Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Aksi Demo: Saat Warga Bintang Lima Menolak Jadi TPA Darurat

Aksi Demo: Saat Warga Bintang Lima Menolak Jadi TPA Darurat

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
27 April 2026, 21.20 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Aksi Demo

Oleh: Ummul Paidah

JurnalPost.com - Udara di sekitar Jalan Bintang Lima, Tamangapa, Antang, tak lagi bisa dihirup dengan lega. Kurang lebih 600 kepala keluarga di kawasan tersebut terpaksa harus menghirup aroma bau busuk menyengat yang menusuk hidung. Kondisi ini terjadi lantaran dalam beberapa bulan terakhir, kawasan permukiman mereka dijadikan lokasi pembuangan sampah sementara sebagai imbas dari tertutupnya akses menuju TPA Tamangapa, Kota Makassar.

IKLAN

Kondisi ini bermula dari rapuhnya infrastruktur dan daya tampung TPA Tamangapa. TPA yang memiliki luas sekitar 19,1 hektar, kini berada dalam kondisi overcapacity tingkat kritis. Setiap harinya, TPA Tamangapa dipaksa menelan volume sampah warga Kota Makassar yang mencapai angka sekitar 1.043 ton/ hari. Karena beban timbulan yang masuk melebihi kapasitas normal, gunungan sampah TPA Tamangapa telah menjulang hingga ketinggian 50 meter.

Solar Cell
Baca Juga

Digitalisasi Hidroponik Berbasis Solar Cell: Solusi Efisiensi Biaya Produksi Dan Peningkatan Pendapatan Usahatani

Di tengah kondisi TPA yang sudah memprihatinkan, cuaca ekstrem datang memperparah situasi. Hujan deras yang mengguyur Kota Makassar sejak akhir November 2025 hingga Maret 2026 telah mengubah jalan akses menuju TPA Tamangapa menjadi jalanan lumpur. Kondisi ini membuat ban-ban besar armada truk Tangkasaki terperosok dan tak bisa melintas masuk. Dan juga sistem pengelolaan semakin lumpuh karena sejumlah alat berat pendorong sampah di lokasi tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah.

Atas alasan kedaruratan itulah, Pemkot Makassar mengambil keputusan instan dengan menunjuk Bintang Lima sebagai lokasi pembuangan darurat. Sayangnya, solusi ini justru memindahkan bencana ke ruang hidup warga dan mematikan mata pencaharian setempat, para penjual jajanan hingga pedagang buah-buahan di sepanjang kawasan Bintang Lima terpaksa gulung tikar karena tidak ada pembeli.

Puncaknya terjadi pada Kamis, 2 April 2026. Lantaran rentetan protes yang dilayangkan tak kunjung digubris oleh pemerintah, kemarahan warga Bintang Lima akhirnya meledak. Mereka turun ke jalan dan nekat memblokir akses utama yang masuk ke kawasan tersebut.

Aksi blokade ini serta-merta melumpuhkan urat nadi lalu lintas dan memicu kemacetan parah hingga berjam-jam. Imbasnya, bukan hanya deretan armada Tangkasaki (Truk Angkutan Sampah Kita) yang terjebak tak bisa membuang muatan, tetapi juga menyandera ratusan pengendara yang menggunakan jalan tersebut sebagai rute utama dari area penyangga (kab. Maros dan kab. Gowa) menuju pusat Kota Makassar

KBRI Sofia
Baca Juga

KBRI Sofia Undang Diaspora Indonesia, Rayakan HUT ke-81 RI, WNI Bulgaria Berkumpul di Sofia

Di tengah kerumunan warga yang berteriak menuntut keadilan, berdiri Daeng Cacce, 48 tahun. Wajah ibu rumah tangga itu terlihat menahan marah dan lelah. Keputusan Pemerintah Kota Makassar memindahkan sementara lokasi pembuangan sampah ke kawasan Bintang Lima telah merampas kenyamanan hidup keluarganya.

