- Modul 1: Manajemen Usaha & Keuangan. Fokus utama adalah menanamkan disiplin finansial. Praktik yang berhasil diimplementasikan adalah pemisahan 100% rekening pribadi dan usaha , penggunaan aplikasi pembukuan digital untuk melacak arus kas, serta penyusunan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang akurat untuk memastikan profitabilitas setiap produk.
- Modul 2: Produksi & Operasional. Untuk mengatasi isu skalabilitas, kami menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) visual untuk produk terlaris dan mengimplementasikan checklist Quality Control (QC) di beberapa titik krusial. Langkah ini tidak hanya menjaga konsistensi kualitas tetapi juga menjadi fondasi untuk mendelegasikan tugas di masa depan.
- Modul 3: Pemasaran & Branding Digital. Jangkauan pasar diperluas dengan membuka toko resmi di Tokopedia dan Shopee, melengkapi kanal Instagram yang sudah ada. Pelatihan copywriting dengan formula AIDA dan strategi konten berbasis pilar (edukasi, proses, produk, testimoni) diterapkan untuk meningkatkan interaksi dengan audiens.
- Modul 4: Kewirausahaan & Legalitas Lanjutan. Sertifikat Merek (HKI) yang dimiliki kini dipandang sebagai aset strategis. Kami menyiapkan template Perjanjian Kerja Sama (PKS) sederhana untuk membuka peluang kemitraan dengan reseller atau butik secara profesional.
Sinergi Akademik dan Praktis: Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Universitas Negeri Malang Kembangkan UMKM Batik Lokal
Oleh: Vidya Damayanti (Mahasiswa Pascasarjana Manajemen, Universitas Negeri Malang)
Blitar – Kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal. Sebagai wujud nyata dari pengabdian kepada masyarakat, telah dilaksanakan sebuah program pendampingan intensif yang bertujuan mentransformasi UMKM dari basis perajin menjadi entitas bisnis yang terstruktur dan siap berkembang.
Program ini merupakan bagian dari penerapan ilmu manajemen strategis yang saya lakukan sebagai mahasiswa pascasarjana Manajemen Universitas Negeri Malang (UM), di bawah bimbingan Bapak Dr. Agus Hermawan, Grad.Dip.Mt, M.Si, Mbus dan Bapak Prof. Dr. Agung Winarno, M.M. Mitra yang kami dampingi adalah ASTAGUNAKU (@astgn), sebuah jenama batik asal Blitar yang didirikan oleh Arini Kumalasari.
Mengidentifikasi Permata Tersembunyi
ASTAGUNAKU dipilih bukan tanpa alasan. Jenama ini memiliki fondasi yang luar biasa: legalitas usaha yang lengkap (NIB, NPWP, HKI Merek) dan kompetensi pendiri yang tersertifikasi secara profesional oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi Batik. Namun, seperti banyak UMKM lainnya, potensi besar ini menghadapi tantangan operasional klasik: ketergantungan tinggi pada pendiri, kapasitas produksi yang terbatas, dan sistem manajemen yang belum terstruktur.
Melalui wawancara mendalam dan analisis diagnostik, kami memetakan "Analisis Kebutuhan Inti" dan menyusun "Matriks SWOT" untuk memvisualisasikan posisi strategis ASTAGUNAKU. Dari sini, terlihat jelas bahwa kekuatan utamanya (legalitas dan kompetensi) dapat dimanfaatkan untuk menangkap peluang pasar digital yang berkembang pesat.
Dari Teori ke Aksi: Intervensi Praktis dan Terukur
Berangkat dari analisis tersebut, kami merancang program intervensi berbasis kebutuhan riil yang diterjemahkan ke dalam empat modul pelatihan praktis. Pendekatan ini bertujuan mengubah pola pikir Arini Kumalasari dari seorang perajin menjadi seorang CEO bagi usahanya sendiri.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda