Penulis: Attaya Zhafira Ardyani, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Ada semacam narasi yang terdengar familiar bagi kita sebagai anak muda, “hidup sukses setelah lulus, mengejar karier, dan berproses untuk kehidupan bahagia di masa depan.” Lalu, jika kita renungkan, apakah bayangan indah itu akan terwujud dengan mudahnya? Ada satu hal yang jarang dibicarakan terang-terangan: tuntutan membalas pengorbanan keluarga—sebuah “utang” yang tak pernah ditagih secara terbuka, tetapi selalu terasa harus dibayar. Perasaan inilah yang banyak dialami oleh generasi sandwich (Roring & Simanjuntak, 2024). Tanggung jawab terhadap keluarga sering kali menuntut mereka untuk mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan keinginan pribadi, bahkan ketika perjalanan hidup dan impian mereka sendiri belum benar-benar terwujud. Di titik inilah, pertanyaan tentang kebebasan tidak lagi menjadi abstrak: apakah kebebasan kita masih bisa disebut bebas, jika setiap pilihan yang kita ambil dibayangi oleh rasa tanggung jawab yang seolah tak dapat ditolak?
Dilema tersebut hadir secara nyata dalam film 1 Kakak 7 Ponakan melalui tokoh Moko, seorang mahasiswa tingkat akhir yang tengah menanti kelulusan, sekaligus telah mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Sebuah kabar duka mengenai kepergian kakak dan kakak iparnya membuat Moko harus mengambil alih peran untuk mengasuh ketujuh keponakannya. Alih-alih merayakan kelulusannya, Moko justru dihadapkan pada dua pilihan yang tak mudah: melanjutkan impiannya atau mengemban tanggung jawab moral pada para keponakannya. Konflik ini bukan hanya persoalan keluarga atau ekonomi, melainkan pertentangan antara tanggung jawab dan kebebasan yang menjadikan kisah ini menarik untuk dibahas menggunakan perspektif eksistensialisme.
Menurut Heidegger, manusia lahir dan hidup dalam keadaan yang tidak ia pilih sendiri. Kita tidak pernah memilih di mana kita dilahirkan, dalam keluarga seperti apa kita tumbuh, maupun berbagai situasi yang membentuk kehidupan kita. Kondisi ini disebut sebagai Geworfenheit—keterlemparan manusia ke dalam keadaan yang tidak ia pilih (Heidegger, 1962). Moko tidak memilih untuk menjalankan peran orang tua bagi tujuh keponakannya; ia hanya mendapati dirinya sudah berada dalam posisi itu. Namun, apakah keterlemparan ini menyatakan bahwa Moko sepenuhnya kehilangan kebebasannya untuk memilih?
Bagi Sartre, jawabannya adalah tidak. Manusia selalu memiliki kebebasan untuk memilih; bahkan ketika seseorang memilih untuk tidak memilih, keputusan tersebut tetap merupakan sebuah pilihan. Sartre menolak anggapan bahwa keadaan sepenuhnya menentukan arah hidup manusia. Situasi memang dapat membatasi ruang gerak, tetapi tidak menghilangkan kebebasan untuk memilih cara bersikap terhadapnya. Di samping itu, ada tanggung jawab dan konsekuensi yang harus siap dipikul atas setiap pilihan (Sartre, 2007). Sama halnya dengan Moko, ketika ia memilih tetap mengasuh keponakannya, ia menerima konsekuensi berupa pengorbanan atas karier dan kehidupan cintanya. Inilah yang dimaksud Sartre dengan manusia “dikutuk untuk bebas” (condemned to be free): bebas bukan berarti hidup tanpa beban, melainkan memikul konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya (Sartre, 2007).
Namun, apakah setiap orang yang berada pada situasi seperti Moko akan menyadari kebebasannya? Ketika kita mengatakan, “Aku tidak punya pilihan lagi selain menerima ini,” itu merupakan bentuk pengingkaran terhadap kebebasan yang sebenarnya masih kita miliki, Sartre menjelaskan kondisi tersebut sebagai bad faith (Sartre, 2007). Lalu, bagaimana seseorang dapat bertahan setelah menyadari kebebasannya? Manusia dapat bertahan menghadapi tuntutan hidup apabila ia menemukan makna di baliknya. Bagi Frankl, manusia memang tidak dapat memilih apa yang menimpanya, tetapi ia akan selalu memiliki suatu kebebasan, yaitu kebebasan dalam memaknainya (Frankl, 2006). Makna tersebut kemudian dapat membuat seseorang tetap bertahan dan bertumbuh dalam menghadapi penderitaannya.
Titik mula keterlemparan Moko terjadi karena satu peristiwa: meninggalnya Agnes dan Atmo secara tiba-tiba. Peristiwa ini akhirnya mengubah peran Moko dari seorang “adik” menjadi seorang “kepala keluarga”. Moko tidak pernah menyangka bahwa kematian kakak dan kakak iparnya datang sekaligus dan membuat tanggung jawab keluarga berpindah ke pundaknya. Ia tidak memilih keadaan tersebut; ia hanya mendapati dirinya telah berada di dalamnya dan harus menjalaninya. Di sinilah Geworfenheit menjadi nyata dalam kehidupan Moko.
Keterlemparan tersebut tidak hanya mengubah peran Moko, tetapi juga berdampak pada kehidupannya sehari-hari. Secara ekonomi, Moko menghabiskan seluruh tabungannya untuk menghidupi ketujuh keponakannya. Bahkan, ia juga harus mengorbankan beasiswa impiannya ke Columbia University hingga berakhirnya hubungan asmaranya dengan Maurin. Pada titik ini, tindakan Moko bukan hanya sebuah pengorbanan keluarga, melainkan caranya menempatkan diri dan menjalani kehidupannya bersama orang lain. Merawat orang lain bukanlah sesuatu yang terpisah dari keberadaan manusia; Heidegger menyebutnya sebagai Sorge atau kepedulian, karena manusia secara mendasar akan selalu hidup bersama orang lain (Mitsein) (Heidegger, 1962). Ternyata, apa yang tampak sebagai pengorbanan bagi Moko sesungguhnya adalah bentuk lain dari caranya bereksistensi di dunia.
Seiring berjalannya waktu, Moko mulai menemukan kembali kesempatan untuk membangun kehidupannya di luar perannya sebagai kepala keluarga. Kepulangan Osa dan Eka memberinya ruang untuk bekerja hingga akhirnya ia diterima sebagai junior arsitek. Kesempatan tersebut kemudian menghadirkan pilihan baru ketika ia mendapat tawaran untuk mengerjakan proyek di luar kota. Menerima proyek tersebut berarti Moko harus mempercayakan pengasuhan keponakannya kepada Osa dan Eka, sekaligus menerima konsekuensi dari pilihannya. Situasi ini menunjukkan bahwa keadaan memang dapat membatasi ruang gerak seseorang, tetapi tidak menghilangkan kebebasannya untuk menentukan tindakan. Dalam perspektif Sartre, kebebasan justru hadir ketika manusia harus menentukan pilihan di tengah keterbatasan sekaligus bertanggung jawab atas konsekuensinya (Sartre, 2007).
Jika kita selalu memiliki kebebasan untuk memilih, apakah artinya kita juga mampu untuk menjalaninya dengan baik? Pilihan Moko untuk mengambil alih peran sebagai kepala keluarga justru membuatnya harus menjalani tuntutan yang tak kunjung berhenti. Secara psikologis, kondisi seperti ini dapat dipahami sebagai caregiver burden, yaitu beban fisik, ekonomi, emosional, hingga sosial yang muncul ketika seseorang menjalankan peran pengasuhan dalam jangka panjang (Zarit et al., 1980). Pengalaman Moko tidak berhenti pada beban yang harus ditanggung; perlahan, tanggung jawab tersebut turut membentuk cara Moko memahami dirinya, menjalankan tanggung jawab, dan menentukan arah hidupnya. Segala yang dialaminya tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dilewati, tetapi juga dapat menjadi tempat baginya untuk bertumbuh. Proses yang mungkin dialami Moko dikenal sebagai post-traumatic growth (Tedeschi & Calhoun, 2004).
Pada akhirnya, kisah Moko bukan sepenuhnya tentang keterpaksaan. Bukan pula soal tidak memiliki pilihan. Di balik banyak keputusan anak muda untuk membalas pengorbanan keluarga, terdapat anggapan bahwa tanggung jawab dalam keluarga pada akhirnya harus turut dipikul oleh mereka. Jika seseorang tetap memiliki kebebasan untuk memilih, tetapi seolah tak dapat menolak konsekuensinya, apakah masih dapat dikatakan sebagai kebebasan?
Referensi:
Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Roring, B. W., & Simanjuntak, E. J. (2024). Kepuasan hidup generasi sandwich di Indonesia: Peran bakti kepada orang tua, tanggung jawab kepada orang tua, dan rasa bersalah. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 17(3), 233–246. https://doi.org/10.24156/jikk.2024.17.3.233
Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness: An essay on phenomenological ontology (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press. https://doi.org/10.12987/9780300242539
Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence. Psychological Inquiry, 15(1), 1–18. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1501_01
Zarit, S. H., Reever, K. E., & Bach-Peterson, J. (1980). Relatives of the impaired elderly: Correlates of feelings of burden. The Gerontologist, 20(6), 649–655. https://doi.org/10.1093/geront/20.6.649
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda