Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Blunder Struktural di Balik Gagalnya Indonesia ke Piala Dunia

Blunder Struktural di Balik Gagalnya Indonesia ke Piala Dunia

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
06 Desember 2025, 20.04 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Piala Dunia

JurnalPost.com - Kegagalan Indonesia melangkah ke Piala Dunia 2026 kembali menimbulkan gelombang kekecewaan di kalangan masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa salah satu kesalahan terbesar terletak pada keputusan PSSI yang mengganti Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert di tengah proses pembangunan tim nasional yang sedang menunjukkan arah positif. Keputusan yang tampak sebagai langkah manajerial itu justru menyingkap persoalan lebih dalam: adanya ketimpangan struktur dan dominasi kekuasaan di tubuh organisasi sepak bola nasional. Melalui pandangan teori sosial Mansour Fakih, persoalan ini dapat dibaca bukan sekadar sebagai kesalahan teknis, melainkan sebagai bentuk nyata dari ketidakadilan struktural dan lemahnya demokrasi dalam sistem olahraga Indonesia.

Mansour Fakih dalam berbagai pemikirannya menekankan bahwa ketimpangan sosial tidak hanya muncul dalam bidang ekonomi dan politik, tetapi juga dalam institusi dan kebijakan publik yang seolah netral. Menurutnya, lembaga sosial sering kali menjadi alat reproduksi kekuasaan kelompok tertentu dengan menggunakan jargon profesionalisme, modernisasi, atau efisiensi sebagai pembenaran. Jika dikaitkan dengan konteks sepak bola, langkah PSSI mengganti pelatih secara sepihak dapat dipahami sebagai wujud dari dominasi elite terhadap ruang publik olahraga. Sepak bola yang seharusnya menjadi milik masyarakat luas justru dikendalikan oleh sekelompok pengambil keputusan yang tidak benar-benar mendengarkan aspirasi rakyat, dalam hal ini para suporter dan pemerhati sepak bola nasional.

IKLAN

Keputusan untuk menyingkirkan Shin Tae-yong memperlihatkan bagaimana kebijakan yang bersifat elitis sering kali mengabaikan nilai-nilai lokal seperti kedisiplinan, proses jangka panjang, dan pembinaan yang berkesinambungan. Dalam kerangka pikir Fakih, hal ini mencerminkan apa yang ia sebut sebagai “pemiskinan makna partisipasi rakyat.” Masyarakat hanya dijadikan penonton dalam proses pengambilan keputusan, tanpa memiliki ruang untuk menyuarakan pandangan mereka. Ketika suara publik diabaikan, maka keputusan yang diambil pun kehilangan legitimasi sosialnya. PSSI dalam hal ini bukan hanya gagal mengelola tim, tetapi juga gagal menjaga kepercayaan dan partisipasi rakyat yang menjadi roh dari olahraga itu sendiri.

Final World Cup Piala Dunia
Baca Juga

Final World Cup Piala Dunia 2018 Sisakan Kenangan Indah di Lokasi TMMD 102

IKLAN

Selain itu, keputusan menghadirkan pelatih asing seperti Patrick Kluivert juga memperlihatkan kuatnya logika neoliberalisme dalam tubuh olahraga nasional. Nama besar dan citra global lebih diutamakan dibandingkan kontinuitas pembangunan jangka panjang. Fakih mengingatkan bahwa neoliberalisme sering kali hadir dalam bentuk yang halus mengagungkan simbol modernitas dan kemajuan, namun sebenarnya menyingkirkan keadilan sosial. Dalam konteks ini, PSSI seolah mengejar pengakuan internasional, tetapi mengorbankan proses pembentukan karakter dan kemandirian tim yang telah dibangun oleh pelatih sebelumnya. Akibatnya, kebijakan tersebut justru menjadi blunder struktural yang menimbulkan efek domino terhadap moral pemain, performa tim, dan kepercayaan publik.

Kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia dengan demikian tidak bisa hanya dipahami sebagai akibat dari performa teknis semata. Ia merupakan cerminan dari krisis struktural dan lemahnya tata kelola yang berpihak pada rakyat. Jika teori Mansour Fakih diterapkan, maka solusinya bukan sekadar mengganti figur atau melakukan reformasi administratif, melainkan membongkar pola pikir dan struktur elitis yang telah mengakar. Sepak bola harus diletakkan sebagai ruang demokrasi sosial, tempat rakyat, pemain, pelatih, dan penggemar memiliki suara sejajar dalam menentukan arah pembangunan olahraga nasional. Selama hal itu belum terjadi, sepak bola Indonesia akan terus berjalan di tempat, terjebak dalam lingkaran keputusan elite yang jauh dari semangat keadilan sosial yang sesungguhnya.

Penulis : Much Arif Pratama ( Mahasiswa Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang ) Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S.IP.,M.AP, Kepala Program Pendidikan : Zakaria Habib Al Razi`e, S.IP., M.Sos

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/blunder-struktural-di-balik-gagalnya-indonesia-ke-piala-dunia/88768/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.59 WITA

  • #PSSI
  • #piala dunia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah
  2. 2

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  5. 5

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.