Lumajang, Jurnalpost.com - Beberapa warga masyarakat Lumajang yang rumahnya rusak akibat gempa pada bulan April 2021 lalu, terpaksa sampai sekarang tetap bertahan tinggal dirumahnya walaupun kondisinya sangat membahayakan keselamatan keluarganya. Hal ini dikarenakan tidak ada biaya untuk membangun kembali rumah tinggalnya. Rumah bantuan pemerintah yang mereka tunggu-tunggu sampai saat ini belum kunjung ada realisasi.
Beruntung bagi masyarakat terdampak gempa yang mendapat bantuan Hunian Sementara atau Rumah Darurat dari para relawan. Itupun kondisinya tidak mampu bertahan sampai 8 bulan karena memang sifatnya sementara, dibuat sederhana yang penting bisa untuk berlindung dari hujan dan panas. Bagi warga masyarakat yang memiliki rejeki lebih, tentunya bisa membangun atau memperbaiki sendiri rumahnya, walaupun ada kekawatiran jika sudah memperbaiki sendiri rumahnya, maka hak untuk mendapatkan rumah bantuan pemerintah akan hangus atau batal.
"Ada yang bilang, kalau rumahnya sudah diperbaiki sendiri, maka tidak dapat bantuan dari pemerintah" ujar salah satu warga terdampak. "Kami jadinya serba salah mas..." tambahnya kepada awak media.
Ada beberapa hal yang membuat warga korban gempa mulai kawatir dengan realisasi rumah bantuan pemerintah, diantaranya adalah adanya kabar bahwa data penerima bantuan masih simpang siur dan berubah-rubah.
Ditambah lagi adanya kejadian bencana erupsi gunung Semeru pada 4 Desember 2021 yang lalu. Hal ini tentunya semakin menambah beban tugas yang berat bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang. Seperti kita ketahui bersama bahwa lebih dari 1.500 Kepala Keluarga (KK) terdampak erupsi gunung Semeru harus direlokasi, yang artinya pemerintah harus membuatkan rumah untuk mereka, yang biasanya dalam penanganan bencana disebut dengan Hunian Tetap (HUNTAP).
Imam Gozali (37th) salah satu warga terdampak gempa April 2021, menjelaskan terpaksa memberanikan diri tetap tinggal dirumahnya yang hampir roboh karena belum ada biaya untuk membangun rumah. "Saya tinggal dirumah ini bersama istri dan 2 anak saya serta 2 orang tua yaitu ibu saya dan ibu istri saya" jelasnya. "Setiap hari tidur tidak pernah bisa nyenyak mas, ada getaran sedikit kami langsung bawa anak-anak lari keluar." tambah istri Gozali yang kesehariannya jualan bunga dan menjaga warung kopi miliknya.
Awak media yang melihat langsung kondisi rumah keluarga ini, tidak berani duduk lama-lama didalam rumah. Walaupun dibeberapa titik-titik bagian rumah terlihat sudah dipasang tiang-tiang bambu untuk menahan bagian atas rumah supaya tidak roboh. Namun tembok-tembok yang sudah retak menganga lebar tetap membahayakan penghuninya.
"Alhamdulillah sekarang ini sedang dibuatkan rumah sederhana sekaligus sebagai tempat usaha oleh Komunitas Relawan. Inshaallah seminggu lagi sudah bisa ditempati." ujar Gozali. Amin Kribo salah satu relawan yang terlihat sibuk membantu dilokasi mengatakan, komunitasnya membangun rumah korban gempa di Desa Taman Ayu ini hanya 3 unit dan dinamakan Hunian Layak.
"Kami dari CORRE Indonesia sebenarnya disini (Lumajang) sedang dalam program membantu korban erupsi Semeru sejak tanggal 5/12/2021 (sehari setelah kejadian erupsi), namun pada minggu ke 4 kami alihkan program ke korban terdampak gempa." jelasnya.
"Hal ini kami lakukan karena melihat begitu banyaknya bantuan untuk korban terdampak Erupsi, bahkan bisa dibilang sudah sangat berlebih, namun disisi lain warga yang terdampak gempa masih sangat membutuhkan bantuan terutama bantuan tempat tinggal. Ini rumah ke 3 yang kami bangun disini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat dan bisa segera membangkitkan ekonomi Penerima Manfaat." tambah Amin Kribo yang asli dari Solo, Jawa Tengah. (DD-PPWI)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda