Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Bercanda tentang Suku: Ketika Humor Memperkuat Prasangka

Bercanda tentang Suku: Ketika Humor Memperkuat Prasangka

T
Penulis: Tasya Leony
26 Oktober 2026, 11.23 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
8 menit baca
Laughter at Her Expense
Ilustrasi sekelompok anak muda yang menjadikan perbedaan identitas suku sebagai bahan candaan. Humor yang mengandung stereotipe berpotensi memperkuat prasangka dan memengaruhi hubungan sosial antarkelompok. (Ilustrasi: AI/JurnalPost.com)

Tasya Leony Poting adalah mahasiswa Program Magister Sains Psikologi di Soegijapranata Catholic University. Melalui tulisannya, ia mengangkat isu-isu psikologi sosial, khususnya stereotipe, prasangka, dan hubungan antarkelompok dalam kehidupan masyarakat multikultural.

JurnalPost.com - Dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah kita mendengar seseorang ditertawakan karena logat bicara, asal daerah, atau identitas yang berkaitan dengan sukunya? Candaan seperti itu mungkin dianggap biasa, bahkan kerap menjadi cara untuk mencairkan suasana. Namun, ketika orang yang menjadi sasaran tawaan menunjukkan ketidaknyamanan, respons yang muncul terkadang justru, “Jangan baper, kita cuma bercanda.”

Permasalahannya bukan sekadar apakah sebuah lelucon lucu atau menyinggung, melainkan mengapa sifat tertentu dilekatkan pada suatu suku. Mengapa gambaran yang sama terus diulang hingga seolah-olah menjadi sebuah kebenaran?

IKLAN

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, humor dapat menjadi sarana untuk membangun keakraban dengan orang lain. Namun, humor juga dapat membawa stereotipe terhadap kelompok tertentu. Ketika suatu suku berulang kali digambarkan memiliki sifat negatif, seperti kasar, emosional, dan sebagainya, lelucon tersebut tidak lagi sekadar menjadi candaan.

Di dalamnya terdapat penilaian terhadap kelompok tertentu yang dapat memengaruhi cara orang lain memandang individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. Permasalahannya bukan terletak pada humor itu sendiri, melainkan pada stereotipe yang disampaikan dan bagaimana humor tersebut memperlakukan individu yang menjadi sasarannya.

Ketika Stereotipe Menjadi Bahan Tertawaan

Dalam psikologi sosial, stereotipe didefinisikan sebagai karakteristik yang dipersepsikan berkaitan dengan kelompok atau kategori individu tertentu (Schneider, 2004).

Dalam konteks humor terkait etnis, stereotipe muncul ketika karakteristik tertentu diasosiasikan dengan anggota suku tertentu. Sebagai contoh, seseorang dianggap kasar dan emosional hanya karena berasal dari daerah tertentu. Penilaian tersebut tidak didasarkan pada pengenalan terhadap individu itu sendiri, melainkan pada generalisasi mengenai kelompoknya.

Stereotipe berbeda dari prasangka dan diskriminasi. Stereotipe berkaitan dengan keyakinan mengenai karakteristik kelompok, sedangkan prasangka merujuk pada evaluasi atau sikap terhadap individu lain berdasarkan keanggotaan kelompoknya. Sementara itu, diskriminasi merujuk pada tindakan atau perlakuan yang merugikan individu karena identitas kelompoknya. Ketiga hal tersebut dapat saling berkaitan, tetapi tidak identik dan tidak selalu muncul secara berurutan.

Dalam humor etnis, stereotipe dapat menjadi dasar lelucon ketika sifat tertentu dilekatkan pada anggota suatu suku seolah-olah mereka memiliki karakteristik yang sama.

Penelitian Surahmat, Wijana, dan Sulistyowati (2024) menganalisis 270 contoh humor etnis di Indonesia melalui buku, situs web, dan media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor etnis dapat merepresentasikan kelompok etnis minoritas secara negatif dan memperkuat gambaran sosial yang menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang lebih rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa humor tidak selalu sekadar menjadi hiburan, tetapi juga dapat membawa stereotipe yang memengaruhi cara kelompok tertentu digambarkan dalam masyarakat.

Bagaimana Humor Dapat Berkaitan dengan Prasangka?

Ford dan Ferguson (2004), melalui prejudiced norm theory, menjelaskan bagaimana humor yang merendahkan kelompok dapat memberikan isyarat mengenai norma sosial.

Ketika lelucon yang merendahkan suatu kelompok diterima sebagai hal yang wajar, orang lain yang mendengarnya dapat memperoleh kesan bahwa ungkapan yang merendahkan kelompok tersebut dapat ditoleransi.

Dengan demikian, humor tidak hanya berperan dalam menyampaikan isi lelucon, tetapi juga dapat memberikan pesan tertentu mengenai perilaku yang dianggap dapat diterima dalam lingkungan sosial.

Penelitian eksperimental Ford et al. (2014) menunjukkan bahwa humor yang merendahkan kelompok sosial dapat memengaruhi toleransi terhadap diskriminasi dalam kondisi tertentu, khususnya pada individu yang sebelumnya memiliki tingkat prasangka lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa humor tidak selalu bersifat netral dalam relasi antarkelompok karena dapat memberikan kesan bahwa ungkapan yang merendahkan kelompok tertentu dapat diterima secara sosial.

Temuan tersebut juga membantu menjelaskan mengapa kalimat “cuma bercanda” tidak secara otomatis menghilangkan permasalahan yang terdapat dalam lelucon yang dilontarkan.

Hal ini bukan berarti bahwa setiap lelucon terkait suku pasti menimbulkan prasangka. Permasalahannya muncul ketika humor berulang kali menggunakan generalisasi negatif dan membuatnya terasa wajar untuk diterima tanpa dipertanyakan.

Tiga Langkah Mengurangi Prasangka dalam Candaan Sehari-hari

Mengurangi prasangka tidak cukup hanya dengan meminta orang lain menghargai perbedaan. Kita juga perlu memahami bagaimana menghadapi stereotipe ketika muncul dalam interaksi sehari-hari.

1. Mengenali Stereotipe di Balik Candaan

Ketika mendengar candaan tentang suku tertentu, kita dapat belajar berhenti sejenak dan memperhatikan pesan yang sebenarnya disampaikan.

Apakah candaan tersebut sekadar menceritakan pengalaman lucu atau justru menggambarkan seluruh anggota kelompok seolah-olah memiliki sifat yang sama?

Sebagai contoh, ketika seseorang dianggap keras kepala, kasar, atau emosional hanya karena latar belakang sukunya, candaan tersebut mengandung stereotipe yang dapat terus diperkuat melalui pengulangan.

Kita tidak harus langsung menanggapinya dengan kemarahan. Terkadang, mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Benarkah semua orang dari kelompok itu memiliki sifat yang sama?” sudah cukup untuk mengajak orang lain kembali berpikir.

Dengan cara tersebut, kita dapat mengkritisi generalisasi yang muncul tanpa harus mempermalukan orang yang menyampaikannya.

2. Mempertimbangkan Dampak Candaan bagi Orang Lain

Sebuah candaan mungkin terdengar biasa bagi orang yang mengucapkannya, tetapi belum tentu dirasakan dengan cara yang sama oleh orang yang menjadi sasaran.

IKLAN

Sebelum ikut tertawa atau meneruskan candaan, sebaiknya kita membayangkan bagaimana rasanya apabila identitas kita sendiri terus-menerus dijadikan bahan lelucon.

Apakah kita masih akan menganggapnya lucu jika harus mendengarkan hal serupa berulang kali?

Pertanyaan tersebut membantu kita merefleksikan dan memahami bahwa dampak humor tidak hanya dipengaruhi oleh niat orang yang bercanda, tetapi juga oleh pengalaman orang yang mendengarnya.

Penelitian Pettigrew dan Tropp (2008) menunjukkan bahwa empati dan kemampuan mengambil perspektif orang lain merupakan salah satu mekanisme yang dapat membantu mengurangi prasangka antarkelompok.

Dengan belajar memahami sudut pandang orang lain, kita dapat lebih bijak dalam menentukan candaan yang layak untuk disampaikan.

3. Membangun Interaksi Positif dengan Kelompok yang Berbeda

Prasangka cenderung lebih mudah bertahan ketika kita hanya mengenal suatu kelompok melalui cerita orang lain, informasi di media sosial, atau lelucon yang terus diulang.

Sebaliknya, interaksi secara langsung dapat membantu kita mengenal orang dari kelompok berbeda sebagai individu, bukan sekadar sebagai bagian dari kelompok tertentu.

Hal ini dapat dilakukan melalui kerja sama dalam berbagai kegiatan, diskusi, atau aktivitas sosial lainnya dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Meta-analisis Pettigrew dan Tropp (2006) menunjukkan bahwa kontak antarkelompok berkaitan dengan berkurangnya prasangka.

Melalui interaksi yang positif, kita memiliki kesempatan untuk mengenali keragaman karakter, pengalaman, dan cara pandang seseorang. Dengan demikian, penilaian terhadap individu tidak lagi semata-mata didasarkan pada stereotipe mengenai kelompoknya.

Tetap Bercanda, Tanpa Merendahkan

Pada akhirnya, humor atau candaan tidak harus dihilangkan dari kehidupan sehari-hari hanya agar kita dapat terhindar dari prasangka.

Kita tetap bisa tertawa, saling bercanda, dan menikmati perbedaan tanpa menjadikan identitas suku sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pesan yang dibawa oleh candaan tersebut dan bagaimana candaan itu dapat memengaruhi cara kita memandang kelompok lain.

Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu lebih kritis terhadap stereotipe yang kita dengar, mempertimbangkan perasaan orang yang menjadi sasaran, serta bersedia mengenal orang lain tanpa terpaku pada anggapan yang sudah ada.

Ketika lelucon terus mengulang gambaran yang sama mengenai kelompok tertentu, terdapat risiko bahwa kita mulai memandang gambaran tersebut sebagai sebuah kebenaran.

Sebaliknya, ketika kita berani mempertanyakan stereotipe, kita turut membuka ruang bagi relasi antarkelompok yang lebih setara dan saling menghargai dalam masyarakat multikultural.

Oleh karena itu, sebelum tertawa atau meneruskan candaan tertentu, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah candaan ini dapat membuat kita tertawa bersama atau justru menertawakan orang lain?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal untuk membangun humor yang lebih bijak dan kehidupan multikultural yang lebih inklusif.

Daftar Pustaka

Ford, T. E., & Ferguson, M. A. (2004). Social consequences of disparagement humor: A prejudice norm theory. Personality and Social Psychology Review, 8(1), 79–94. https://doi.org/10.1207/S15327957PSPR0801_4

Ford, T. E., Woodzicka, J. A., Triplett, S. R., Kochersberger, A. O., & Holden, C. J. (2014). Not all groups are equal: Differential vulnerability of social groups to the prejudice-releasing effects of disparagement humor. Group Processes & Intergroup Relations, 17(2), 178–199. https://doi.org/10.1177/1368430213502558

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751–783. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.5.751

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2008). How does intergroup contact reduce prejudice? Meta-analytic tests of three mediators. European Journal of Social Psychology, 38(6), 922–934. https://doi.org/10.1002/ejsp.504

Schneider, D. J. (2004). The psychology of stereotyping. Guilford Press.

Surahmat, S., Wijana, I. D. P., & Sulistyowati, S. (2024). Marginalization of minority ethnicities in ethnic humor discourse in Indonesia: A critical discourse analysis. Jurnal Arbitrer, 11(3), 384–398. https://doi.org/10.25077/ar.11.3.384-398.2024


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/bercanda-tentang-suku-ketika-humor-memperkuat-prasangka/98343/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 26 Oktober 2026, 23.04 WITA

  • #candaan
  • #humor
  • #masyarakat multikultural
  • #prasangka
  • #psikologi sosial
  • #stereotipe
  • #suku

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Karma BEI atau Bukan? Ketika IHSG Anjlok dan Krisis Transparansi Pasar Modal

BI-Rate Bertahan, Mengapa Keran Likuiditas Justru Dibuka?

Ketika Perempuan Berkuasa, Mengapa yang Dibahas Gaya Bicaranya?

Satu Undang-Undang, Dua Pintu Pelaporan? Menguji SK Ketua KKI dalam Semangat Omnibus Law Kesehatan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Posyandu ke Meja Makan: Edukasi Gizi Seimbang bagi Ibu Balita di Keputran

Kakak, Adik, dan Rasa Tidak Adil: Ketika Perbedaan Perlakuan Orang Tua Memengaruhi Hubungan Saudara

Manajemen Perbankan dan Lembaga Keuangan dalam Sistem Keuangan Modern

Dua Tahun Prabowo Gibran Memperkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan dan Pertanian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.