Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Apakah Asesmen PAI Telah Relevan dengan Tantangan Moral Siswa Zaman Now?

Apakah Asesmen PAI Telah Relevan dengan Tantangan Moral Siswa Zaman Now?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
30 April 2025, 18.27 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Apakah Asesmen PAI Telah Relevan dengan Tantangan Moral Siswa Zaman Now?
Oleh: Rizal Permana ׀Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam ׀Universitas Pendidikan Indonesia JurnalPost.com - Dalam dunia pendidikan hari ini, kita menyaksikan paradoks yang mencolok: siswa mampu menghafal dalil-dalil agama dengan fasih, tetapi kerap gagal menunjukkan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah gempuran era digital, di mana tantangan moral datang dari media sosial, budaya populer, dan tekanan teman sebaya, pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah asesmen dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini benar-benar relevan untuk mengukur keberhasilan pembentukan karakter siswa? Asesmen seharusnya menjadi alat bantu guru untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik dapat dicapai secara seimbang. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan dominasi asesmen kognitif. Kesenjangan inilah yang menjadi perhatian penting, terlebih ketika krisis karakter di kalangan pelajar makin nyata dan mendesak untuk direspon melalui sistem pendidikan yang transformatif.

1. Asesmen PAI: Antara Hafalan dan Aplikasi (diperkuat dengan hasil studi terkini)

Hingga kini, praktik asesmen dalam pembelajaran PAI masih didominasi oleh ranah kognitif yakni pengukuran hafalan ayat, penguasaan materi fiqih, atau teori akidah. Namun, dua ranah penting lainnya, yaitu afektif dan psikomotorik, cenderung belum memperoleh perhatian yang proporsional. Padahal, seperti ditegaskan dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016, asesmen harus mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara autentik. Penelitian oleh Feri Riski Dinata dkk., (2025) menunjukkan bahwa asesmen psikomotor dalam PAI, seperti kemampuan praktik ibadah, belum diterapkan secara optimal. Hambatan utama berasal dari minimnya pemahaman guru tentang teknik dan instrumen yang tepat, serta keterbatasan waktu dan sarana. Penilaian praktik seperti shalat, wudhu, atau kegiatan sosial-keagamaan belum sistematis, meskipun teknik seperti observasi langsung, portofolio, tes performa, dan proyek telah direkomendasikan. Sementara itu, Fajri Ismail (2023) menyoroti bahwa asesmen afektif juga belum banyak digunakan secara maksimal. Padahal, ranah ini sangat penting dalam menilai nilai-nilai religius seperti empati, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Model asesmen seperti skala sikap, observasi, catatan anekdot, dan sosiometri dapat digunakan untuk menilai perubahan sikap keagamaan siswa secara mendalam. Kedua temuan ini menegaskan adanya kesenjangan yang serius antara ideal regulatif dan praktik di lapangan. Guru cenderung terjebak pada kenyamanan tes soal pilihan ganda maupun esai baik tertulis dan digital, sementara tantangan moral siswa zaman sekarang seperti bullying, konten negatif, dan krisis empati justru membutuhkan pendekatan asesmen yang menyentuh ranah karakter dan perilaku nyata.

2. Tantangan Moral Siswa Zaman Sekarang

Siswa saat ini hidup dalam era digital yang menawarkan kemudahan sekaligus tantangan luar biasa bagi perkembangan moral dan spiritual mereka. Paparan konten vulgar, budaya selebriti instan, normalisasi kekerasan verbal di media sosial, serta tekanan eksistensi di dunia maya menjadikan tantangan moral lebih kompleks daripada sebelumnya. Sayangnya, sistem pendidikan agama kita belum sepenuhnya mampu mengimbangi dinamika ini, terutama dalam hal pengukuran perubahan moral siswa secara nyata. Sebagai contoh nyata, pada tahun 2023, salah satu SMA negeri di Bandung menjadi sorotan setelah muncul video perundungan terhadap siswa baru oleh kakak kelasnya yang aktif dalam organisasi keagamaan sekolah. Ironisnya, pelaku dikenal sebagai siswa dengan nilai PAI tinggi dan sering memenangkan lomba MHQ (Musabaqah Hifzil Quran). Fakta ini memperlihatkan celah besar dalam asesmen: nilai akademik keagamaan tidak selalu mencerminkan moral aktual siswa. Pertanyaan kritis yang perlu kita ajukan: bagaimana mungkin sistem asesmen agama bisa meloloskan siswa dengan perilaku menyimpang secara sosial? Jawabannya kembali pada model asesmen yang cenderung kering dari penilaian keseharian dan perilaku nyata. Guru lebih fokus pada seberapa banyak siswa mampu menghafal, bukan bagaimana mereka bertindak di luar kelas. Di sinilah letak kegagalan sistemik: asesmen kehilangan fungsinya sebagai alat pembinaan moral. Moralitas siswa tidak bisa hanya ditakar dari nilai ujian akhir semester atau keaktifan diskusi fiqih. Ia harus diamati dalam keseharian dalam interaksi, dalam kepedulian sosial, dalam respons mereka terhadap kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, tantangan moral zaman sekarang menuntut kita untuk menilai lebih dari apa yang tertulis, tetapi apa yang terlihat dan terasa.

3. Urgensi Perubahan Model Asesmen PAI

Jika sistem asesmen tidak disesuaikan, maka kita berisiko mencetak generasi yang cakap secara teori agama tetapi kosong secara akhlak. Perubahan model asesmen bukan hanya penting, tapi mendesak. Kita butuh pendekatan yang tidak hanya mengukur apa yang siswa tahu, tetapi juga bagaimana mereka hidup dan bersikap sebagai individu beragama. Praktik yang menjanjikan sudah mulai diterapkan di beberapa sekolah. Misalnya, penelitian oleh Savira Azka Wulandari (2021) di SMAN 1 Subang menunjukkan bahwa implementasi praktikum pembelajaran PAI, meskipun menghadapi tantangan selama pandemi, mampu meningkatkan aspek afektif dan psikomotorik siswa. Guru PAI di sekolah tersebut menggunakan pendekatan praktikum untuk menilai keterampilan ibadah dan sikap religius siswa secara langsung. Contoh lain datang dari SMA Negeri 1 Bangkinang Kota, seperti diteliti oleh Hairunis (2024). Sekolah ini menerapkan asesmen kurikulum merdeka pada mata pelajaran PAI, yang m eliputi asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan siswa dan menilai perkembangan karakter mereka secara lebih komprehensif. Dari dua contoh tersebut, tampak jelas bahwa perubahan model asesmen dari sekadar pengukuran hafalan menuju pembinaan karakter sangat mungkin dilakukan asal guru diberikan ruang, pelatihan, dan kebijakan yang mendukung. Transformasi ini penting agar PAI tidak berhenti pada teori, tetapi menyentuh kehidupan nyata siswa.

4. Rekomendasi: Arah Baru Asesmen PAI

Sudah waktunya kita berhenti menjadikan asesmen sebagai sekadar angka yang mengisi kolom rapor. Pendidikan Agama Islam memiliki misi luhur: membentuk manusia berakhlak, bukan hanya berpengetahuan. Maka, asesmennya pun harus mencerminkan visi tersebut yakni membina, bukan sekadar menilai. Berikut beberapa arah baru yang patut dipertimbangkan dalam membangun model asesmen PAI yang lebih relevan dengan tantangan zaman: 1) Revisi instrumen asesmen yang terlalu kognitif-sentris. Sudah saatnya indikator afektif dan psikomotor tidak lagi menjadi pelengkap yang ‘asal ada’. Guru harus diberi kewenangan dan pelatihan untuk merancang rubrik yang secara sistematis menilai sikap, empati, dan praktik ibadah siswa. Rapor siswa seharusnya juga menampilkan bagaimana mereka berlaku, bukan hanya apa yang mereka tahu. 2) Pelatihan guru sebagai jantung perubahan. Guru PAI tidak bisa dibiarkan menavigasi sendiri perubahan paradigma ini. Perlu ada pelatihan terstruktur untuk membekali mereka dengan teknik asesmen afektif dan psikomotor, seperti penggunaan catatan anekdot, jurnal reflektif, atau asesmen berbasis proyek keagamaan. Tanpa dukungan SDM yang kuat, wacana ini hanya akan menjadi slogan. 3) Mendorong asesmen berbasis praktik nyata. Alih-alih hanya sebatas menghafal dan mengetahui teori serta perhitungan zakat, mengapa siswa tidak dicoba dilibatkan untuk membantu kegiatan pengumpulan zakat di daerahnya masing-masing? Mengapa tidak ada proyek sosial yang menjadi bagian dari penilaian PAI? Ketika siswa belajar langsung melalui pengalaman nyata, mereka tidak hanya memahami ajaran agama mereka menghayatinya. Inilah ruh dari pendidikan Islam yang sesungguhnya. 4) Kolaborasi lintas peran di sekolah. Guru PAI harus keluar dari sekat kelas dan mulai bekerja sama dengan guru BK, wali kelas, hingga kepala sekolah. Asesmen karakter memerlukan pengamatan yang tidak cukup dilakukan sekali dua kali, tetapi terus-menerus dan menyeluruh. Kolaborasi ini akan membuat penilaian lebih akurat dan tidak semata subjektif. 5) Pemanfaatan teknologi asesmen berbasis karakter. Di era digital, bukan tidak mungkin mengembangkan sistem e-portofolio siswa yang mencatat dokumentasi kegiatan ibadah, video presentasi dakwah, hingga refleksi keagamaan dalam bentuk vlog. Teknologi tidak harus menjauhkan dari nilai justru bisa menjadi alat untuk menanamkannya secara lebih efektif dan kontekstual. Membenahi asesmen PAI bukan hanya persoalan teknis, tapi ideologis. Ini tentang bagaimana kita memaknai tujuan akhir dari pendidikan agama. Apakah kita ingin menghasilkan siswa yang cakap menjawab soal agama, atau siswa yang mencintai nilai-nilai agama dan menjadikannya pedoman hidup? Pilihan ini akan menentukan bagaimana kita menilai mereka hari ini dan seperti apa mereka menjadi manusia esok hari. Asesmen dalam Pendidikan Agama Islam harus melampaui angka-angka kognitif dan menyentuh sisi terdalam dari kepribadian siswa. Dunia terus berubah, dan tantangan moral siswa makin kompleks. Karena itu, metode asesmen pun harus ikut berubah. Sudah saatnya kita meninggalkan model asesmen yang kering dan normatif, dan beralih pada asesmen yang hidup, kontekstual, dan membina. Hanya dengan cara itulah, Pendidikan Agama Islam dapat menjadi jawaban, bukan sekadar pelajaran. Kita berharap, semoga kedepan Pendidikan Agama Islam bukan hanya mata pelajaran formal yang diwajibkan oleh undang-undang melainkan menjadi sebuah wadah pembinaan bagi para remaja khususnya yang bersekolah agar berada pada koridor nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupannya. Sumber Rujukan: Dinata, F. R., Qomarudin, M., Kuswadi, A., & Marlina. (2025). Asesmen Pembelajaran PAI (Teknik dan Instrumen Asesmen Ranah Pengetahuan Psikomotor) Kelas X SMK Muhammadiyah Tawang Rejo. Al-I’tibar: Jurnal Pendidikan Islam, 12(1), 33–41. https://doi.org/https://doi.org/10.30599/v0f03006 Hairunis. (2024). Implementasi Asesmen Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Bangkinang Kota. Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Keislaman, 9(1), 20–33. Ismail, F. (2023). Inovasi Evaluasi Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (Model-model Penilaian Berbasis Afektif). Ta’dib: Jurnal Pendidikan Islam, 18(02), 228–259. https://doi.org/https://doi.org/10.19109/td.v18i02.48 Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan (2016). Wulandari, S. A. (2021). Implementasi Praktikum Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Masa Pandemi Covid-19 di SMAN 1 Subang.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/apakah-asesmen-pai-telah-relevan-dengan-tantangan-moral-siswa-zaman-now/80462/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 03.27 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Pilihan Editor

  1. 1 Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru
  2. 2

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  3. 3

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  4. 4

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.