JurnalPost.com - Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal ingin dibuktikan. Sebelum membeli barang, kita membaca ulasan. Sebelum percaya pada sebuah berita, kita mencari sumbernya. Kita terbiasa bertanya, “Apa buktinya?” dan “Mengapa saya harus percaya?” Lalu, bagaimana dengan iman? Apakah percaya kepada Allah berarti kita harus berhenti berpikir?
Pertanyaan seperti ini penting karena manusia memiliki iman sekaligus akal. Kita percaya kepada Allah, tetapi kita juga menghadapi banyak hal yang sulit dipahami. Mengapa orang baik mengalami penderitaan? Mengapa doa-doa kita belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan?
Pertanyaan tersebut tidak selalu menunjukkan lemahnya iman. Justru, pertanyaan dapat menjadi awal untuk mencari pemahaman yang lebih dalam.
Iman dan Akal Berjalan Bersama
Logika membantu manusia berpikir secara teratur. Dengan logika, kita belajar untuk tidak mudah menerima sesuatu tanpa alasan. Kita dapat memeriksa informasi, melihat hubungan sebab-akibat, serta membedakan antara fakta dan dugaan.
Sikap kritis yang sehat seperti ini juga penting dalam kehidupan beriman. Kita tidak harus menerima sebuah ajaran secara buta hanya karena orang lain mengatakannya. Kita ditantang untuk membaca Kitab Suci, mempelajari ajaran Gereja, berani bertanya, dan berdiskusi.
Melalui proses itulah, iman tidak berhenti pada dogma “saya percaya”, tetapi berkembang menjadi tekad, “saya berusaha memahami apa yang saya percaya”.
Belajar dari Santo Thomas Aquinas
Pemikiran Santo Thomas Aquinas menunjukkan bahwa akal dapat membantu manusia dalam perjalanan menuju Allah. Ia melihat bahwa manusia dapat menggunakan kemampuan berpikirnya untuk mengenal Allah dan memahami sebagian kebenaran tentang iman.
Namun, kita juga harus mengetahui batasannya. Akal manusia bukanlah alat mutlak yang mampu menjelaskan segala sesuatu yang transenden. Ada kenyataan tentang Allah yang melampaui kemampuan pikiran manusia.
Karena itu, menggunakan logika dalam memahami iman bukan berarti memaksa semua misteri Allah harus memiliki jawaban yang masuk akal secara sistematis. Di sinilah iman membutuhkan kerendahan hati. Kita berpikir dan mencari sejauh kemampuan kita, tetapi juga berani mengakui, “Saya belum mengerti semuanya.”
Beriman Bukan Berarti Berhenti Bertanya
Kadang-kadang kita takut bertanya karena mengira pertanyaan dapat membuat iman menjadi lemah. Padahal, pertanyaan yang jujur dan tulus dapat membawa seseorang untuk belajar lebih sungguh-sungguh.
Iman yang matang bukanlah iman yang takut pada pertanyaan. Sebaliknya, iman yang dewasa adalah iman yang berani berjalan beriringan dengan akal. Akal membantu kita mencari pemahaman yang rasional, sedangkan iman membuka diri pada kenyataan ilahi yang tidak selalu dapat dijangkau sepenuhnya oleh logika manusia.
Karena itu, kita tidak perlu memilih antara menjadi orang yang rasional atau menjadi orang yang beriman. Keduanya dapat berjalan bersama secara harmonis.
Kita boleh bertanya, mencari alasan, dan menggunakan logika. Namun, pada saat yang sama, kita perlu menyadari keterbatasan diri bahwa tidak semua misteri Allah dapat dipecahkan oleh pikiran manusia.
Pada akhirnya, logika hadir untuk membantu iman, supaya apa yang kita imani menjadi lebih masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan kepada dunia.
Referensi
Setiawan, C. V. (2023). The Dialogue Between Faith and Reason According to John Paul II and Thomas Aquinas.
Grochowska, I. (2023). Faith and Reason in the Unity of Truth.
Riyanto, A. (2001). Fides et Ratio: Menggagas Pertautan Teologi dan Filsafat.
Yohanes Paulus II. (1998). Fides et Ratio.
Katekismus Gereja Katolik, terutama No. 159.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda