaitkan dengan contoh kasus serta latihan refleksi yang dapat membantu pembaca mengevaluasi kebiasaannya sendiri.
Dalam menilai dampak penggunaan teknologi, buku ini mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti durasi penggunaan layar, tujuan aktivitas, kualitas hubungan sosial, dan kemungkinan terganggunya kegiatan sehari-hari.
Pendekatan tersebut memberikan gambaran bahwa dampak teknologi tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan lamanya seseorang menggunakan perangkat digital.
Konteks penggunaan, kondisi individu, serta lingkungan sosial juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Untuk mempermudah pemahaman, buku ini dilengkapi glosarium dan daftar pustaka. Penyajiannya juga membedakan contoh ilustratif dengan kejadian nyata serta memberikan perhatian terhadap keterbatasan kesimpulan penelitian.
Relevan bagi Orang Tua, Pendidik, dan Mahasiswa
Pembahasan dalam Psikologi Sibernetika tidak terbatas pada pengguna teknologi secara umum. Materinya juga memiliki relevansi bagi keluarga, lingkungan pendidikan, dan kalangan akademisi.
Bagi orang tua, pembahasan mengenai perkembangan manusia, privasi, dan hubungan sosial di ruang digital dapat menjadi bahan untuk membangun komunikasi dengan anak mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Sementara itu, pendidik dapat memanfaatkan contoh kasus dan latihan refleksi sebagai bahan diskusi mengenai etika penggunaan AI, keamanan digital, serta perilaku bermedia sosial.
Mahasiswa juga dapat menggunakan pembahasan dalam buku ini sebagai salah satu referensi awal untuk memahami fenomena psikologi digital sekaligus mengembangkan pertanyaan penelitian.
Topik lain yang turut dibahas mencakup perundungan daring, pemulihan korban, keamanan siber, dan perkembangan layanan psikologi berbasis teknologi.
Buku ini juga memberikan perhatian terhadap konteks masyarakat Indonesia, termasuk keberagaman bahasa, norma keluarga, kebiasaan sosial, dan perbedaan akses teknologi.
Pertimbangan tersebut menjadi penting karena pengalaman digital seseorang dapat berbeda bergantung pada kondisi sosial dan lingkungan tempatnya berada.
Ditulis oleh Akademisi dan Pemerhati Psikologi
Buku Psikologi Sibernetika: Memahami Interaksi Jiwa dengan Teknologi Digital disusun oleh empat penulis, yakni Dr. Anjarie Dharmastuti, Dr. Nur Eva, Rakhmaditya Dewi Noorrizki, M.Si., dan Rizka Fibria Nugrahani, M.Si.
Proses penyuntingannya ditangani oleh Fatkhullah Almar’ii Fajri.
Melalui buku tersebut, para penulis berupaya menghadirkan pembahasan yang menghubungkan perkembangan teknologi dengan aspek psikologis manusia secara lebih luas.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah referensi bagi masyarakat yang ingin memahami penggunaan teknologi secara kritis, terutama ketika kecerdasan buatan dan berbagai bentuk interaksi digital semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami cara teknologi memengaruhi perhatian, emosi, dan pengambilan keputusan, pembaca diharapkan mampu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda