Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Spiritualitas Digital : Menemukan "Khusyuk" di Tengah Hiruk-pikuk Algoritma

Spiritualitas Digital : Menemukan "Khusyuk" di Tengah Hiruk-pikuk Algoritma

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
15 Februari 2026, 21.03 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Spiritualitas Digital
Oleh: Muhamad Qomarudinul Huda, M.Pd.I Dosen STAI Ma’arif Kalirejo Lampung Tengah JurnalPost.com - Di era tahun 2026 ini, batas antara dunia fisik dan digital nyaris pudar. Manusia tidak lagi sekadar "menggunakan" internet, melainkan "hidup" di dalamnya. Setiap hari, rata-rata individu menghabiskan waktu berjam-jam dalam genggaman algoritma yang dirancang secara neurosains untuk memicu dopamin dan ketergantungan. Fenomena ini menciptakan "kebisingan konstan" di dalam pikiran, di mana informasi, tren, dan konflik mengalir tanpa henti ke dalam kesadaran kita. Dalam tradisi Islam, Khusyuk adalah puncak dari kualitas ibadah sebuah kondisi di mana hati hadir sepenuhnya (hudhurul qalb) dan pikiran tunduk secara total kepada Allah. Namun, algoritma media sosial bekerja sebaliknya; ia memecah perhatian kita menjadi fragmen-fragmen kecil yang dangkal. Ketika seseorang terbiasa dengan pola scrolling yang cepat, kemampuan kognitif untuk fokus secara mendalam (deep focus) perlahan melemah. Akibatnya, kekhusyukan dalam shalat atau tadabur Al-Qur'an menjadi barang mewah yang sulit diraih. Kita sering kali hadir secara fisik di atas sajadah, namun pikiran kita masih tertinggal pada utas (thread) Twitter yang baru saja dibaca atau video TikTok yang barusan lewat. Algoritma tidak hanya mencuri waktu, tetapi juga mulai mendikte kondisi emosional dan spiritual. Perasaan syukur sering kali tergerus oleh rasa dengki (hasad) atau merasa kurang (insecure) akibat paparan gaya hidup orang lain yang terkurasi di layar. Jika hati (qalb) terus-menerus disibukkan dengan validasi manusia (like, comment, share), maka ruang untuk mencari rida Allah akan semakin menyempit. Inilah yang kita sebut sebagai "Polusi Visual Digital" yang mengotori kejernihan batin. Kita tidak mungkin kembali ke zaman pra-digital dan menjadi pertapa. Tantangannya bukan tentang membuang teknologi, melainkan bagaimana menundukkan teknologi di bawah kendali iman. Perlu ada rumusan baru mengenai Spiritualitas Digital: sebuah seni menjaga koneksi dengan Sang Khaliq di tengah hiruk-pikuk algoritma. Menemukan kembali "khusyuk" bukan lagi sekadar soal teknik pernapasan atau tempat yang sunyi, melainkan tentang kedaulatan digital kemampuan seorang Muslim untuk berkata "tidak" pada distraksi demi berkata "ya" pada kehadiran Allah. Dunia hari ini tidak pernah benar-benar hening. Di saku kita, ada "kotak pandora" bernama ponsel pintar yang terus-menerus membanjiri indra kita dengan notifikasi, tren terbaru, dan perdebatan tak berujung. Sebagai Muslim yang hidup di era hiper-koneksi ini, kita menghadapi tantangan eksistensial yang baru: Bagaimana menjaga hati tetap terhubung dengan Sang Khaliq ketika perhatian kita terus-menerus dicuri oleh algoritma?
  1. Krisis Perhatian adalah Krisis Spiritual
Dalam Islam, esensi dari ibadah adalah kehadiran hati. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa shalat tanpa kehadiran hati hanyalah gerakan mekanis yang kehilangan nyawa. Namun, riset menunjukkan rentang perhatian (attention span) manusia modern terus menurun. Jika kita terbiasa memindahkan jempol (scrolling) setiap lima detik, jangan heran jika pikiran kita juga "melompat-lompat" saat berdiri di atas sajadah. Kita sedang mengalami apa yang bisa disebut sebagai "Anemia Spiritual" kondisi di mana jiwa kita kekurangan nutrisi karena fokus yang terfragmentasi.
  1. Puasa Digital sebagai Bentuk Jihad Modern
Kita mengenal puasa sebagai menahan lapar dan dahaga. Namun, di era ini, kita perlu memperluas definisi tersebut menjadi Puasa Digital. Ini bukan berarti anti-teknologi, melainkan tentang kedaulatan diri. "Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya..." (HR. Bukhari & Muslim). Di zaman sekarang, "segumpal daging" atau hati itu sangat dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui mata dan telinga kita di media sosial. Jihad kita hari ini adalah berani mematikan notifikasi demi menghidupkan koneksi dengan Allah.
  1. Membangun "Oasis" di Padang Pasir Informasi
Bagaimana cara merebut kembali kedamaian batin kita? Ada tiga langkah praktis yang bisa kita mulai:
  1. Audit Niat Digital: Sebelum mengunggah atau berkomentar, tanyakan: "Apakah ini untuk mencari rida-Nya atau sekadar validasi manusia?"
  2. Zikir sebagai Perisai: Jadikan zikir bukan hanya rutinitas setelah shalat, tapi sebagai jeda sadar di antara perpindahan aplikasi.
  3. Ruang Kedap Gadget: Tetapkan waktu dan tempat di mana ponsel dilarang hadir misalnya satu jam sebelum subuh atau saat berada di meja makan.
Kesimpulan Spiritualitas digital bukanlah tentang melarikan diri dari teknologi, melainkan tentang bagaimana kita menundukkan teknologi di bawah kendali iman. Algoritma mungkin dirancang untuk memecah perhatian kita, namun ia tidak memiliki kuasa atas niat dan tekad yang kuat. Menemukan kembali "khusyuk" di tengah hiruk-pikuk dunia maya adalah jihad intelektual dan spiritual terbesar di abad ini. Intisari Perjalanan Spiritual Digital:
  1. Kesadaran adalah Kunci: Langkah pertama menuju kekhusyukan adalah menyadari bahwa perhatian kita adalah komoditas yang sangat berharga. Jika kita tidak menjaganya untuk Allah, maka dunia akan mencurinya untuk kepentingan komersial.
  2. Teknologi sebagai Pelayan, Bukan Tuhan: Kita harus merebut kembali kedaulatan diri. Jadikan ponsel sebagai alat bantu ibadah seperti mushaf digital atau pengingat waktu shalat—bukan sebagai "berhala modern" yang menyita seluruh emosi dan waktu kita.
  3. Keseimbangan Dinamis: Khusyuk tidak berarti kita harus menjadi pertapa yang anti-sosial. Khusyuk adalah kemampuan untuk tetap "terhubung ke langit" (langit spiritual) meskipun tangan kita sedang menyentuh layar yang sibuk dengan urusan bumi.
Teknologi adalah alat, bukan Tuhan. Jika kita membiarkan algoritma mengatur emosi dan waktu kita, maka kita telah kehilangan kemerdekaan yang diberikan Islam. Mari kita jadikan gadget kita sebagai sajadah, bukan penjara. Saatnya kita kembali "log out" dari hiruk-pikuk dunia maya untuk benar-benar "log in" ke hadirat-Mu.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/spiritualitas-digital-menemukan-khusyuk-di-tengah-hiruk-pikuk-algoritma/90821/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.22 WITA

  • #Opini Dosen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya
  2. 2

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  3. 3

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  4. 4

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  5. 5

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.