Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. 58 Bulan Pengangguran Rendah, Inflasi Dunia Sulit Jinak: Apa Artinya bagi Indonesia?

58 Bulan Pengangguran Rendah, Inflasi Dunia Sulit Jinak: Apa Artinya bagi Indonesia?

Penulis:
  • Abigail Yuanita Wulandari Kassan, Evi Septiana Putri, Jessica Hermi, Rendy Wijaya, Rizqi Alam Syahputra, Samsul Mualif, Ulfatun Najikah

Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si.

Afiliasi: Ekonomi Bisinis, Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang

Editor: Fatimah
03 Oktober 2026, 16.24 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Inflasi Dunia

Pasar tenaga kerja global yang terlalu lama ketat dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi bertahan di atas target bank sentral. Indonesia relatif terkendali, tetapi tetap perlu mewaspadai dampak rambatan dari perekonomian global.

JAKARTA, JurnalPost.com — Pasar tenaga kerja global yang sangat ketat kembali menjadi sorotan para ekonom. Di tengah inflasi yang belum sepenuhnya kembali ke sasaran bank sentral, tingkat pengangguran yang bertahan rendah dalam waktu sangat lama dinilai menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa tekanan harga masih sulit mereda.

IKLAN

Rekor 58 Bulan di Bawah Batas NAIRU

Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, mencatat bahwa tingkat pengangguran telah berada pada atau di bawah 4,5 persen selama 58 bulan berturut-turut.

Angka tersebut merupakan batas atas kisaran estimasi Non-Accelerating Inflation Rate of Unemployment atau NAIRU Federal Reserve, yakni tingkat pengangguran yang secara teori tidak menyebabkan inflasi terus mengalami percepatan.

Menurut Slok, periode tersebut merupakan salah satu rentang terpanjang yang pernah tercatat. Kondisi itu menggambarkan pasar tenaga kerja yang berada dalam wilayah permintaan berlebih, ketika kebutuhan perusahaan terhadap pekerja sangat tinggi dibandingkan jumlah tenaga kerja yang tersedia.

Situasi seperti ini biasanya hanya terjadi dalam waktu singkat pada puncak ekspansi ekonomi. Jika berlangsung selama hampir lima tahun, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi berjalan sangat kuat dalam waktu yang cukup lama.

Gambaran itu sejalan dengan perkembangan harga di berbagai negara. Inflasi tahunan negara-negara OECD tercatat stabil di kisaran 4,1 persen pada Juli 2026 setelah sempat menurun pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi inti OECD yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi bertahan di sekitar 3,6 persen. Karena komponen yang sangat mudah berfluktuasi telah dikeluarkan, inflasi inti yang masih tinggi menunjukkan bahwa tekanan harga tidak semata-mata berasal dari gangguan pasokan jangka pendek, tetapi telah menyebar ke berbagai sektor ekonomi.

Mengapa Pengangguran Rendah Bisa Mendorong Inflasi?

Hubungan antara pasar tenaga kerja dan inflasi salah satunya dijelaskan melalui konsep Kurva Phillips.

Ketika tingkat pengangguran menurun, perusahaan harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan pekerja. Persaingan tersebut dapat mendorong perusahaan menawarkan upah yang lebih tinggi.

Kenaikan biaya tenaga kerja kemudian berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa. Pada saat yang sama, pekerja yang memperoleh pendapatan lebih besar memiliki kemampuan belanja yang lebih tinggi sehingga permintaan masyarakat ikut meningkat.

Sebaliknya, ketika tingkat pengangguran meningkat, posisi tawar pekerja cenderung melemah. Tekanan terhadap kenaikan upah berkurang sehingga tekanan inflasi juga dapat mereda.

Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana rumus “pengangguran turun, inflasi naik”.

Inflasi turut dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat dan dunia usaha. Ketika pekerja dan pelaku bisnis memperkirakan harga akan terus meningkat, pekerja dapat meminta kenaikan upah, sementara perusahaan menaikkan harga untuk mengantisipasi peningkatan biaya.

Ekspektasi tersebut pada akhirnya dapat ikut memperkuat inflasi.

Selain itu, besaran markup perusahaan atau selisih antara biaya produksi dan harga jual, produktivitas tenaga kerja, kebijakan pemerintah, serta struktur pasar juga berpengaruh terhadap proses pembentukan harga.

Secara akademis, temuan mengenai hubungan antara inflasi dan pengangguran juga beragam.

Studi Stamatiou dan Dritsaki pada 2018 di Polandia menemukan adanya hubungan jangka panjang antara inflasi dan pengangguran, dengan arah kausalitas dari pengangguran menuju inflasi.

Penelitian lain mengenai Pakistan menunjukkan bahwa pengangguran yang berada di bawah tingkat tertentu berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.

Ekonom Robert Gordon juga berpendapat bahwa Kurva Phillips masih memiliki relevansi dalam menjelaskan hubungan pasar tenaga kerja dan inflasi, meskipun kemampuan model tersebut dalam memprediksi inflasi tidak selalu akurat ketika kondisi ekonomi berubah cepat.

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai hubungan pengangguran dan inflasi tidak selalu konsisten sehingga estimasi NAIRU perlu digunakan secara hati-hati.

NAIRU Bukan Angka yang Bisa Diamati Langsung

Persoalan menjadi semakin kompleks karena NAIRU tidak dapat diamati secara langsung.

Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan model ekonomi dan dapat berubah mengikuti perkembangan struktur perekonomian.

Perubahan teknologi, otomatisasi, produktivitas, kemampuan tenaga kerja, pola pencarian pekerjaan, hingga pergeseran permintaan agregat dapat mengubah tingkat pengangguran yang dianggap konsisten dengan inflasi yang stabil.

Jika estimasi NAIRU ternyata lebih rendah, tingkat pengangguran masih dapat turun lebih jauh tanpa langsung menimbulkan tekanan inflasi yang signifikan.

Artinya, perekonomian dapat menyerap lebih banyak pekerja sebelum menghadapi risiko kenaikan harga yang berlebihan.

IKLAN

Namun, kondisi tersebut juga membuat batas antara pasar tenaga kerja yang sehat dan pasar tenaga kerja yang terlalu panas menjadi semakin sulit ditentukan.

Jika pengangguran bertahan sangat rendah dalam waktu panjang, tekanan terhadap upah dan biaya produksi dapat terakumulasi secara perlahan. Akibatnya, inflasi berpotensi menjadi lebih persisten daripada perkiraan awal.

Indonesia Relatif Terkendali

Di Indonesia, situasinya relatif lebih moderat.

Inflasi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sekitar 2,92 persen, sementara inflasi inti pada Juli 2026 berada di kisaran 2,76 persen.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara pengangguran dan inflasi tidak selalu bekerja dengan pola yang sama di setiap negara.

Struktur pasar tenaga kerja Indonesia berbeda dengan negara-negara maju. Tingginya porsi pekerja informal, kebijakan subsidi energi dan pangan, mekanisme pengendalian harga pemerintah, hingga karakter konsumsi masyarakat turut memengaruhi pembentukan inflasi domestik.

Karena itu, penurunan pengangguran tidak otomatis menyebabkan lonjakan inflasi dengan besaran yang sama seperti yang mungkin terjadi di negara lain.

Meski demikian, Indonesia tetap tidak sepenuhnya terisolasi dari tekanan ekonomi global.

Inflasi dunia yang bertahan tinggi dapat masuk ke perekonomian nasional melalui sejumlah jalur.

Pertama, harga impor. Kenaikan harga komoditas, bahan baku industri, pangan, maupun energi dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan di dalam negeri.

Kedua, nilai tukar dan suku bunga. Ketika suku bunga global tetap tinggi, aliran modal dapat bergerak menuju negara yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Tekanan tersebut dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dan membuat barang impor menjadi lebih mahal.

Ketiga, ekspektasi inflasi. Ketidakpastian ekonomi global dapat memengaruhi perkiraan pelaku usaha dan masyarakat mengenai harga di masa depan.

Jika ekspektasi inflasi meningkat, perilaku penetapan harga dan permintaan kenaikan upah juga dapat berubah.

Pelajaran bagi Pembuat Kebijakan

Perkembangan tersebut memberikan pelajaran penting bagi bank sentral dan pembuat kebijakan.

Pasar tenaga kerja yang sangat ketat dalam waktu panjang dapat membuat inflasi lebih sulit kembali ke sasaran. Ketika upah dan biaya tenaga kerja terus meningkat, sebagian kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan perusahaan kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi.

Namun, kebijakan moneter juga tidak dapat hanya berpatokan pada satu indikator seperti tingkat pengangguran atau estimasi NAIRU.

NAIRU sendiri merupakan angka hasil estimasi yang dapat berubah.

Jika bank sentral terlalu percaya pada estimasi yang ternyata keliru, kebijakan dapat bergerak terlalu jauh ke salah satu arah.

Kenaikan suku bunga yang terlalu agresif berpotensi menekan investasi, konsumsi, dan aktivitas dunia usaha. Sebaliknya, respons yang terlalu lambat dapat membuat tekanan inflasi semakin mengakar.

Karena itu, perkembangan tingkat upah, ekspektasi inflasi, inflasi inti, produktivitas, kondisi pasar tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi perlu dibaca secara bersamaan.

Data upah dapat menggambarkan tingkat ketatnya pasar tenaga kerja sekaligus tekanan biaya terhadap perusahaan.

Ekspektasi inflasi menunjukkan bagaimana masyarakat dan pelaku bisnis memandang perkembangan harga di masa depan.

Sementara itu, inflasi inti membantu membedakan tekanan harga yang berasal dari perubahan sementara pada pangan dan energi dengan tekanan struktural yang lebih persisten.

Pada akhirnya, rekor 58 bulan tingkat pengangguran yang rendah menjadi pengingat bahwa inflasi tidak pernah hanya ditentukan oleh satu angka.

Pergerakan harga terbentuk melalui interaksi kompleks antara pasar tenaga kerja, upah, produktivitas, permintaan, ekspektasi masyarakat, kebijakan pemerintah, dan keputusan bank sentral.

Bagi Indonesia, kondisi inflasi domestik saat ini relatif terkendali. Namun, ketatnya pasar tenaga kerja dan persistennya inflasi di sejumlah negara tetap perlu diperhatikan karena tekanan global dapat merambat melalui perdagangan, nilai tukar, suku bunga, dan biaya produksi.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/58-bulan-pengangguran-rendah-inflasi-dunia-sulit-jinak-apa-artinya-bagi-indonesia/97981/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.19 WITA

  • #Bank Sentral
  • #Pengangguran
  • #ekonomi dunia
  • #inflasi global
  • #inflasi indonesia
  • #kebijakan moneter
  • #nairu
  • #pasar tenaga kerja

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.