"Bukan cuma bau yang bikin kami resah, tapi air lindi hitam dari tumpukan sampah itu merembes sampai ke halaman dan sumur kami! Kami ini manusia, bukan tempat sampah" ketusnya dengan nada tinggi sembari menunjuk genangan air kehitaman di sisi kanan jalan.

IKLAN

Di balik kemudi truk Tangkasaki, Naldi, 35 tahun dan sopir lain, hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya lusuh, pakaiannya basah oleh keringat. "Kita ini serba salah, Ke TPA asli mobil amblas tidak bisa masuk karena becek lumpur, alat berat juga rusak. Disuruh buang ke sini sementara oleh dinas, malah diadang warga belum lagi kami biasa bermalam karena antri untuk membuang," ujarnya pasrah.

Mesin truknya sudah dimatikan sejak dua jam lalu. Ia juga terpaksa menelan omelan warga yang ikut berdemonstrasi serta pengguna jalan, padahal ia dan rekan-rekannya hanya pekerja lapangan yang dituntut agar sampah Kota Makassar tak menumpuk.

Menaker Yassierli asasasasa
Baca Juga

Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Jadi Kunci Industrialisasi Indonesia

Imbas dari deretan Tangkasaki yang memakan bahu jalan adalah kemacetan yang tak terhindarkan. Jalanan menyempit, lalu lumpuh total oleh demo warga. Raut muka frustasi nampak dari wajah pengguna jalan. Mereka juga terpaksa harus menghirup bau busuk dari truk-truk sampah yang ikut terjebak di kemacetan.

Hingga menjelang sore, ketegangan di kawasan Bintang Lima perlahan mereda setelah negosiasi alot antara perwakilan warga dan pihak Pemerintah Kota Makassar membuahkan kesepakatan. Menghadapi desakan warga yang tak kenal kompromi.

Sebagai solusi penyelesaian, pemerintah akan mendatangkan dua hingga tiga unit alat berat jenis eskavator langsung ke Bintang Lima. Alat-alat berat tersebut ditugaskan khusus untuk mengeruk dan membersihkan tuntas sisa tumpukan sampah yang telah mencemari lingkungan warga dan instruksi tegas keluar untuk menghentingkan pengangkutan sampah ke kawasan Bintang Lima.

Malam itu blokade perlahan dibuka. Namun, luka dan ancaman trauma psikologis tak bisa disapu begitu saja dengan eskavator. Bagi Dg. Cacce dan warga lainnya, jejak lumpur lindi yang masih tertinggal bukan sekadar noda. Genangan itu adalah teror senyap membawa bibit penyakit, mulai dari gangguan pernapasan, diare, dan gangguan kulit yang kini mengintai anak-anak mereka.

Mereka mungkin berhasil menghentikan truk sampah yang datang, namun rasa aman telanjur dirampas, rumah mereka nyaris menjadi tempat pembuangan akhir untuk kegagalan ekologi yang tak pernah mereka buat.

Di sudut jalan, seorang bapak tua yang ikut berjaga dalam aksi blokade hanya bisa terduduk lemas di teras rumahnya. Dengan tatapan kosong memandangi cucunya yang masih sangat kecil, ia menyuarakan kepedihan yang menampar nurani siapa saja yang mendengarnya.

"Kami ini memang orang dibawah, tapi apakah harga nyawa dan kesehatan anak cucu kami lebih murah dari sampah orang-orang kaya?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca dan suara yang nyaris habis. "Kami tidak menuntut fasilitas mewah dari pemerintah. Kami cuma mengemis satu hal. tolong, biarkan kami bernapas di rumah kami sendiri tanpa rasa mual dan takut sakit."

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/aksi-demo-saat-warga-bintang-lima-menolak-jadi-tpa-darurat/92513/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 03.26 WITA

  • #Press Release

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pilihan Editor

  1. 1 Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama
  2. 2

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  3. 3

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.