JAKARTA, JurnalPost.com - Berawal dari keprihatinan melihat kondisi para pengungsi mancanegara yang bertahan di trotoar sekitar Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) Jakarta Selatan, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) hingga kini masih memberikan bantuan makanan secara rutin kepada mereka.
Melalui Majelis Ukhuwah Pusat, setiap hari sebanyak 20 nasi kotak dikirim dari Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Kabupaten Bogor, untuk dibagikan kepada para pengungsi yang masih bertahan di sekitar Kantor UNHCR, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
“Sejak Senin pekan lalu, penyantunan terhadap para pengungsi di sekitar Kantor UNHCR Jakarta ditangani langsung oleh Majelis Ukhuwah Pusat dengan mengirimkan 20 nasi box setiap hari,” ujar staf Majelis Ukhuwah Pusat, Nurul Priansah, Senin (10/8/2026).
Menurut Nurul, jumlah bantuan makanan sebelumnya mencapai 30 nasi kotak per hari. Namun, jumlah tersebut kemudian disesuaikan menjadi 20 nasi kotak karena jumlah pengungsi yang masih tinggal di tenda-tenda sekitar Kantor UNHCR semakin berkurang.
Hal itu diperkuat oleh Amir Ukhuwah Wilayah Jabodetabek Banten Edy Siswanto. “Menurut security Kantor UNHCR Jakarta, 20 nasi box sudah cukup karena sebagian pengungsi sudah mendapatkan penempatan di negara lain, di antaranya Australia,” katanya.
Meski demikian, menurut Nurul Priansah jumlah santunan nasi kotak bisa bertambah jika pihak UNHCR menghendaki dan anggarannya tersedia.
Berawal dari Kunjungan ke UNHCR Kepedulian terhadap para pengungsi tersebut bermula dari kunjungan Amir Majelis Ukhuwah Pusat, Drs. Asep Faturahman, bersama staf ke Kantor UNHCR Jakarta pada Jumat (17/7/2026).
Kunjungan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai status para pengungsi yang antara lain berasal dari Afghanistan, Somalia, Irak, Myanmar dan Palestina, sekaligus mengetahui kemungkinan solusi terhadap kondisi mereka yang setiap hari berdatangan dan mendirikan tenda di trotoar sekitar kantor UNHCR.
Dari kunjungan tersebut, diperoleh keterangan bahwa para pengungsi masih menunggu kepastian status dan penanganan lebih lanjut. Sebagian dari mereka meninggalkan negara asal karena kondisi yang tidak kondusif dan berharap dapat memperoleh kehidupan yang lebih aman dan layak.
Di sisi lain, kebutuhan sehari-hari menjadi persoalan tersendiri. Mereka harus bertahan di ruang terbuka dengan fasilitas yang sangat terbatas, termasuk dalam memenuhi kebutuhan makanan.
Kondisi tersebut mendorong Majelis Ukhuwah Pusat bersama sejumlah unsur terkait untuk mengambil langkah nyata dengan menggagas Program Dapur Peduli Pengungsi UNHCR.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut juga melibatkan unsur Jama’ah Muslimin lainnya, termasuk Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Wilayah Jabodetabek Banten dan Markas Cileungsi. Bantuan makanan kemudian disalurkan secara rutin kepada para pengungsi sejak 20 Juli 2026.
Program Dapur Peduli tersebut direncanakan berlangsung selama satu bulan. Setelah itu, pelaksana akan melakukan evaluasi untuk melihat kebutuhan dan kemungkinan keberlanjutan program.
Kemanusiaan Tanggung Jawab Bersama Kepedulian terhadap para pengungsi juga mendapat perhatian langsung dari Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Syaikh Yakhsyallah Mansur. Ia bahkan sempat turun langsung memberikan santunan kepada para pengungsi di sekitar Kantor UNHCR Jakarta.
Menurut Syaikh Yakhsyallah, persoalan kemanusiaan tidak semestinya hanya dibebankan kepada lembaga internasional maupun pemerintah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk membantu sesama yang sedang berada dalam kesulitan.
“Masalah kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai kita diam saja melihat orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan,” ujarnya. Ia menilai bantuan makanan yang diberikan kepada para pengungsi, meskipun sederhana, merupakan bentuk kepedulian yang dapat meringankan beban mereka selama menunggu kepastian mengenai masa depan.
Juru bicara UNHCR Indonesia Hendrik Therik menegaskan bahwa komitmen kemanusiaan Indonesia yang telah memberikan rasa aman dan harapan bagi orang-orang yang terpaksa mengungsi menunjukkan pentingnya tanggung jawab bersama.
“Solidaritas yang ditunjukkan berbagai pihak membuktikan bahwa perlindungan dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kepedulian, dan tindakan nyata,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta.
Keberadaan para pengungsi di sekitar Kantor UNHCR Jakarta Selatan masih menjadi perhatian berbagai pihak. Sebagian pengungsi telah mendapatkan penempatan ke negara lain, sementara sebagian lainnya masih menunggu proses dan kepastian penanganan dengan kondisi serba terbatas termasuk makanan. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda