Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Simalakama Ijazah Jokowi dan PDIP

Simalakama Ijazah Jokowi dan PDIP

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
28 Juni 2025, 09.52 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Joko Widodo
Hotman Samosir Oleh: Hotman Samosir Jakarta, JurnalPost.com – Ingar-bingar situasi politik nasional yang masih tegangan tinggi, polemik keaslian ijazah eks presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin mencuat ke permukaan. Polemik ini tidak hanya menyasar kredibilitas pribadi Jokowi, tetapi akan menyeret partai yang mengusungnya selama dua periode, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Pertanyaannya kini berubah dari “Apakah ijazah itu asli?” menjadi, “Jika palsu, siapa yang ikut bertanggung jawab?” Sebagai partai politik (Parpol) pengusung Jokowi pada kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2014 dan 2019, PDI Perjuangan tentu tidak bisa lepas tangan begitu saja dari sorotan dan jangkauan. Pasalnya, keberhasilan Jokowi dua kali merebut singgasana kursi presiden menjadi bagian dari narasi kemenangan partai, sekaligus warisan politik yang kini bisa menjadi bumerang.

Beban Sejarah

Seumpama benar ijazah itu dibuktikan palsu, maka PDI Perjuangan tak bisa sekadar bilang: oh, itu kan urusan pribadi, bukan partai. Sebab mereka yang mengusung, mereka juga harus ikut bertanggung jawab secara politik. Partai sebesar PDIP tentu punya mekanisme verifikasi terhadap calon presiden yang diusung. Jika mekanisme itu diabaikan dan/atau dilakukan setengah hati, maka kelalaian itu bisa menjadi dosa politik yang rigid dimaafkan. Namun di sisi lain, isu ini bisa menjadi momentum koreksi bagi eksistensi PDI Perjuangan. Jika partai berlambang Banteng moncong putih berani menyatakan sikap tegas, misalnya dengan menyatakan bahwa mereka juga menjadi korban dari penyesatan informasi, dan membuka ruang investigasi transparan, maka publik bisa melihat bahwa PDIP bukan bagian dari kebohongan dan konspirasi, melainkan bagian dari solusi. Rakyat bisa memaafkan kesalahan, tetapi tidak akan memaafkan pembiaran dan praktik konspirasi elit. Kalau PDIP mau selamat, mereka harus menunjukkan bahwa mereka lebih besar dari satu tokoh, bahkan dari presiden sekalipun. Dalam konteks dunia sepak bola, haram hukumnya jika ada pemain bintang sekalipun merasa diri dan/atau dianggap lebih besar dari klub besar dan penuh sejarah, kecuali klub "ayam sayur". Demikian juga dalam partai politik besar. Benar dalam politik, tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Secara politik, PDI Perjuangan sedang berada di titik kritis. Hubungan partai dengan Jokowi memang telah di titik nadir sejak Pilpres 2024, di mana Jokowi yang dulu disebut "petugas partai" kini dilabeli "penghianat partai" dan justru memberikan restu politik kepada Prabowo Subianto dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, alih-alih mendukung pasangan calon Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang diusung resmi oleh PDIP. Ketegangan itu bisa menjadi alasan kuat bagi PDIP untuk memutuskan garis politik dengan Jokowi. Bilamana isu ijazah palsu terbukti benar, maka PDIP bisa menggunakan itu sebagai dasar “pembersihan sejarah”, melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi menuju wajah baru Pemilu 2029, dan menguasai kembali lumbung suara yang lepas karena figur Solo, terutama di Jawa Tengah.

Pertaruhan Politik 2029

Berangkat dari analisis prediktif, bilamana PDI Perjuangan mengambil langkah cepat dan tegas, mereka masih bisa menyelamatkan elektabilitas jangka panjang. Sebaliknya, jika terjebak dalam posisi abu-abu (dua kaki) dan ambigu, tidak membela, tetapi juga tidak mengkritik, mereka bisa kehilangan simpati dari dua kelompok sekaligus, yakni loyalis Jokowi dan pemilih rasional. Dampaknya akan langsung terasa terutama dalam kancah kontestasi Pemilu 2029. Jika PDIP berhasil menata ulang formatur dan narasi, membawa wajah baru seperti Pramono Anung, Ganjar Pranowo, Ahok BTP, Eri Cahyadi atau Puan Maharani, serta menunjukkan komitmen pada transparansi dan integritas, maka partai ini masih bisa tampil sebagai kekuatan poros utama. Tetapi jika tidak, mereka bisa menjadi bahan lelucon oleh publik dan koalisi gemuk yang lebih mayoritas. Tidak bisa dipungkiri, pergerakan politik Indonesia saat ini mengalami pergeseran signifikan. Rakyat sudah semakin melek informasi dan literasi. Sekali partai terbukti membiarkan kebohongan besar, mereka akan sangat sulit dipercaya kembali. PDIP harus selektif dalam menententukan arah, mau dibawa ke mana masa depan partai. Krisis ini menjadi pengingat keras bahwa partai politik tak hanya dituntut menang Pemilu atau Pilkada, tetapi juga mempertahankan legitimasi moral. PDIP masih punya waktu dan sumber daya yang mumpuni untuk melakukan koreksi dan evaluasi, tetapi sejarah mencatat, banyak partai besar runtuh bukan karena kalah di Pemilu, melainkan karena gagal menjaga kepercayaan loyalis akar rumput dan publik. PDI Perjuangan sedang berada di persimpangan jalan dan sejarah. Mereka bisa memilih menjadi partai besar yang berani melakukan koreksi diri dan membangun masa depan baru, atau terjebak dalam masa lalu yang penuh amoral politik, kebohongan dan kehilangan relevansi. Pilihan ada di tangan sang Banteng, tetapi waktu terus berjalan, dan loyalis atau publik kini menonton bola politik dengan penuh kewaspadaan. PDI Perjuangan harus menentukan langkah, tetap menjadi partai besar penuh sejarah atau tinggal sejarah. Mari kita tunggu! Penulis: Aktivis Hukum, Pemilu dan Demokrasi, Alumnus FH Katolik Santo Thomas.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/simalakama-ijazah-jokowi-dan-pdip/82909/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.40 WITA

  • #Ijazah Jokowi
  • #Joko Widodo
  • #PDIP

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.