JurnalPost.com - Tepat saat jarum jam menunjuk pukul empat sore, gelombang hangat aroma kaldu ayam yang gurih langsung menyergap. Memasuki Wang Pangsit, pelanggan dihadapkan pada menu yang memiliki banyak varian pangsit mulai dari pangsit goreng mozarella (wang mozza) yang renyah hingga pangsit kuah yang menggoda, menawarkan pilihan yang membuat mata dan lidah penasaran. Di balik hiruk- pikuk pesanan online tampak Archie Galoeh Pamungkas, sang pemilik, sibuk mengamati pekerjanya meracik hidangan. Dengan gerakan cepat dan teliti, ia memastikan setiap isian pangsit memiliki porsi sempurna,sebuah konsistensi yang ia jaga sejak merintis usaha kuliner aneka pangsit ini pada Agustus 2020 silam.
Archie Galoeh Pamungkas adalah pemilik usaha kuliner Wang Pangsit yang dikenal sebagai pribadi ramah, teliti, dan selalu memperhatikan kualitas setiap menu yang ia buat. Latar belakang pendidikannya di bidang gizi dari Universitas Respati Yogyakarta membuatnya semakin paham bagaimana mengolah makanan yang tidak hanya enak, tetapi juga aman dan pas rasanya. Ketertarikannya membuka usaha ini muncul dari hobinya memasak serta keinginannya menghadirkan pilihan makanan yang variatif dan tetap terjangkau. Ia menjalankan usahanya bersama tiga orang pekerja yang membantu proses produksi hingga pelayanan. Keunikan Wang Pangsit terlihat dari cita rasa khas yang membuat pelanggan mudah mengingat produknya, terutama menu best seller mereka, Wang Mozza, yang terkenal dengan keju mozzarellanya yang lumer dan cocok dengan selera anak muda. Berkat kualitas rasa dan harga yang ramah di kantong, usaha ini terus diminati dan berkembang hingga sekarang.
Tantangan terberat yang dihadapi Archie sang pemilik, datang bukan dari pesaing, melainkan dari lingkungan dan cuaca di lokasi awal berjualan. Tempatnya yang lama seringkali tak bersahabat jika hujan deras yang memaksa dagangannya harus tutup lebih cepat. Akhirnya, Archie mengambil keputusan berani untuk memindahkan seluruh usahanya di kediaman sendiri. Beruntung adanya loyalitas pelanggan tetap menjadi sasaran utama untuk memanfaatkan platform layanan pesan antar makanan daring (online food) sehingga langkah yang diambil oleh Archie menjadi sangat strategis dan tetap berjalan. “keputusan pindah ke rumah bukan akhir dari masalah,tapi justru solusi jitu”, kata Archie dengan mata berbinar. “sekarang hujan badai sekalipun dapur kami tetap mengebul karena pesanan datang dari mana mana. Namun, tantangan terberat tetap kenaikan harga terutama ayam. ’Kalau harga naik terus, bagaimana?’ itu yang selalu saya tanya pada diri sendiri. Jawabanya cuma satu “tetaplah jujur pada bumbu, tetap jujur pada pelanggan.lebih baik sedikit rugi sesekali daripada kehilangan kepercayaan mereka.”
Dalam menjalankan usaha ini, Archie tetap memegang prinsip untuk bersikap jujur, mau belajar, dan tidak mudah mengeluh sebagai kriteria penting dalam memilih pegawai, yang pada akhirnya membentuk budaya kerja. Nilai dan kebiasaan kerja yang paling ditekankan adalah saling menghormati dan berbicara secara halus untuk menciptakan suasana rukun. Selain itu, Archie juga menerapkan kebiasaan untuk selalu menyapa pelanggan duluan sebagai bentuk keramahan, serta segera mengganti pesanan yang salah sebagai bentuk tanggung jawab. Hubungan dengan pelanggan yang dibangun melalui pendekatan personal akan membuat mereka merasa dihargai, terbukti dari banyaknya pelanggan yang kembali. Archie melakukan pendekatan ini dengan membiasakan mengobrol ringan dan bersikap santai saat melayani. Sementara itu, hubungan dengan karyawan ditekankan pada saling membantu satu sama lain agar pekerjaan berjalan lancar, pegawai betah, dan pelanggan merasa nyaman. Kemudian, untuk mengatasi masalah dan menjaga suasana kerja tetap baik, Archie selalu melakukan kegiatan "mengobrol dan evaluasi" pegawai setelah jam tutup. Hal ini dilakukan agar masalah tidak di pendam melainkan dapat diselesaikan secara kekeluargaan, sehingga menciptakan suasana kerja yang baik dan berdampak positif bagi pelanggan.
Dari perjalanan usaha yang dimulai sejak Agustus 2020 ini, kita dapat menarik benang merah bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari angka penjualan, tetapi dari kualitas hubungan. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti menyapa pelanggan duluan dan "saling bantu satu sama lain" di internal. Ini telah menciptakan atmosfer kerja yang nyaman, berdampak langsung pada minimnya kesalah pahaman dan loyalitas pelanggan yang tinggi. Pengakuan bahwa banyak pelanggan kembali karena merasa "dihargai" menjadi bukti nyata betapa pentingnya pelayanan tulus di atas segalanya. Melihat ke depan, pemilik usaha, Archie Galoeh Pamungkas, menyimpan cita-cita mulia. mereka berharap usaha ini tidak hanya stabil, tetapi juga menjadi sarana bagi para pegawainya untuk ikut berkembang. Harapan ini bermuara pada satu tujuan yaitu agar usaha semakin maju, dikenal luas, dan mampu memberikan manfaat kepada banyak orang. Sebagai refleksi, pesan moral yang ditekankan bagi para calon wirausahawan sangatlah mendalam "Semangat, jangan gampang nyerah." Pesan ini mengingatkan bahwa memulai usaha dengan segala fluktuasi naik dan turunnya membutuhkan konsistensi dan keberanian untuk melangkah. Pada akhirnya, perjalanan usaha itu seperti menapaki jalan panjang yang penuh kejutan ada saat kita melaju, ada pula saat kita tersandung. Tapi dari setiap langkah, kita selalu belajar. Seperti kata Archie selaku owner “semangat, jangan gampang nyerah soalnya kalau mulai usaha dari nol jelas naik turunnya, kalau nggak konsisten bakal bangkrut.”
Penulis : Risti Indartiana, Keke Andistia, Nabila Vinistia , Anellia, Icha Rizqi Royani, Melky Saputra dan Ignatius Soni Kurniawan (Program Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda