Oleh: Ummul Paidah
JurnalPost.com - Udara di sekitar Jalan Bintang Lima, Tamangapa, Antang, tak lagi bisa dihirup dengan lega. Kurang lebih 600 kepala keluarga di kawasan tersebut terpaksa harus menghirup aroma bau busuk menyengat yang menusuk hidung. Kondisi ini terjadi lantaran dalam beberapa bulan terakhir, kawasan permukiman mereka dijadikan lokasi pembuangan sampah sementara sebagai imbas dari tertutupnya akses menuju TPA Tamangapa, Kota Makassar.
Kondisi ini bermula dari rapuhnya infrastruktur dan daya tampung TPA Tamangapa. TPA yang memiliki luas sekitar 19,1 hektar, kini berada dalam kondisi overcapacity tingkat kritis. Setiap harinya, TPA Tamangapa dipaksa menelan volume sampah warga Kota Makassar yang mencapai angka sekitar 1.043 ton/ hari. Karena beban timbulan yang masuk melebihi kapasitas normal, gunungan sampah TPA Tamangapa telah menjulang hingga ketinggian 50 meter.
Di tengah kondisi TPA yang sudah memprihatinkan, cuaca ekstrem datang memperparah situasi. Hujan deras yang mengguyur Kota Makassar sejak akhir November 2025 hingga Maret 2026 telah mengubah jalan akses menuju TPA Tamangapa menjadi jalanan lumpur. Kondisi ini membuat ban-ban besar armada truk Tangkasaki terperosok dan tak bisa melintas masuk. Dan juga sistem pengelolaan semakin lumpuh karena sejumlah alat berat pendorong sampah di lokasi tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah.
Atas alasan kedaruratan itulah, Pemkot Makassar mengambil keputusan instan dengan menunjuk Bintang Lima sebagai lokasi pembuangan darurat. Sayangnya, solusi ini justru memindahkan bencana ke ruang hidup warga dan mematikan mata pencaharian setempat, para penjual jajanan hingga pedagang buah-buahan di sepanjang kawasan Bintang Lima terpaksa gulung tikar karena tidak ada pembeli.
Puncaknya terjadi pada Kamis, 2 April 2026. Lantaran rentetan protes yang dilayangkan tak kunjung digubris oleh pemerintah, kemarahan warga Bintang Lima akhirnya meledak. Mereka turun ke jalan dan nekat memblokir akses utama yang masuk ke kawasan tersebut.
Aksi blokade ini serta-merta melumpuhkan urat nadi lalu lintas dan memicu kemacetan parah hingga berjam-jam. Imbasnya, bukan hanya deretan armada Tangkasaki (Truk Angkutan Sampah Kita) yang terjebak tak bisa membuang muatan, tetapi juga menyandera ratusan pengendara yang menggunakan jalan tersebut sebagai rute utama dari area penyangga (kab. Maros dan kab. Gowa) menuju pusat Kota Makassar
Di tengah kerumunan warga yang berteriak menuntut keadilan, berdiri Daeng Cacce, 48 tahun. Wajah ibu rumah tangga itu terlihat menahan marah dan lelah. Keputusan Pemerintah Kota Makassar memindahkan sementara lokasi pembuangan sampah ke kawasan Bintang Lima telah merampas kenyamanan hidup keluarganya.
"Bukan cuma bau yang bikin kami resah, tapi air lindi hitam dari tumpukan sampah itu merembes sampai ke halaman dan sumur kami! Kami ini manusia, bukan tempat sampah" ketusnya dengan nada tinggi sembari menunjuk genangan air kehitaman di sisi kanan jalan.
Di balik kemudi truk Tangkasaki, Naldi, 35 tahun dan sopir lain, hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya lusuh, pakaiannya basah oleh keringat. "Kita ini serba salah, Ke TPA asli mobil amblas tidak bisa masuk karena becek lumpur, alat berat juga rusak. Disuruh buang ke sini sementara oleh dinas, malah diadang warga belum lagi kami biasa bermalam karena antri untuk membuang," ujarnya pasrah.
Mesin truknya sudah dimatikan sejak dua jam lalu. Ia juga terpaksa menelan omelan warga yang ikut berdemonstrasi serta pengguna jalan, padahal ia dan rekan-rekannya hanya pekerja lapangan yang dituntut agar sampah Kota Makassar tak menumpuk.
Imbas dari deretan Tangkasaki yang memakan bahu jalan adalah kemacetan yang tak terhindarkan. Jalanan menyempit, lalu lumpuh total oleh demo warga. Raut muka frustasi nampak dari wajah pengguna jalan. Mereka juga terpaksa harus menghirup bau busuk dari truk-truk sampah yang ikut terjebak di kemacetan.
Hingga menjelang sore, ketegangan di kawasan Bintang Lima perlahan mereda setelah negosiasi alot antara perwakilan warga dan pihak Pemerintah Kota Makassar membuahkan kesepakatan. Menghadapi desakan warga yang tak kenal kompromi.
Sebagai solusi penyelesaian, pemerintah akan mendatangkan dua hingga tiga unit alat berat jenis eskavator langsung ke Bintang Lima. Alat-alat berat tersebut ditugaskan khusus untuk mengeruk dan membersihkan tuntas sisa tumpukan sampah yang telah mencemari lingkungan warga dan instruksi tegas keluar untuk menghentingkan pengangkutan sampah ke kawasan Bintang Lima.
Malam itu blokade perlahan dibuka. Namun, luka dan ancaman trauma psikologis tak bisa disapu begitu saja dengan eskavator. Bagi Dg. Cacce dan warga lainnya, jejak lumpur lindi yang masih tertinggal bukan sekadar noda. Genangan itu adalah teror senyap membawa bibit penyakit, mulai dari gangguan pernapasan, diare, dan gangguan kulit yang kini mengintai anak-anak mereka.
Mereka mungkin berhasil menghentikan truk sampah yang datang, namun rasa aman telanjur dirampas, rumah mereka nyaris menjadi tempat pembuangan akhir untuk kegagalan ekologi yang tak pernah mereka buat.
Di sudut jalan, seorang bapak tua yang ikut berjaga dalam aksi blokade hanya bisa terduduk lemas di teras rumahnya. Dengan tatapan kosong memandangi cucunya yang masih sangat kecil, ia menyuarakan kepedihan yang menampar nurani siapa saja yang mendengarnya.
"Kami ini memang orang dibawah, tapi apakah harga nyawa dan kesehatan anak cucu kami lebih murah dari sampah orang-orang kaya?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca dan suara yang nyaris habis. "Kami tidak menuntut fasilitas mewah dari pemerintah. Kami cuma mengemis satu hal. tolong, biarkan kami bernapas di rumah kami sendiri tanpa rasa mual dan takut sakit."
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda