JurnalPost.com - Makassar, yaitu kota saya berasal sangat lekat dengan kata senioritas. Sudah tidak asing untuk senioritas berlangsung di segala sektor mulai dari pendidikan, kerja, dan masih banyak lagi. Selain itu, senioritas pun sudah diajarkan turun-temurun hingga dapat disebut sebagai bagian dari budaya daerah sini. Sudah dinormalisasi bahwa semua harus tunduk pada yang berkuasa layaknya mereka harus menutup mata dan membiarkan yang berkuasa menuntun mereka. Masalah yang merajalela ialah, walaupun mereka menggunakan kekuatan mereka sembarangan, tetapi orang lain selalu mengalihkan pandangan karena yang berkuasa dianggap selalu benar. Tidak ada check and balance terhadap yang memiliki kuasa.
Inilah masalah utama yang kerap terjadi di sekolah-sekolah di kota Makassar. Senioritas sudah menjadi budaya yang diajarkan turun-temurun, senior memperlakukan junior seenaknya hingga banyak memakan korban. Namun, mengapa senioritas masih dijunjung tinggi? entah mengapa isu senioritas selalu dianggap hal lumrah. Yang protes dianggap mentalnya lemah dan semua dipaksa untuk mengikuti siklus tersebut. Walaupun telah memakan korban nyawa, entah mengapa khalayak umum kerap menganggap sepele. Sehingga, di sekolah-sekolah junior selalu diperlakukan tidak lazim dan para junior terpaksa menganggap hal itu normal. Ketika momen itu terjadi, maka siklus ini tidak akan putus. Hal yang krusial adalah butuhnya kesadaran bahwa senioritas tidak membawa manfaat yang krusial dalam pendidikan. Senioritas tidak membuat pelajar semakin terdidik tetapi malah sebaliknya. Senioritas tidak membuat pelajar berprestasi, bahkan kadang malah menghambat pelajar untuk ingin berprestasi. Banyak hal-hal yang datang dari senioritas yang justru membuat tingkat pendidikan semakin terbelakang.
Siklus senioritas ini dimulai ketika para senior memperlakukan junior secara tidak layak lalu mengeluarkan justifikasi yang tidak masuk akal, seperti “ini untuk melatih mental kalian” atau “ini agar kalian tidak kaget dengan dunia yang sebenarnya” dan masih banyak lagi. Padahal, yang mereka lakukan hanyalah memperbudak dan menjahili junior mereka dengan tujuan hiburan mereka sendiri dan tidak ada aspek yang edukatif. Mereka memaksa untuk diperlakukan layaknya Tuhan dan menghukum junior yang melanggar aturan yang tidak masuk akal tersebut.
Banyak aturan yang malah menyusahkan dan membuat junior tidak dapat mendapatkan hak yang telah dijanjikan, seperti tidak boleh melewati koridor tertentu, tidak boleh menggunakan fasilitas kantin, dan masih banyak lagi. Hal ini sangatlah lumrah di kota Makassar, bahkan mengetahui hal tersebut para Guru dan Staf masih saja membiarkan. Sehingga, para junior harus melewati banyak rintangan dan banyak naratif yang menghasut mereka untuk menormalisasi hal tersebut. Hal yang fatal adalah ketika mereka yang menjadi korban tidak melakukan perlawanan dan sebaliknya, menormalisasi hal tersebut dan tetap menjalani masa sekolah seperti biasa. Yang terjadi adalah banyak naratif yang tersebar untuk para junior bahwa mereka harus tetap sabar karena mereka akan menjadi senior dua atau satu tahun kedepan. Ketika naratif tersebut ter-integrasi terhadap pribadi para junior, dendam yang ingin mereka lampiaskan terhadap senior mereka, akan mereka lampiaskan pada junior mereka kelak dengan justifikasi bahwa dahulunya mereka juga diperlakukan tidak lazim oleh senior mereka sehingga para junior mereka kelak harus melewati apa yang mereka lewati.
Sebab banyaknya naratif dan dorongan untuk menganggap senioritas itu normal, korban yang ingin melawan senioritas kerap dianggap gila dan tidak masuk akal sehingga sesama korban terpecah terhadap dua kubu. Ada yang tidak ingin melakukan aksi perlawanan karena mereka takut akan konsekuensinya, dan ada yang sudah muak dan ingin melakukan aksi. Namun, mayoritas korban sudah terbiasa dan sangat takut terhadap senior, sehingga korban yang ingin melakukan aksi perlawanan malah dikecam oleh teman mereka sendiri. Hal inilah yang membuat siklus ini tidak pernah putus. Bahkan, bukan hanya para pelajar yang memiliki aspek senioritas, melainkan juga pada guru pun nilai senioritas sudah lama diaplikasikan. Guru yang lebih senior bisa melakukan hal yang tidak bermoral dan tidak bermutu, tetapi guru lain harus tunduk dan tidak boleh melawan. Banyaknya miskonsepsi yang menyamakan kata menghormati dengan senioritas yang berlangsung, padahal hal tersebut tentulah berbeda. Nilai-nilai yang harusnya diajarkan dan diaplikasikan di sektor pendidikan sudah luntur dan pendidikan di kota tersebut waktu ke waktu malah mengalami kemunduran. Pelajar dan pengajar di Makassar sudah tidak menjunjung pembelajaran dan pendidikan, tetapi sebaliknya mereka hanya ingin memenuhi keinginan pribadi dengan nilai-nilai yang tidak pantas untuk diaplikasikan.
Hal krusial yang dibutuhkan untuk mematahkan siklus ini adalah butuhnya re-integrasi nilai-nilai moral yang dibutuhkan pada aspek pendidikan, butuhnya pembelajaran akan apa yang lazim dan apa yang tidak lazim. Sangat penting untuk adanya dorongan terutama pada korban untuk adanya aspek perlawanan walaupun itu terhadap senior mereka, bila mereka melakukan hal yang sudah diluar batas. Adanya perlawanan dan adanya pertidak setujuan tidak harus selalu secara mentah ditolak, tetapi harus diperdalam dan dilakukan diskusi. Diskusi dan komunikasi sangatlah penting untuk mendapatkan solusi, sebab tanpa diskusi maka stigma-stigma yang merajalela tidak akan runtuh dan akan memakan banyak korban lainnya.
Dibutuhkan aspek keterbukaan sehingga tidak ada dendam dan dibutuhkan juga untuk mendengar segala sisi agar dapat memperoleh persatuan. Persatuan untuk mendorong maju pendidikan di Makassar dengan melawan stigma yang merugikan aspek belajar dan mengajar. Segala hal tersebut bisa dicapai dengan memiliki kesadaran lebih akan apa yang lazim dan bermanfaat pada aspek pendidikan, dan semua dimulai dari pribadi sendiri dengan melakukan evaluasi. Sehingga kita dapat mencapai tingkat pendidikan yang terbaik dimana semua pelajar mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dan merata tanpa memperhatikan umur, melainkan memperhatikan kepentingan bersama. Hal yang harus selalu diperhatikan ialah, senioritas dan abuse of power bukanlah budaya yang pantas untuk dilanjutkan terutama di sektor pendidikan dan sudah saatnya untuk menjauh dari keterbelakangan dan mengejar masa depan yang lebih baik.
Oleh: Ryzadi Hertasning
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda