Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Apakah Kita Pernah Benar-Benar Bebas? Konflik Eksistensial Tokoh Moko dalam Film 1 Kakak 7 Ponakan

Apakah Kita Pernah Benar-Benar Bebas? Konflik Eksistensial Tokoh Moko dalam Film 1 Kakak 7 Ponakan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
12 Agustus 2026, 16.32 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
film 1 Kakak 7 Ponakan
Poster film 1 Kakak 7 Ponakan (2025) ANTARA/HO-Mandela Pictures dan Cerita Films.

Penulis: Attaya Zhafira Ardyani, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

JurnalPost.com - Ada semacam narasi yang terdengar familiar bagi kita sebagai anak muda, “hidup sukses setelah lulus, mengejar karier, dan berproses untuk kehidupan bahagia di masa depan.” Lalu, jika kita renungkan, apakah bayangan indah itu akan terwujud dengan mudahnya? Ada satu hal yang jarang dibicarakan terang-terangan: tuntutan membalas pengorbanan keluarga—sebuah “utang” yang tak pernah ditagih secara terbuka, tetapi selalu terasa harus dibayar. Perasaan inilah yang banyak dialami oleh generasi sandwich (Roring & Simanjuntak, 2024). Tanggung jawab terhadap keluarga sering kali menuntut mereka untuk mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan keinginan pribadi, bahkan ketika perjalanan hidup dan impian mereka sendiri belum benar-benar terwujud. Di titik inilah, pertanyaan tentang kebebasan tidak lagi menjadi abstrak: apakah kebebasan kita masih bisa disebut bebas, jika setiap pilihan yang kita ambil dibayangi oleh rasa tanggung jawab yang seolah tak dapat ditolak?

IKLAN

Dilema tersebut hadir secara nyata dalam film 1 Kakak 7 Ponakan melalui tokoh Moko, seorang mahasiswa tingkat akhir yang tengah menanti kelulusan, sekaligus telah mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Sebuah kabar duka mengenai kepergian kakak dan kakak iparnya membuat Moko harus mengambil alih peran untuk mengasuh ketujuh keponakannya. Alih-alih merayakan kelulusannya, Moko justru dihadapkan pada dua pilihan yang tak mudah: melanjutkan impiannya atau mengemban tanggung jawab moral pada para keponakannya. Konflik ini bukan hanya persoalan keluarga atau ekonomi, melainkan pertentangan antara tanggung jawab dan kebebasan yang menjadikan kisah ini menarik untuk dibahas menggunakan perspektif eksistensialisme.

Solar Cell
Baca Juga

Digitalisasi Hidroponik Berbasis Solar Cell: Solusi Efisiensi Biaya Produksi Dan Peningkatan Pendapatan Usahatani

Menurut Heidegger, manusia lahir dan hidup dalam keadaan yang tidak ia pilih sendiri. Kita tidak pernah memilih di mana kita dilahirkan, dalam keluarga seperti apa kita tumbuh, maupun berbagai situasi yang membentuk kehidupan kita. Kondisi ini disebut sebagai Geworfenheit—keterlemparan manusia ke dalam keadaan yang tidak ia pilih (Heidegger, 1962). Moko tidak memilih untuk menjalankan peran orang tua bagi tujuh keponakannya; ia hanya mendapati dirinya sudah berada dalam posisi itu. Namun, apakah keterlemparan ini menyatakan bahwa Moko sepenuhnya kehilangan kebebasannya untuk memilih?

Bagi Sartre, jawabannya adalah tidak. Manusia selalu memiliki kebebasan untuk memilih; bahkan ketika seseorang memilih untuk tidak memilih, keputusan tersebut tetap merupakan sebuah pilihan. Sartre menolak anggapan bahwa keadaan sepenuhnya menentukan arah hidup manusia. Situasi memang dapat membatasi ruang gerak, tetapi tidak menghilangkan kebebasan untuk memilih cara bersikap terhadapnya. Di samping itu, ada tanggung jawab dan konsekuensi yang harus siap dipikul atas setiap pilihan (Sartre, 2007). Sama halnya dengan Moko, ketika ia memilih tetap mengasuh keponakannya, ia menerima konsekuensi berupa pengorbanan atas karier dan kehidupan cintanya. Inilah yang dimaksud Sartre dengan manusia “dikutuk untuk bebas” (condemned to be free): bebas bukan berarti hidup tanpa beban, melainkan memikul konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya (Sartre, 2007).

Namun, apakah setiap orang yang berada pada situasi seperti Moko akan menyadari kebebasannya? Ketika kita mengatakan, “Aku tidak punya pilihan lagi selain menerima ini,” itu merupakan bentuk pengingkaran terhadap kebebasan yang sebenarnya masih kita miliki, Sartre menjelaskan kondisi tersebut sebagai bad faith (Sartre, 2007). Lalu, bagaimana seseorang dapat bertahan setelah menyadari kebebasannya? Manusia dapat bertahan menghadapi tuntutan hidup apabila ia menemukan makna di baliknya. Bagi Frankl, manusia memang tidak dapat memilih apa yang menimpanya, tetapi ia akan selalu memiliki suatu kebebasan, yaitu kebebasan dalam memaknainya (Frankl, 2006). Makna tersebut kemudian dapat membuat seseorang tetap bertahan dan bertumbuh dalam menghadapi penderitaannya.

Titik mula keterlemparan Moko terjadi karena satu peristiwa: meninggalnya Agnes dan Atmo secara tiba-tiba. Peristiwa ini akhirnya mengubah peran Moko dari seorang “adik” menjadi seorang “kepala keluarga”. Moko tidak pernah menyangka bahwa kematian kakak dan kakak iparnya datang sekaligus dan membuat tanggung jawab keluarga berpindah ke pundaknya. Ia tidak memilih keadaan tersebut; ia hanya mendapati dirinya telah berada di dalamnya dan harus menjalaninya. Di sinilah Geworfenheit menjadi nyata dalam kehidupan Moko.

KBRI Sofia
Baca Juga

KBRI Sofia Undang Diaspora Indonesia, Rayakan HUT ke-81 RI, WNI Bulgaria Berkumpul di Sofia

Keterlemparan tersebut tidak hanya mengubah peran Moko, tetapi juga berdampak pada kehidupannya sehari-hari. Secara ekonomi, Moko menghabiskan seluruh tabungannya untuk menghidupi ketujuh keponakannya. Bahkan, ia juga harus mengorbankan beasiswa impiannya ke Columbia University hingga berakhirnya hubungan asmaranya dengan Maurin. Pada titik ini, tindakan Moko bukan hanya sebuah pengorbanan keluarga, melainkan caranya menempatkan diri dan menjalani kehidupannya bersama orang lain. Merawat orang lain bukanlah sesuatu yang terpisah dari keberadaan manusia; Heidegger menyebutnya sebagai Sorge atau kepedulian, karena manusia secara mendasar akan selalu hidup bersama orang lain (Mitsein) (Heidegger, 1962). Ternyata, apa yang tampak sebagai pengorbanan bagi Moko sesungguhnya adalah bentuk lain dari caranya bereksistensi di dunia.

Seiring berjalannya waktu, Moko mulai menemukan kembali kesempatan untuk membangun kehidupannya di luar perannya sebagai kepala keluarga. Kepulangan Osa dan Eka memberinya ruang untuk bekerja hingga akhirnya ia diterima sebagai junior arsitek. Kesempatan tersebut kemudian menghadirkan pilihan baru ketika ia mendapat tawaran untuk mengerjakan proyek di luar kota. Menerima proyek tersebut berarti Moko harus mempercayakan pengasuhan keponakannya kepada Osa dan Eka, sekaligus menerima konsekuensi dari pilihannya. Situasi ini menunjukkan bahwa keadaan memang dapat membatasi ruang gerak seseorang, tetapi tidak menghilangkan kebebasannya untuk menentukan tindakan. Dalam perspektif Sartre, kebebasan justru hadir ketika manusia harus menentukan pilihan di tengah keterbatasan sekaligus bertanggung jawab atas konsekuensinya (Sartre, 2007).

IKLAN

Jika kita selalu memiliki kebebasan untuk memilih, apakah artinya kita juga mampu untuk menjalaninya dengan baik? Pilihan Moko untuk mengambil alih peran sebagai kepala keluarga justru membuatnya harus menjalani tuntutan yang tak kunjung berhenti. Secara psikologis, kondisi seperti ini dapat dipahami sebagai caregiver burden, yaitu beban fisik, ekonomi, emosional, hingga sosial yang muncul ketika seseorang menjalankan peran pengasuhan dalam jangka panjang (Zarit et al., 1980). Pengalaman Moko tidak berhenti pada beban yang harus ditanggung; perlahan, tanggung jawab tersebut turut membentuk cara Moko memahami dirinya, menjalankan tanggung jawab, dan menentukan arah hidupnya. Segala yang dialaminya tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dilewati, tetapi juga dapat menjadi tempat baginya untuk bertumbuh. Proses yang mungkin dialami Moko dikenal sebagai post-traumatic growth (Tedeschi & Calhoun, 2004).

Pada akhirnya, kisah Moko bukan sepenuhnya tentang keterpaksaan. Bukan pula soal tidak memiliki pilihan. Di balik banyak keputusan anak muda untuk membalas pengorbanan keluarga, terdapat anggapan bahwa tanggung jawab dalam keluarga pada akhirnya harus turut dipikul oleh mereka. Jika seseorang tetap memiliki kebebasan untuk memilih, tetapi seolah tak dapat menolak konsekuensinya, apakah masih dapat dikatakan sebagai kebebasan?

Menaker Yassierli asasasasa
Baca Juga

Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Jadi Kunci Industrialisasi Indonesia

Referensi:

Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Roring, B. W., & Simanjuntak, E. J. (2024). Kepuasan hidup generasi sandwich di Indonesia: Peran bakti kepada orang tua, tanggung jawab kepada orang tua, dan rasa bersalah. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 17(3), 233–246. https://doi.org/10.24156/jikk.2024.17.3.233

Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness: An essay on phenomenological ontology (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press. https://doi.org/10.12987/9780300242539

Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence. Psychological Inquiry, 15(1), 1–18. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1501_01

Zarit, S. H., Reever, K. E., & Bach-Peterson, J. (1980). Relatives of the impaired elderly: Correlates of feelings of burden. The Gerontologist, 20(6), 649–655. https://doi.org/10.1093/geront/20.6.649

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/apakah-kita-pernah-benar-benar-bebas-konflik-eksistensial-tokoh-moko-dalam-film-1-kakak-7-ponakan/96954/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.52 WITA

  • #Press Release

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar
  2. 2

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  3. 3

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  4. 4

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  5. 5

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.