Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Sekolah Namun Tak Belajar

Sekolah Namun Tak Belajar

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
25 Mei 2023, 19.59 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Sekolah Namun Tak Belajar
JurnalPost.com - Sekolah dalam konteks pendidikan merupakan lembaga dimana seseorang distimulasi untuk berpikir lebih luas tentang hidupnya sendiri. Tak hanya sekedar bangun, makan, bersenda gurau, serta selalu mengikuti arus hiruk-pikuk kerumitan dunia. Namun juga dituntut sadar akan hakikat kebergunaaan di dunia. Tak hanya diajarkan bagaimana bertahan hidup untuk hidup, namun juga diajarkan tentang bagaimana bertahan hidup untuk menghidupi. Di sisi lain, dalam konteks sosio-ekonomi, sekolah menjadi sarana untuk menaikkan derajat hidup dengan alur mulai dari sekolah, mendapat nilai bagus, belajar di institusi pendidikan ternama, hingga mendapatkan pekerjaan ideal. Asumsi tersebut berdasarkan pada pola pikir mayoritas penduduk Indonesia yang beranggapan bahwa bersekolah dapat menjadi sarana mobilitas vertical untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pada sisi yang lain, asumsi dan angan-angan tersebut dibenturkan dengan realita masyarakat yang berbeda. Sebagai gambaran kepala Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek) menyatakan bahwa setiap tahun sekitar 1,7 mahasiswa jenjang sarjana lulus. Sedangkan menurut database Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 hampir satu juta sarjana menganggur. Artinya hanya sekitar 700 ribu sarjana yang diserap oleh lapangan pekerjaan. Jika berkaca dengan realita tersebut, maka akan ada dua kemungkinan. Pertama, problem terletak pada setiap personal yang mengenyam pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini peserta didiklah yang memang kurang maksimal dalam memanfaatkan fasilitas atau mediator belajar, yaitu sekolah. Kedua, problem bersumber pada system Pendidikan, baik dari hulu maupun hilir. System Pendidikan yang buruk maka secara langsung akan berdampak pada kefektifan pembelajaran.

Pendidikan Di Masa Penjajahan

Belanda mulai membangun sekolah atau institusi Pendidikan pada kisaran akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 sebagai implikasi dari politik balas budi yang dilakukan oleh Belanda kepada pribumi Indonesia. Sejak saat itu babak Pendidikan modern Indonesia dimulai. Meskipun pada prakteknya masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan antara kaum londo (Belanda) serta priyayi dengan pribumi rakyat biasa. Namun, pada dasarnya penjajah tetaplah penjajah. Berbagai macam institusi Pendidikan dibangun tak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan industri. Tuntutan industri yang semakin berkembang, membutuhkan para pekerja yang lebih berkompeten. Sehingga sekolah menjadi solusi yang paling mudah. Maka di sekolah Belanda mereka diajarkan berbagai macam ilmu yang berkorelasi dengan kebutuhan industry sehingga harapannya setelah selesai sekolah para murid sudah siap kerja. Sisi baiknya, pribumi yang sudah terdidik mulai memahami bahwa system Pendidikan yang diadakan Belanda tidaklah mencerminkan nilai luhur bangsa Indonesia. Maka berubahlah bentuk perlawanan bangsa Indonesia dari peperangan fisik menjadi peperangan ideologi dan persepsi. Banyak bermunculan organisasi pergerakan di awal tahun 1900an beserta dengan Lembaga pendidikannya, seperti Muhammadiyah dengan sekolah modern berbasis islamnya, NU dengan perkembangan pesatrennya, Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya. Seluruh Lembaga Pendidikan tersebut pada dasarnya hanya ingin mengadakan Pendidikan yang sesuai dengan kultur budaya, serta nilai dan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Pendidikan Pesantren

Jauh sebelum munculnya Pendidikan modern yang dibawa oleh kaum barat, di Nusantara telah berdiri intitusi Pendidikan yang disebut sebagai pesantren. Tanpa memihak salah satu agama, namun dalam sejarah pesantrenlah yang menjadi lembaga pendidikan paling sukses di masanya, bahkan hingga saat ini. Pesantren menjadi model Pendidikan khas Nusantara yang memiliki corak keislaman yang kental. Pada dasarnya, pesantren didirikan di tengah masyarakat semata-mata menjadi pusat pendidikan yang dapat mencerahkan serta mengangkat kebodohan yang ada di antara mereka. Dari masa ke masa, pesantren diwariskan mulai dari para sunan pendakwah islam di tanah jawa hingga para kyai yang masing-masing memegang pesantren di daerahnya. Salah satu hasil dari keberhasilan metode Pendidikan pesantren adalah ketika kaum barat mulai menjajah Indonesia, kaum santri lah yang melakukan banyak perlawanan. Hingga saat ini pesantren masih dinilai sebagai Lembaga Pendidikan terbaik dalam menjaga nilai keislaman serta nilai luhur bangsa Indonesia.

Pendidikan Masa Kini

Ketika berkaca dari alur historis bentuk Pendidikan Indonesia, maka teranglah sudah Pendidikan seperti apa yang sebenarnya diperlukan di Indonesia. Inti dari Pendidikan adalah belajar, maka jika siswa belajar di sekolah namun yang ia dapat hanya ijazah maka bisa dikatakan siswa tersebut tidak pandai dalam belajar. Namun, jika yang terjadi adalah jumlah siswa yang seperti itu sangat banyak, bahkan bisa dikatakan mayoritas apakah itu bisa dikatakan juga sebagai kesalahan dari si murid tersebut. Jika Pendidikan saat ini menjadikan dan mengarahkan para siswanya hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, maka apa bedanya Pendidikan masa kini dengan Pendidikan masa colonial. Pada masa tersebut para siswanya sengaja diarahkan untuk menjadi pekerja yang melengkapi sumber daya manusia yang dibutuhkan, dan hal tersebut tak ubahnya sama dengan hari ini. Maka tidak heran jika banyak siswa mengaku belajar banyak hal namun sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali yang ia pahami bahkan ia aplikasikan di dalam kehidupannya. Padahal telah jelas sudah bahwa tujuan Pendidikan adalah mencerdaskan bangsa yang tak hanya cerdas secara kognitif namun juga terdidik secara moral. Sebab muara dari Pendidikan sebenarnya tak sedangkal hanya untuk mencari pekerjaan. Adanya Pendidikan agar manusia dapat memahami jati dirinya dan untuk apa ia hidup di dunia. Manusia dapat dikatakan sebagai hewan yang dapat berpikir. Jika tak ada pendidikan, maka manusia tak ubahnya seperti hewan. Maka merubah orientasi belajar bahkan lebih luas lagi yaitu Pendidikan sangatlah penting. Sebab jika hal ini tidak dilakukan. Maka di masa dating, akan ada banyak manusia yang berpola piker rendah serta moral yang tak terarah. Oleh: NAUFAL ZAKY ELHASAN, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/sekolah-namun-tak-belajar/50285/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 13.54 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur

Dari Watchdog menjadi Trusted Advisor: Peran Baru Inspektorat Daerah sebagai APIP dalam Mengawal Kebijakan dan Tata Kelola Daerah

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Pilihan Editor

  1. 1 Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur
  2. 2

    Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  3. 3

    Poltekkes Kemenkes Jakarta II Latih Kader Kesehatan Pancoran Jadi Agen Edukasi Gigi Tiruan

  4. 4

    Kisah Nasabah BRI di Bojonegoro, Pedagang Sayur Raup Omzet Rp10 Juta hingga Berhasil Kuliahkan Anak di ITS Surabaya

  5. 5

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.