CANBERRA, JurnalPost.com - Pemerintah Australia sangat khawatir soal ancaman Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif yang lebih tinggi terhadap impor produk farmasi dan tembaga, demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers pada Rabu (9/7).
Chalmers mengatakan kepada radio Australian Broadcasting Corporation (ABC) bahwa pemerintah federal sedang berupaya meminta klarifikasi dari pihak AS setelah Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif baru sebesar 200 persen terhadap produk farmasi dan 50 persen untuk tembaga.
Trump pada Selasa (8/7) waktu setempat di Washington mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan farmasi akan diberikan masa tenggang untuk memindahkan produksi mereka ke AS sebelum tarif tersebut diberlakukan.
Chalmers menuturkan bahwa kurang dari 1 persen ekspor tembaga Australia saat ini dikirim ke AS, tetapi perkembangan seputar produk farmasi jauh lebih mengkhawatirkan.
"Kami akan menindaklanjuti pengumuman dari AS semalam. Perkembangannya jelas sangat mengkhawatirkan. Kita berbicara tentang ekspor bernilai miliaran dolar ke AS untuk produk farmasi," ujarnya.
Menurut basis data Comtrade Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ekspor produk farmasi Australia ke AS bernilai 2,2 miliar dolar Australia (1 dolar Australia = Rp10.626) atau setara 1,4 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.238) pada 2024, mewakili 44,8 persen dari total nilai ekspor produk farmasi Australia.
Pemerintah AS pada April mengidentifikasi Skema Manfaat Farmasi (Pharmaceutical Benefits Scheme/PBS) Australia sebagai keluhan perdagangan sebelum Trump mengumumkan tarif global ekstensif.
Pemerintah federal menyubsidi biaya untuk lebih dari 900 obat yang berbeda melalui PBS, yang telah dikritik oleh industri farmasi AS sebagai praktik antipersaingan.
Chalmers pada Rabu mengatakan dirinya ingin menegaskan bahwa pemerintah Australia tidak akan "menukar atau membuat kesepakatan" terkait PBS dalam negosiasi perdagangan. (Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda