CIREBON, JurnalPost.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Telkom University yang diinisiasi oleh Dr. Lusy Mukhlisiana, M.I.Kom. dan Aaz Muhammad Hafidz Azis, S.T., M.T. mengembangkan website Kriya Sitiwinangun sebagai repository digital warisan budaya gerabah di Desa Sitiwinangun, Kabupaten Cirebon (11/06). Program ini digagas untuk menyelamatkan warisan kriya gerabah yang terancam punah akibat terhambatnya regenerasi pengrajin, melalui pendekatan riset partisipatif berbasis komunitas yang memadukan pengumpulan data bersama pengrajin senior, pembangunan platform digital, serta pelatihan pengelolaan konten bagi perangkat desa secara mandiri.
Program yang mengusung tagline “Dari Tanah Menjadi Warisan” merupakan kolaborasi lintas disiplin antara bidang ilmu komunikasi dan rekayasa perangkat lunak, dengan memadukan strategi pelestarian budaya dengan penguasaan teknologi digital.
Desa Sitiwinangun dikenal sebagai salah satu sentra gerabah tertua di wilayah Cirebon. Namun, minat generasi muda untuk meneruskan keahlian mengolah tanah liat menjadi karya bernilai seni terus menurun. Tanpa upaya pendokumentasian yang sistematis, pengetahuan mengenai motif khas, teknik produksi, hingga filosofi di balik setiap karya berisiko hilang seiring berkurangnya jumlah pengrajin senior.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menerapkan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) yang dipadukan dengan kerangka Digital Heritage and Digital Curation. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai mitra aktif dalam setiap tahap kegiatan. Proses diawali dengan pengumpulan data partisipatif bersama pengrajin senior dan sesepuh desa guna menggali pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan.
“Gerabah Sitiwinangun bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas dan memori kolektif masyarakatnya. Dengan mendokumentasikannya secara digital, kami ingin memastikan pengetahuan para pengrajin senior tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Dr. Lusy Mukhlisiana.
Hasil kegiatan menunjukkan website berhasil dikembangkan dengan enam menu navigasi utama. Keenam menu tersebut mendokumentasikan motif khas, teknik produksi, profil pengrajin, serta sejarah desa secara terstruktur sehingga mudah diakses publik luas. Kehadiran repository digital ini diharapkan menjadi rujukan bagi peneliti, pelaku pendidikan, wisatawan, maupun generasi penerus yang ingin mengenal kriya Sitiwinangun lebih dekat.
Tampilan Landing Page Website Kriya Sitiwinangun
“Kami merancang website ini agar mudah dikelola oleh siapa pun, termasuk perangkat desa yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang teknis. Tujuannya jelas, agar warisan ini terus terdokumentasi secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak luar,” jelas Aaz Muhammad Hafidz Azis.
Tidak berhenti pada pembangunan platform, tim juga menyelenggarakan pelatihan pengelolaan konten bagi perangkat desa di Balai Desa Sitiwinangun. Pelatihan dirancang dengan metode learning by doing agar peserta langsung mempraktikkan cara memperbarui dan menambahkan konten. Hasilnya, perangkat desa menunjukkan respons positif dan mampu mengoperasikan fitur pengelolaan konten secara mandiri seusai pelatihan.
Tim Abdimas Telkom University melakukan proses pengambilan data untuk Pengembangan Website Kriya Sitiwinangun
Melalui kegiatan ini, tim Abdimas Telkom University membuktikan bahwa digitalisasi warisan budaya berbasis komunitas merupakan instrumen pelestarian yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan. Keberlanjutan tersebut terjamin karena pengelolaan konten kini sepenuhnya berada di tangan masyarakat desa, menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk menghidupkan warisan, bukan sekadar mengarsipkannya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda