Sekolah Namun Tak Belajar
JurnalPost.com - Sekolah dalam konteks pendidikan merupakan lembaga dimana seseorang distimulasi untuk berpikir lebih luas tentang hidupnya sendiri. Tak hanya sekedar bangun, makan, bersenda gurau, serta selalu mengikuti arus hiruk-pikuk kerumitan dunia. Namun juga dituntut sadar akan hakikat kebergunaaan di dunia. Tak hanya diajarkan bagaimana bertahan hidup untuk hidup, namun juga diajarkan tentang bagaimana bertahan hidup untuk menghidupi.
Di sisi lain, dalam konteks sosio-ekonomi, sekolah menjadi sarana untuk menaikkan derajat hidup dengan alur mulai dari sekolah, mendapat nilai bagus, belajar di institusi pendidikan ternama, hingga mendapatkan pekerjaan ideal. Asumsi tersebut berdasarkan pada pola pikir mayoritas penduduk Indonesia yang beranggapan bahwa bersekolah dapat menjadi sarana mobilitas vertical untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Pada sisi yang lain, asumsi dan angan-angan tersebut dibenturkan dengan realita masyarakat yang berbeda. Sebagai gambaran kepala Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek) menyatakan bahwa setiap tahun sekitar 1,7 mahasiswa jenjang sarjana lulus. Sedangkan menurut database Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 hampir satu juta sarjana menganggur. Artinya hanya sekitar 700 ribu sarjana yang diserap oleh lapangan pekerjaan.
Jika berkaca dengan realita tersebut, maka akan ada dua kemungkinan. Pertama, problem terletak pada setiap personal yang mengenyam pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini peserta didiklah yang memang kurang maksimal dalam memanfaatkan fasilitas atau mediator belajar, yaitu sekolah. Kedua, problem bersumber pada system Pendidikan, baik dari hulu maupun hilir. System Pendidikan yang buruk maka secara langsung akan berdampak pada kefektifan pembelajaran.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda