Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Begini Tip-tip Sederhana Merumuskan Solusi Masalah Sekolah Secara Tepat

Begini Tip-tip Sederhana Merumuskan Solusi Masalah Sekolah Secara Tepat

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
19 April 2018, 13.07 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
tip Sederhana Merumuskan Solusi Masalah Sekolah
Mbedu Pekarihi (paling kanan), seorang fasda INOVASI Sumba Timur sedang membantu merumuskan masalah-masalah dan solusinya di sekolah.

JURNALPOST - Haharu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur - Merumuskan solusi untuk masalah-masalah di sekolah ternyata tidak selalu gampang. Solusi yang ditawarkan kadang tidak bisa memecahkan masalah secara komprehensif.

Oleh karena itu, untuk membantu para peneliti yang merupakan Fasiliatator Daerah INOVASI Sumba TImur memfasilitasi pemecahan masalah-masalah sekolah, Afifuddin, Education Officer INOVASI memberikan banyak tip memecahkan masalah-masalah di sekolah dengan menggunakan beberapa komponen pendekatan PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation), sebuah pendekatan khas program pendidikan INOVASI.

IKLAN

Mbedu Pekarihi (paling kanan), seorang fasda INOVASI Sumba Timur sedang membantu merumuskan masalah-masalah dan solusinya di sekolah.

FK UMSURA
Baca Juga

Kolaborasi Sekolah dan Fakultas Kedokteran: Membuka Wawasan tentang Dunia Mikroba

Misalnya, di Haharu, salah satu kecamatan di Sumba Timur, beberapa guru yang diteliti pada tahap awal penggunaan eksplorasi PDIA menyatakan masalah di sekolahnya diantaranya sebagai berikut: siswa belum bisa membaca lancar, metode pembelajaran belum bervariasi, kurangnya media pembelajaran dan lain-lain.

Menurut Afif, agar perumusan solusi yang dilakukan lebih komprehensif dan lebih tepat, pernyataan-pernyataan masalah tersebut, harus digali lebih dalam, dicari sampai akar masalahnya. Salah satunya dengan menggunakan 5-whys atau lima mengapa yang diajukan secara berurutan? Mengapa media pembelajaran di sekolah tersebut kurang? Kalau guru menyatakan karena mereka kurang kreatif, pernyataan tersebut harus terus dikejar dengan pertanyaan lanjutan, mengapa kurang kreatif? dan pertanyaan-pertanyaan mengapa selanjutnya sampai didapatkan jawaban yang dianggap sudah mentok atau akar masalahnya. Setelah ditemukan akar masalah, maka solusinya baru dirancang.

Namun menurut Afifuddin, kalau solusi yang ditemukan satu saja, barangkali ada kesalahan perumusan akar masalahnya. “Aturan dasarnya adalah jika kita tidak temukan kurang lebih tiga alternatif solusi untuk satu masalah, sebenarnya kita tidak memiliki masalah. Kita bisa jadi merumuskan solusinya itu sendiri sebagai masalah. Itu berarti kita belum temukan akar masalahnya” kata Afif selanjutnya baru baru ini.

Misalnya, menurut Afif, saat masalah yang dinyatakan guru adalah kurangnya media pembelajaran dan solusi yang ditawarkan adalah memperbanyak media pembelajaran. Maka masalah yang dinyatakan tersebut bukanlah masalah, tapi solusi yang disalahtempatkan sebagai masalah. Pendidik oleh karenanya harus menggali akar masalahnya kembali. “Pernyataannya masalahnya perlu diperbaiki,” ujarnya.

Kondisi bangunan Bank NTT
Baca Juga

Gempa Magnitudo 7,7 Mengguncang Flores dan Merusak Sejumlah Bangunan

IKLAN

Tips yang kedua, untuk solusi masalah, perumusannya bisa menggunakan 5 bagaimana atau five hows? “Misalnya masalah di sekolah adalah kurangnya kemampuan guru menggunakan media, solusi yang diberikan digali sebanyak-banyaknya sampai kurang lebih lima macam, misalnya dengan melatih guru menciptakan media, membaca banyak buku, melakukan pertemuan belajar antar mereka sendiri atau KKG dan lain lain.

Dari berbagai alternatif solusi tersebut, dipilih solusi yang paling memungkinkan untuk dilakukan berdasarkan ketersediaan sumber daya, kemampuan sekolah dan lain-lain,” ujarnya lebih lanjut.

Tips yang ketiga, kalau five hows pertama dengan banyak alternative solusi, five hows kedua dengan solusi secara bertingkat. “Misalnya pada masalah guru kurang mampu mengajar membaca. Kalau solusi yang diajukan adalah guru harus dilatih penguasaan membaca, solusi tersebut terus diperdalam lagi dengan pertanyaan bagaimana bentu pelatihan membacanya? Dan bagaimana selanjutnya sampai solusi tersebut bersifat operasional,” ujarnya

Dengan beberapa metode merumuskan solusi ini, Afifuddin berharap masalah-masalah sekolah bisa teratasi oleh sekolah itu sendiri secara lokal. “Beberapa metode ini yang diperkenalkan ke para guru, kepala sekolah dan para pendidik sekolah lain dimaksudkan agar sekolah bisa merumuskan sendiri masalah di sekolahnya dan mengatasinya secara mandiri, “ kata Afif

Screenshot 2026 09 25 113421
Baca Juga

SATU KLIK: Ikhtiar Guru Menghidupkan Literasi di Ruang Digital

Menurut Afif, dengan kemampuan para guru, kepala sekolah dan para pendidik lainnya menemukan masalah dan merumuskan solusinya dengan benar, sekolah bisa menjadi berdaya dan tidak tergantung lagi dengan arahan-arahan dari pihak-pihak lain.

Mbedu Pekarihi, salah seorang kepala sekolah di Kandahang, Sumba Timur menyatakan bahwa setelah mempraktikkan penggunaan metode-metode sederhana tersebut, ia mendapatkan banyak inspirasi memecahkan masalah di sekolahnya. “Kita akan melakukan model begini di sekolah bersama guru, atau di KKG gugus. Berusaha bersama-sama dengan mereka merumuskan masalah dengan tepat dan mencari alternatif solusinya sehingga sekolah lebih berkualitas,” ujarnya.

Demikian juga ibu Dorkas Kondanamu, Kepala Sekolah SD Inpress Kamalaputi merasa terinpirasi dengan pelatihan pemecahan masalah secara lokal dan praktiknya tersebut. “Selama kami melakukan penelitian, ternyata yang banyak dinyatakan oleh guru pernyataan solusi, tapi yang dibungkus sebagai masalah. Jadi seharusnya pernyataan tersebut diteliti lebih jauh, supaya didapatkan masalah dengan banyak alternatif solusi,” ujarnya.

Program INOVASI di NTT dimulai pada bulan Juli 2017. Penandatanganan MoUnya dengan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan bulan November 2017. Program pendidikan yang didanai oleh pemerintah Australia ini akan dilaksanakan sampai akhir tahun 2019.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/begini-tip-tip-sederhana-merumuskan-solusi-masalah-sekolah-secara-tepat/6616/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

  • #Haharu
  • #Nusa Tenggara Timur
  • #Sumba Timur
  • #sekolah

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pilihan Editor

  1. 1 Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis
  2. 2

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  3. 3

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  4. 4

    Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.