JurnalPost.com - Desa Cikalong di Kabupaten Pangandaran dikenal sebagai salah satu desa budaya di Tatar Sunda yang masih memelihara berbagai tradisi leluhur. Salah satu upacara adat yang masih dijaga hingga kini adalah tradisi Nyusur Tanah (menyusur tanah), sebuah ritual yang berkaitan erat dengan prosesi kematian dalam masyarakat Sunda.
Makna dan Asal Usul Nyusur Tanah Secara harfiah, nyusur tanah berarti "menyusuri tanah". Dalam konteks tradisi Sunda, istilah ini merujuk pada sebuah upacara yang dilakukan setelah proses penguburan jenazah selesai. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian upacara kematian yang diwariskan turun-temurun dan masih lestari di berbagai daerah Sunda. Di Desa Cikalong sendiri, acara nyusur sudah dilakukan beratus-ratus tahun dari generasi ke generasi oleh masyarakat Desa Cikalong secara turun-temurun. Mengingat Desa Cikalong merupakan desa tertua yang berada di Kecamatan Sidamulih khususnya bahkan di Kabupaten Pangandaran.
Menurut cerita turun temurun dari para sepuh dan bukti-bukti peninggalan leluhur, tradisi Nyusur Tanah di Desa Cikalong sudah ada sejak zaman dahulu kurang lebih tahun 1900 an bahkan bisa jadi sebelumnya. Cerita tersebut diperkuat adanya bukti peninggalan makam yang sangat dikeramatkan oleh warga Desa Cikalong dan di luar Desa Cikalong.
Makam tersebut adalah makam Dalem Sastrayuda beserta anak keturunannya di Blok Dusun Citembong Desa Cikalong (Lokasi TPU Desa Cikalong). Beliau adalah salah satu tokoh adat sekaligus ulama penyebar agama Islam di Desa Cikalong yang biasa dikenal dengan ajarannya “Panengen”, beliau masih ada nassab keturunan kepada Sunan Gunung Jati dari istri kedua yang bernama Nyimas Ratu Ayu Dewi Kawunganten yang menurunkan putra Maulana Hasanudin Banten. Silsilah lengkapnya tersimpan rapi di keluarga selaku anak turunannya.
Proses Pelaksanaan Tradisi Nyusur Tanah Tradisi Nyusur Tanah dimulai dari melakukan penggalian liang lahat untuk mengubur jenazah (mayat) yang diawali dari membakar kemenyan, lalu dilanjutkan dengan penyiraman air yang sudah didoakan oleh tokoh adat di tempat yang akan dijadikan liang lahat. Sebelum mayat dimasukan ke liang lahat biasanya tokoh adat turun terlebih dahulu ke liang lahat untuk membacakan doa untuk mayat. Selama proses pembacaan doa oleh ketua adat, dibentangkan karembong (kain) di atasnya dan dipegang oleh 2 orang, setelah ketua adat selesai berdoa lalu tokoh agama mengumandangkan adzan dan seterusnya mayat dimasukan ke liang lahat dan keluarga serta pemuda/petugas mengubur mayat menggunakan cangkul.
Setelah mayat terkubur dipasangkan 2 papan nisan sebagai ciri atau identitas makam dan pohon seperti hanjuang, puring, samboja dan lain-lain, kemudian keluarga menaburkan bunga di atas makam, memotong nasi yang dibungkus sapu ketan atau jerami padi yang sudah dipersiapkan oleh keluarga dari rumah duka. Setelah itu makam disiram dengan air dari kendi yang sudah didoakan oleh ketua adat, kendi dan air sisa penyiraman tidak dibawa pulang melainkan disimpan di pusara makam bagian atas kepala. Setelah prosesi adat selesai dilaksanakan dilanjutkan oleh petugas dari tokoh agama untuk membaca doa sekaligus membacakan talqin untuk keluarga yang ditinggalkan agar tetap tegar dan selalu mendoakan keluarga yang telah meninggal.
Setelah upacara nyusur tanah selesai, keluarga almarhum mengundang para pelayat dan masyarakat yang telah membantu proses pemakaman untuk berkumpul di rumah duka. Di sana, mereka membaca doa bersama untuk almarhum dan biasanya keluarga menyediakan makanan serta minuman sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan dan kehadiran masyarakat.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Tradisi Nyusur Tanah? Tradisi Nyusur Tanah melibatkan berbagai elemen masyarakat, dari tokoh adat, tokoh agama, pihak keluarga, unsur pemerintahan dan warga sekitar. Acara prosesi Nyusur Tanah dipimpin oleh tokoh adat (sesepuh) dan tokoh agama. Keduanya bertugas memandu jalannya ritual/upacara, seperti membacakan doa-doa dan memberikan makna spiritual di setiap tahapannya.
Keterlibatan generasi muda dan masyarakat sekitar juga menjadi aspek yang penting dalam tradisi ini. Para pemuda biasanya diberikan tanggung jawab untuk menggali liang lahat, tugas yang tidak hanya membutuhkan tenaga fisik saja tetapi juga sikap menghormati dan rasa tanggung jawab. Pelaksanaan Tradisi ini tidak dilakukan secara tertutup untuk komunitas internal saja. Masyarakat yang tinggal di Desa Cikalong juga dapat ikut serta dalam membantu proses upacaranya, bahkan warga dari desa lain juga sering datang untuk melayat ke rumah duka.
Nilai-Nilai yang Dapat Diajarkan Melalui Tradisi Nyusur Tanah Tradisi nyusur tanah bukan sekedar ritual kematian, tetapi juga ajaran kehidupan bahwa kita hidup di dunia ini tidaklah kekal melainkan hanya sementara, kita harus menyadari darimana kita berasal. Selain itu, Tradisi Nyusur Tanah juga memiliki beberapa tujuan penting seperti:
● Mendoakan arwah almarhum agar diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Tuhan. ● Mengungkapkan rasa terima kasih keluarga kepada para pelayat dan masyarakat yang telah membantu proses pemakaman. ● Mempererat solidaritas sosial dan kebersamaan di antara warga desa, serta memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Cikalong. Selain aspek spiritual, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga harmoni di tengah masyarakat.
Tradisi Nyusur Tanah mengajarkan masyarakat agar tetap menghargai akar budayanya dan tidak melupakan asal usulnya, memperkuat relasi sosial, serta memberikan pemahaman tentang arti hidup dan mati secara mendalam. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang tidak hanya menambah kekayaan identitas lokal, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran spiritual bagi generasi sekarang.
Dengan menjaga dan melestarikan serta memahami tradisi ini secara menyeluruh, diharapkan tradisi ini tetap terjaga di tengah kehidupan modern. Sebab di balik setiap prosesi adat, terdapat nilai-nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan yang sangat berharga untuk masa depan.
Penulis: Hexa Apliyati & Rully Adhitya Ferdiansyah (Adbis PSDKU Unpad Pangandaran) Narasumber: Aman Suherman (Tokoh Adat Desa Cikalong)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda